Meski Dilanda Kemarau, Stok Pangan di Kabupaten Ciamis Masih Aman

Rabu, 20 November 2019 19:17 Clara Aditia Daerah

Meski Dilanda Kemarau, Stok Pangan di Kabupaten Ciamis Masih Aman


Koropak.co.id - Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, H. Tauhidin, S.PKP menuturkan stok pangan di Kabupaten Ciamis masih mencukupi hingga 4 bulan mendatang.

Hal itu disampaikan Tauhidin kepada Koropak selepas memberikan paparan dalam kegiatan Pertemuan Evaluasi Lumbung Pangan Masyarakat Tingkat Kabupaten Ciamis Tahun 2019 yang digelar di Aula Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Jalan Lembur Situ Nomor 44 Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (20/11/2019).

"Kami mengimbau lumbung pangan agar tetap berjalan aktif dan selalu tersedia stok di masing-masing lumbung. Dalam evaluasi ini, kami pun menyerap berbagai keluhan petani, salah satunya harga padi yang bersaing dengan tengkulak. Kami sudah berikan solusinya, salah satunya menata kembali pengurus lumbung," katanya.

Musim kemarau panjang kemarin, ucap Tauhidin, turut mempengaruhi pemenuhan lumbung pangan di Kabupaten Ciamis karena para petani tidak bisa panen. Namun meskipun produktivitas padi berkurang, cadangan pangan tetap aman karena masih ada stok lama, yang mencukupi 2-3 bulan mendatang.

"Diharapkan Desember 2019 para petani sudah bisa tanam lagi, sehingga April 2020 sudah bisa panen dan kembali memenuhi stok di lumbung pangan," katanya.

 

Koropak.co.id - Meski Dilanda Kemarau, Stok Pangan di Kabupaten Ciamis Masih Aman (2)

 

Sementara itu, narasumber sekaligus Dekan Fakultas Pertanian Universitas Galuh Ciamis, Dr. drh. Agus Yuniawan Isyanto, M.P pertemuan tersebut menjadi media komunikasi dan diskusi guna mengevaluasi kinerja lumbung pangan di Ciamis.

"Para peserta yang hadir kan merupakan para Ketua Lumbung Pangan. Kita serap apa saja yang menjadi keluhan, terutama faktor-faktor yang menghambat produktivitas pemenuhan stok pangan. Termasuk AD/ART yang belum dilaksanakan pengurus lumbung pangan dengan baik," katanya.

Dari kegiatan evaluasi ini, kata Agus, ada kesepahaman bersama bahwa permasalahan-permasalahan yang mengemuka akan dieliminasi. Tujuannya menjadikan lumbung sebagai penyangga (buffer) cadangan pangan bisa tercapai, pendapatan petani meningkat, dan bermuara pada tumbuhnya kesejahteraan di kalangan petani.*