PNM Siap Sosialisasikan Kembali Produk Kredit, Guna Redam Isu Bank Emok

Rabu, 22 Januari 2020 20:41 Clara Aditia Parlemen

PNM Siap Sosialisasikan Kembali Produk Kredit, Guna Redam Isu Bank Emok

 

Koropak.co.id - Pemimpin Cabang Permodalan Nasional Madani (PNM) Kota Tasikmalaya, Luki Nurwendhi menyampaikan terimakasih atas kesediaan Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya berkunjung dan berdiskusi dengan PNM Kota Tasikmalaya terkait permasalahan bank emok.

"Terimakasih Komisi II, kehadirannya telah membantu kami untuk menjelaskan terkait viralnya bank emok di Tasikmalaya. Kami jelaskan bahwa PNM merupakan BUMN yang dipercaya menyalurkan kredit kepada kalangan ibu rumah tangga berbasis kelompok dengan tujuan membantu pemberdayaan masyarakat berpenghasilan rendah di Tasikmalaya," kata Luki kepada Koropak selepas menerima kunjungan Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Rabu (22/1/2020).

Terkait viralnya isu bank emok, ucap Luki, terletak pada permasalahan sistem tanggung renteng. Di lembaga keuangan lain, khususnya yang ilegal dan rentenir, sistem tanggung renteng mewajibkan anggota kelompok menanggung tunggakan kredit yang macet dari anggota kelompoknya.

"Lebih parahnya, kalau tidak bayar, lembaga keuangan tersebut nagih dengan menyita barang milik debitur, kemudian membuat malu keluarga debitur dengan alasan sanksi sosial," katanya.

 

Koropak.co.id - PNM Siap Sosialisasikan Kembali Produk Kredit Guna Redam Isu Bank Emok (2)

 

Baca : Diduga, Bank Emok Hanyalah Produk Lembaga Keuangan Ilegal

 

Sementara PNM, ucap Luki, sangatlah jauh berbeda. Meskipun sama merapkan sistem tanggung renteng, namun jika tetap macet, maka petugas PNM yang akan menagih langsung ke personal debitur tersebut dengan cara humanis. Tidak arogan sampai menyita barang milik debitur.

"Sebagai langkah peningkatan mutu, kami lakukan perbaikan SOP. Keluhan masyarakat yang kami terima adalah tidak adanya persetujuan suami, maka di persyaratan kredit Mekaar, kami wajibkan suami debitur ikut menandatangani akta kredit, serta mengirimkan foto suami beserta debitur saat menandatangani akta kredit tersebut," tuturnya.

Saat ini, ucap Luki, dengan viralnya bank emok, menyebabkan terjadinya hal miris. Semua lembaga keuangan penyalur kredit mikro, termasuk PNM dipukul rata sebagai bank emok. Padahal sudah jelas PNM itu berbeda. Dari awal, sebelum kredit disalurkan, debitur mendapat pelatihan skill selama tiga hari. Begitupun setelah mendapat dana kredit, debitur secara berkelompok akan mendapat pelatihan rutin, dan ditargetkan dalam 25 minggu harus memiliki usaha.

"Menyikapi kisruh di masyarakat soal bank emok yang menyebabkan bank legal seperti kami di-sakompetdaunkeun dengan lembaga keuangan non resmi dan rentenir, kami akan kembali menggencarkan sosialisasi tentang PNM ke kecamatan, kelurahan, RT, RW, bahkan ke karang taruna. Diharapkan melalui upaya sosialisasi kembali tersebut, bisa meredam isu bank emok yang turut dialamatkan kepada PNM," tutur Luki.*

 

Baca pula : OJK Tasikmalaya Tegaskan Bank Emok Berbeda Dengan Rentenir


Berita Terkait