Jangan Sok! Vinyl Tennis Indoor Senayan Lebih Mahal, Tetap Bisa Dipakai Konser

Selasa, 28 Januari 2020 16:55 Clara Aditia Parlemen

Jangan Sok! Vinyl Tennis Indoor Senayan Lebih Mahal, Tetap Bisa Dipakai Konser


Koropak.co.id - Mewakili musisi All Genre Tasikmalaya, Atik Suwardi mengaku tidak puas atas hasil audiensi dengan Komisi IV dan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya, Senin (27/1/2020).

"Kami di All Genre tidak puas. Kami ingin kembalikan lagi GOR Sukapura ke semula. Jangan larang kami untuk mempergunakan GOR Sukapura sebagai tempat buat kami menggelar konser, berunjuk karya. Sudah sejak dulu GOR Sukapura sering kita pakai sebagai tempat pagelaran dan sekarang tiba-tiba tidak boleh, kenapa! Jadi Audiensi ini belum menghasilkan jawaban yang memuaskan bagi kami," kata Atik saat dikonfirmasi Koropak, Selasa (28/1/2020).

Alasan telah dipasang vinyl untuk persiapan venue bola voli dalam menghadapi Porprov 2022, dinilai Atik, bukanlah alasan yang logis karena di Jakarta saja, tempat sekelas Tennis Indoor Senayan yang berkualitas internasional, dengan vinyl lebih mahal dan lebih berkualitas, tetapi tetap bisa digunakan konser dengan kreativitas pengelola dan dukungan pemerintah yang optimal.

"Tidak ada yang tidak bisa. Vinyl bisa ditutup dengan grass over, seperti di Tennis Indoor Senayan. Meskipun dipakai konser, vinyl yang jelas-jelas lebih mahal dan lebih berkualitas tetap bagus dan terjaga, tidak ada kerusakan sedikitpun. Di GOR Sukapura juga bisa seperti itu, jadi jangan mentang-mentang sudah dipasang vinyl. Bisa kok diakali dengan ditutupi menggunakan grass over," katanya.

Berangkat dengan kekecewaan atas hasil diskusi dari Disporabudpar Kota Tasikmalaya kemarin, kata Atik, segenap musisi akan terus memperjuangkan GOR Sukapura bisa dipakai seperti sedia kala.

 

Koropak.co.id - Jangan Sok! Vinyl Tennis Indoor Senayan Lebih Mahal, Tetap Bisa Dipakai Konser (2)

 

Baca : Rebutan GOR Sukapura, Musisi Kota Tasikmalaya Kecewa

Hal senada disampaikan perwakilan dari Tasikmalaya Underground, Indra Herlambang. Pihaknya mengaku belum puas atas hasil diskusi yang tidak ada solusi sama sekali.

"Kami kecewa, hasilnya tetap ngambang. Kita tetap tidak bisa menggunakan GOR dengan alasan yang menurut kami tidak logis. Bukan sekali dua kali kami gelar acara di GOR Sukapura, dan itupun berlangsung tertib, mendorong para musisi hidup dengan meraih penghasilan dari tiket dan sponsorship. Industri musik di Kota Tasikmalaya pun berkembang. Cuma dengan dilarangnya kita menggelar acara di GOR Sukapura, ya sama saja memutus sumber penghasilan kita," katanya.

Adanya usulan untuk bikin gedung juga bukanlah langkah solutif karena tidak mungkin akan selesai dalam waktu cepat. Langkah solutif yang ditawarkan musisi adalah pemasangan grass over untuk melindungi vinyl yang sudah dipasang di GOR Sukapura.

"Kita pernah melihat konser GNR di Jakarta, di venue indoor. Vinyl-nya tetap terjaga, tidak rusak sama sekali. Kenapa tidak dicoba di Kota Tasikmalaya. Lagian, kita menggelar konser tidak setiap waktu kok, dan cuma sehari saja. Kami merasa seperti dianaktirikan," kata Indra bersama Ketua Tasikmalaya Underground, Dadan Ramdani.*

 

Baca : Pemerintah Lalai Atas Apresiasi, Atlet Mengabdi Untuk Daerah Lain

Lihat : Anggaran Minim Bukan Alasan Terhambatnya Pengembangan Kepariwisataan

 


Berita Terkait