BPRS Al-Madinah Mesti Mampu Rebut Pasar Dengan Tujuh P

Kamis, 16 Januari 2020 00:07 Clara Aditia Daerah

BPRS Al-Madinah Mesti Mampu Rebut Pasar Dengan Tujuh P

 

Koropak.co.id - Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi Gerindra, H. Murjani SE menuturkan dalam kegiatan Focus Group Discussion Sosialisasi Rencana Bisnis Bank (RBB) Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Al-Madinah yang digelar di Favehotel Tasikmalaya, Rabu (15/1/2020), sebagai Keynote Speaker, dia memaparkan strategi marketing merebut pasar di tengah era digitalisasi.

"Dalam marketing ada beberapa yang harus kita kupas. Misalnya strategi empat P. Jika dalam market produk, empat P tersebut adalah product, place, price, dan promotion. Maka dalam sektor jasa seperti BPRS Al-Madinah, ada tiga P tambahan, yakni people, physical evidence, dan process," katanya.

Dikatakan Murjani, itu adalah kunci sukses meraih pasar. Ada produk, ada tempat, ada harga, dan ada promosi. Diperkuat dengan adanya SDM yang mumpuni, bukti fisik, dan terpenting proses.

"Pada kenyataannya, suruh bikin promosi selalu berpikirannya masalah budget. Padahal jika membuka mindset, promo tidak selalu keluar biaya, bisa dikerjasamakan dengan pihak lain. Oleh sebab itu tadi saya berikan masukan dan contoh mulai dari teori, hingga contoh riil di lapangan," ucap Murjani yang merupakan praktisi bisnis serta magister marketing yang sudah berpengalaman selama 30 tahun itu.

 

 

Koropak.co.id - BPRS Al-Madinah Mesti Mampu Rebut Pasar Dengan Tujuh P

 

Baca : BPRS Al-Madinah Mesti Siap Bersaing Dengan Perusahaan Finance

 

Sebagai daya dukung pemilik, Pemerintah Kota Tasikmalaya sebagai owner BPRS Al-Madinah harus bisa melahirkan Peraturan Walikota (Perwalkot) Tasikmalaya yang menginstruksikan seluruh ASN di Kota Tasikmalaya agar menggunakan produk perbankan dari BPRS Al-Madinah, baik simpanan maupun pinjaman.

"Hal itu menjadi upaya menumbuhkan geliat perkembangan BPRS Al-Madinah, sekaligus meningkatkan rasa memiliki dari warga Kota Tasikmalaya terhadap BPRS Al-Madinah," katanya.

Menghadapi era digital, ucap Murjani, ke depan produk perbankan mudah diakses di mana-mana. Termasuk perusahaan-perusahaan seperti perbankan, yang ke depan tidak lagi memerlukan kantor. Seperti halnya saat ini di bandara dengan mudah kita jumpai office buisness sebagai co-working space dari sebuah perusahaan. Itu menjadi pertanda masuknya era digitalisasi.

"Itu yang perlu kita antisipasi sejak sekarang. Perubahan memang perlu, tapi kita harus bersiap sebelum menghadapi perubahan tersebut. Jangan sampai kita terseret dan terseok-seok. Kita harus bisa berlari, mengejar perkembangan saat ini," katanya.*

 

Baca pula : Dewan Siap Usulkan Perda Perlindungan Produk Unggulan

 


Berita Terkait