Saksi Merugikan Negara Tidak Dijadikan Tersangka

Rabu, 18 Desember 2019 22:39 D. Farhan Kamil Daerah

Saksi Merugikan Negara Tidak Dijadikan Tersangka

 

Koropak.co.id - Rizky Rizgantara, kuasa hukum H Dede Suryaman alias Dede Deudeul terdakwa kasus korupsi proyek Jalan Ciawi-Singaparna (Cisinga) Kabupaten Tasikmalaya, menilai banyak kejanggalan dalam persidangan kasus korupsi proyek Cisinga yang digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Rabu (18/12/2019).

Kejanggalan yang kentara yakni, ada orang yang terlibat dalam kasus korupsi dan merugikan negara, tetapi tidak dijadikan tersangka.

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim Muhammad Razad dengan agenda pembacaan dakwaan terhadap lima terdakwa itu, Rizky Rizgantara mempertanyakan status Endang Rukanda alias Endang Kodok yang hingga kini tidak dijadikan tersangka. Padahal didakwaan, Endang Kodok ini sama-sama menerima uang proyek jembatan Jalan Cisinga.

Rizky menyebutkan, jika melihat isi dakwaan yang dibacakan JPU melalui jaksa Erwin, bahwa kerugian negara itu dinikmati oleh tiga orang, yakni Dede Suryaman alias Dede Deudeul, H Iik Purkon alias H. Islam dan Endang Rukanda alias Endang Kodok.

”Kenyataannya, hingga kini Endang Kodok statusnya masih saksi. Padahal dia yang memberikan bendera perusahaan kepada Dede Dedeul dan H Islam. Artinya ini ada kesamaan peran, sama-sama menikmati kerugian negara. Anehnya dia tidak dijadikan tersangka,” ujarnya

 

Koropak.co.id - Saksi Merugikan Negara Tidak Dijadikan Tersangka (2)

 

Seperti diketahui, JPU Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar, Asep Saeful Bachri yang dibacakan jaksa Erwin, mendakwa mantan Kadis PUPR Kabupaten Tasikmalaya Bambang Alamsyah, PPK Rita Rosfiany, dan tim teknis Moch Mamik Fuadi, serta dua unsur swasta yakni H Dede Suryaman alias Dede Deudeul dan H Iik Purkon alias H Islam melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan negara sebesar Rp 4,2 miliar.

Dalam dakwaannya, uang hasil dugaan korupsi pembangunan jembatan Cisinga itu dinikmati tiga orang, yakni H Dede Suryaman sebesar Rp 826 juta lebih, H Iik Purkon Rp 2,8 miliar dan Endang Kodok Rp 278 juta.

"Endang Kodok ini sama-sama kontraktor, bahkan memberikan bendera perusahaannya, tetapi hingga kini statusnya masih saksi. Ada apa dibalik semua ini,” ucapnya.

Selain itu lanjut Rizky, dalam dakwaan yang diajukan oleh jaksa terhadap kliennya terdapat beberapa kejanggalan. Sehingga dengan kondisi seperti ini, Dede Deudeul akan mengajukan eksepsi, sekaligus melalui eksepsi ini menjadi pesan kepada majelis, bahwa pihaknya akan memperjuangkan keadilan untuk kliennya.

Hal senada diutarakan kuasa hukum Bambang Alamsyah, R Aji Oktario. Menurutnya dalam dakwaan jaksa ada tiga orang yang menikmati kerugian negara terkait perkara ini. Tetapi salah satunya (Endang Kodok) tidak jadi tersangka.

"Secara hukum seharusnya sama seperti dua terdakwa lainnya. Ini jadi tanda tanya besar bagi kami, namanya muncul dan menerima uang dalam dakwaan, tetapi tidak dijadikan tersangka,” kata R Aji.

 

Baca : Tersangka Korupsi Jalan Cisinga Tasikmalaya Akhirnya Ditahan

 

Disebutkan, jika memang yang bersangkutan sudah mengembalikan kerugian negara, hal itu tetap tidak menghapus perbuatan pidananya. Dan semua itu sudah jelas tercantum dalam KUHAP.

"Karena kejanggalan kejanggalan itulah, semua terdakwa melalui pengacara masing-masing, mengajukan eksepsi bantahan terhadap dakwaan JPU Kejati Jabar," ujarnya.

Kejanggalan lainnya lanjut dia, uraian di dakwaan primair, dicampur adukan dengan dakwaan subsidair. Sementara di sisi lain, sebelum tender dimenangkan oleh perusahaan Endang Kodok, antara H Dede Deudeul dan H Iik sudah ada kesepakatan akan memakai perusahaan Endang Kodok.

”Pandangan saya, dari awal ini semacam ada konspirasi dan niat jahat. Artinya perusahaan ini akan digunakan tender, tetapi yang memakai orang lain,” tuturnya.

Akhirnya, sidang yang dipimpin M Razad ditunda hingga 8 Januari 2020, dengan agenda pembacaan eksepsi*

 

Baca pula : Korupsi Cisinga Tasikmalaya, Kejati Jabar Segera Limpahkan Berkas