Tatang Fahat: Situ Gede, Wacana dan Retorika Ambigu

Senin, 27 Januari 2020 19:05 Admin Opini

Tatang Fahat: Situ Gede, Wacana dan Retorika Ambigu



 

Koropak.co.id - Situ Gede, Wacana dan Retorika Ambigu (2)

 

KEBERADAAN sebuah tempat mengandung kearifan lokal, katakanlah Situ Gede berawal dari habit atau kebiasaan masyarakat sehingga menjadi hukum tersirat alias hukum sebab akibat. Kesadaran tersebut tidak ada di dalam tubuh para stakeholder, bahwasannya perlambang atau semiotika merupakan sebuah rajutan cerita yang terajut dengan roh hakikat keberadaan suatu tempat yang mempunyai kekuatan kearifan tersebut. Kemudian, ekspresi dalam sebuah konsep yang diimplementasikan dengan sebuah gerakan budaya menjadi suatu keniscayaan terhadap rajutan dalam tekstur foklor perihal perilaku budaya masyarakat.

Seharusnya Walikota Tasikmalaya memberikan masukan kepada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) yang dikomandani Hadian. Karena sampai detik ini menyoal permasalahan Situ Gede berkutat di masalah retorika dan wacana saja tanpa ada action apalagi solusi. Seperti ketika paparan Kadis Hadian di beberapa media massa bahwa Situ Gede sudah tersentuh atau tertangani padahal konkretnya berbanding terbalik.

Maka wajar ketika kami, khususnya masyarakat budaya mempunyai kecurigaan, jangan-jangan pemerintah lewat perpanjangan tangannya yaitu Disporabudpar tidak mempunyai konsep untuk pengembangan Situ Gede yang disusun secara intertekstual. Persoalan ini harus digali, seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Ataukah selama ini Walikota Tasikmalaya salah memilih dan atau menunjuk orang yang menangani tentang budaya dan kearifan lokal? Padahal persoalan yang ada di Situ Gede harus ada daya atau harus membuat sebuah peristiwa sebagai daya magnet sehingga menjadi center of interest.

Pernah ada sebuah kegiatan yang diprakarsai oleh masyarakat Mangkubumi, yakni Situ Gede Art Festival. Itu pun terlaksana tanpa campur tangan pemerintah. Oleh sebab itu, energi positif tersebut selayaknya ditangkap agar dapat memantik atau ide dan gagasan awal. Sisi lain selayaknya peristiwa tersebut menjadi stimulus untuk pemerintah, untuk sebuah peristiwa budaya tahunan, jangan berkutat di tingkatan dialektika nihilis, mengembangkan persoalan ini harus dikonkretkan.

Anehnya sikap Pemerintah Kota Tasikmalaya lewat corong Pak Hadian sebagai Komandan di Disporabudpar, dalam sejumlah pemberitaan di media massa nampaknya lebih mengedepankan pencitraan, selalu berwacana, berapologi, cenderung memberi harapan palsu alias PHP.

Situ Gede yakin akan menjadi daya tarik wisatalah, sebagai tempat destinasi pariwisatalah dan masih banyak lagi. Statement-statement pemerintah terkesan malah semakin menjelaskan bahwa persoalan konsep pengembangan Situ Gede kian kabur. Pemerintah kelihatan tidak punya konsep untuk mengembangkan Situ Gede karena masih berkutat di wacana dan retorika. Jelas ini merupakan kesalahan besar.

Mari kita lihat dan rasakan lebih seksama, selama kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Drs. H. Budi Budiman dan Drs. H. M. Yusuf, dua tahun ke belakang, menyoal tentang pengembangan kebudayaan di Kota Tasikmalaya, khususnya perlakuan terhadap keberadaan Situ Gede tidak ada progress sama sekali alias nihil. Malah yang muncul saling lempar, dengan alibi itu tanggungjawab dan kebijakan provinsilah, bukan kebijakan pemerintah kotalah dan masih banyak lagi alibi lainnya.

Inilah letak permasalahannya. Pemerintah Kota Tasikmalaya, khususnya Walikota mestinya belajar kepada saudara Tjong Djoen Mien, orang nomor satu di Plaza Asia yang di dalamnya terdapat TeeJay Waterpark, atau Boy BKL dengan kesuksesannya merevitalisasi Taman Wisata Karangresik.

Dua superman tersebut telah sukses dengan tingkatan action, karena mereka membaca indeks kebahagiaan karakter masyarakat Tasikmalaya secara menyeluruh yang haus akan hiburan. Artinya ada dua persoalan, yaitu Walikota salah memilih orang untuk menangani persoalan ini atau Walikota tidak punya konsep untuk memajukan budaya yang berkembang di wilayah kekuasaanya. Maka wajar sampai detik ini Situ Gede terabaikan, bahkan terbengkalai kumuh tak terurus.

Padahal keberadaan Situ Gede bisa menjadi sebuah etalase budaya di Jawa Barat, bahkan Indonesia dan bisa menjadi kebanggaan bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya. Jika dilihat dari posisi Situ Gede yang berada di tengah kota, menjadikan Situ Gede sebagai satu-satunya situ atau danau alami di Jawa Barat yang berada di tengah kota.

Adapun Situ Buleud di Purwakarta, itu adalah situ buatan bukan situ alami seperti Situ Gede. Selain letaknya di tengah kota, Situ Gede mempunyai foklor yang luar biasa. Dua kekuatan ini sebetulnya bisa dieksplor dan menjadi energi untuk dijadikan sebuah peristiwa yang mumpuni sehingga menjadi magnet destinasi pariwisata. Namun tentu saja perlu sentuhan orang yang mengerti dan paham, bukan orang hanya berwacana dan beretorika.

Harus ada kesadaran kolektif bahwa peristiwa budaya bukan lagi berbicara sektoral tapi berbicara harga diri Pemerintah Kota Tasikmalaya secara utuh dan menyeluruh. Pemerintah dalam hal ini Walikota, harus bertanggung jawab dan harus mempertanggungjawabkan kepada masyarakatnya akan pengembangan Situ Gede. Jangan kalah oleh kekuatan-kekuatan individu seperti TeeJay Waterpark dan Taman Wisata Karangresik.

Satu lagi, mengingatkan alarm Herbert ketika pemerintah penguasa berselingkuh dengan pedagang alias calo atau broker, di situlah benih-benih kehancuran tumbuh.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !


Berita Terkait