Asal Jelas Target dan Dampak, Dewan Akan Dorong Peningkatan Anggaran

Selasa, 21 Januari 2020 20:54 Clara Aditia Parlemen

Asal Jelas Target dan Dampak, Dewan Akan Dorong Peningkatan Anggaran


Koropak.co.id - Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya menggelar Rapat Kerja bersama Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya, yang dilangsungkan di Ruang Rapat Komisi, Selasa (21/1/2020).

Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi Golkar, Isep Rislia menuturkan kegiatan Raker tersebut sebagai implementasi tugas Komisi II untuk lebih dalam menggali potensi pendapatan dari sektor pariwisata.

"Kami melakukan evaluasi atas kinerja Disporabudpar, sejauh mana implementasi program mereka di sektor pariwisata dalam hal meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar destinasi wisata," katanya.

Dikatakan Isep, selama Raker, Komisi II mengupas bagaimana komitmen Disporabudpar dalam mengoptimalkan obyek wisata yang ada di Kota Tasikmalaya agar bisa memberikan kontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tasikmalaya.

"Soal anggaran yang sangat minim, kami menilai permasalahan tidak terletak hanya di anggaran, tapi juga di perencanaan. Anggaran minim bisa kita support, tapi kita ingin ada kejelasan dari Disporabudpar tentang rencana alokasi anggaran, targetnya seperti apa, dan peluangnya seperti apa," kata Isep.

Jangan sampai, ucap Isep, anggaran didorong naik tapi PAD tetap minim. Disporabudpar harus lebih kreatif walau anggaran minim. Jangan hanya sukses dalam penerapan anggaran, tapi dampak terhadap peningkatan PAD seperti apa, harus lebih jelas.

 

Koropak.co.id - Asal Jelas Target dan Dampak, Dewan Akan Dorong Peningkatan Anggaran (2)

 

Baca : Program Kepariwisataan di Kota Tasikmalaya Hanya Angin Surga

 

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Ir. Tjahja Wandawa menyoroti adanya ego sektoral yang menyebabkan gelaran Tasikmalaya Oktober Festival (TOF) tidak maksimal dalam mendatangkan wisatawan ke Kota Tasikmalaya.

"Stakeholder pelaksanaTOF harus lebih bersinergi. Jangan mengedepankan ego sektoral. Hasilnya, dua kali TOF digelar, belum ada hal yang benar-benar bisa menarik kunjungan wisatawan dari luar kota. Belum ada wisatawan yang long stay di Kota Tasikmalaya. Tidak seperti di Jember Festival yang menyedot atensi wisatawan hingga mancanegara," katanya.

Adanya rencana Bank Indonesia menggelar Festival Bordir pada Juli 2020, kata Tjahja, menunjukan ego sektoral di tubuh dinas masih sangat membelenggu.

"Kenapa tidak digabung? Ini kan menunjukan adanya ego sektoral. Bagi dinas, cobalah untuk lebih bersinergi, dan rangkul Bank Indonesia untuk melaksanakan event tersebut digabung bersama TOF sehingga hasilnya akan benar-benar terasa bagi geliat perekonomian di Kota Tasikmalaya," katanya.

Ditambahkan Tjahja, Disporabudpar juga harus cerdas mengembangkan destinasi wisata Situ Gede. Memang, Situ Gede terkendala musim. Saat musim penghujan, Situ Gede jadi danau dengan air yang melimpah tapi saat kemarau, Situ Gede surut dan cenderung kurang menarik untuk dijadikan destinasi wisata.

"Di sini diperlukan rencana strategis Disporabudpar dalam mengembangkan destinasi wisata Situ Gede. Kenapa tidak saat Situ Gede surut, jadikan Situ Gede sebagai destinasi wisata tanaman semusim, yang akan menjadi spot wisata Instagramable yang dapat menarik wisatawan datang ke Situ Gede mesti surut," katanya.*

 

Baca pula : Berpikir Out Of The Box Ciptakan Magnet Wisatawan di Kota Tasikmalaya

 


Berita Terkait