Anak Punk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya Akan Dibina

Jum'at, 07 Februari 2020 19:23 Clara Aditia Daerah

Anak Punk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya Akan Dibina

 

Koropak.co.id - Menindaklanjuti kegiatan Focus Group Discussion yang digelar Forum Peduli Tasikmalaya di Plaza Asia Tasikmalaya 9 Januari 2020, Dandim 0612/Tasikmalaya, Letkol Inf Imam Wicaksana menggelar Rapat Koordinasi di Aula Makodim 0612/Tasikmalaya, Jumat (7/2/2020).

Imam kembali menegaskan bahwa dalam FGD yang bertema "Bisakah Anak Punk Berubah?" tercetus program-program untuk penanganan permasalahan anak punk, khususnya di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. 

"Saya pernah menemukan anak punk senior, sudah tua-tua. Mereka ada di Cihaurbeuti. Ciri-cirinya mereka punya tato bintang di kepala. Mungkin tato bintang tersebut menunjukan senioritas," katanya.

Anak punk sekarang, ucap Imam, sedang menikmati perannya sebagai anak yang hidup bebas di jalanan, tanpa aturan, bepergian dengan mencegat truk. Bahkan mereka memenuhi hasrat birahinya dengan mencari perempuan, melakukan seks bebas, kemudian ditinggalkan.

"Di situlah potensi tumbuhnya penyait HIV/AIDS di kalangan anak punk. Oleh sebab itu, dalam penanganan yang kita siapkan, programnya menyeluruh dari pembinaan hidup tertib dan taat aturan hingga pemberian pengetahuan kesehatan," katanya.

 

Koropak.co.id - Anak Punk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya Akan Dibina (2)

 

Baca : Anak Punk di Tasikmalaya Generasi Penerus yang Harus Diselamatkan

 

Program yang akan mulai dilaksanakan pada 19 Februari 2020 yang diawali dengan razia oleh Dinas Sosial ini, membutuhkan sinergitas dari segenap stakeholder, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pola penanganannya pun akan dilakukan secara persuasif dan humanis.

"Kita akan mulai dengan tahap rekrutmen dengan metode ajak atau bujuk, kemudian menarik minat mereka dengan kegiatan seni. Setelah mereka tertarik, kami akan lakukan pemeriksaan kesehatan, kemudian pendataan, pengklasifikasian, serta persiapan," katanya.

Dalam program penanganan tersebut, ucap Imam, target tim adalah mengakhiri "masa kedinasan" anak punk. Hal yang miris, ada anak punk yang ikut-ikutan. Rata-rata berusia SD sudah pakai tato.

"Dalam penanganan ini, anak usia produktif akan kami beri wawasan kewirausahaan, sedangkan anak usia sekolah akan kami serahkan ke KPAI supaya disekolahkan karena kami berkomitmen, anak punk usia sekolah harus belajar, tidak bisa dipekerjakan," katanya.

 

Dalam program penanganan,
target tim adalah mengakhiri
"masa kedinasan" anak punk.
Hal yang miris, ada anak punk
yang ikut-ikutan. Rata-rata berusia SD
sudah pakai tato.

 

Rencananya, dalam pembinaan tersebut, tim akan menyasar masing-masing 20 anak punk dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

"Untuk penanganannya sendiri, kami meminta kebijakan Pak Sekda Kabupaten Tasikmalaya untuk dapat meminjamkan Gedung Transito. Nantinya anak yang usia sekolah akan diberikan seragam, buku, ya seperti siswa sekolah pada umumnya," katanya.

Iman menambahkan untuk program penanganan atau netralisasi tersebut, dibagi dalam 4 tahap. Pada tahap pertama, dibutuhkan waktu 7 hari untuk dilakukan assessment kejiwaan, problem solving, pendampingan psikolog, serta bimbingan kejiwaan.

 

Baca : Keberadaan Anak Punk Bisa Picu Permasalahan di Tengah Masyarakat

Di tahap 2, dibutuhkan waktu 16 hari yang dibagi dalam program bimbingan agama selama 5 hari, bimbingan hidup tertib dan disiplin selama 7 hari, serta pengetahuan tata tertib dan aturan selama 4 hari.

"Pemberian pengetahuan tata tertib ini sangat penting guna mengingatkan sekaligus merubah pola pikir mereka yang tadinya hidup bebas di jalanan tanpa aturan, kini mereka harus paham bahwa hidup itu ada aturan yang harus ditaati," kata Imam.

Tahap 3, ucap Imam, membutuhkan waktu 12 hari untuk pembekalan pelajaran-pelajaran dasar seperti Matematika, IPA, dan IPS selama 7 hari, serta Pengetahuan Linkungan dan Kesehatan selama 5 hari.

"Akan dibekali pula wawasan kebangsaan, serta kesehatan agar mereka mengetahui dampak-dampak dari seks bebas yang selama ini jadi gaya hidup mereka," katanya.

Di tahap akhir, kata Imam, dibutuhkan waktu 16 hari untuk evaluasi dan penilaian. Dalam tahap tersebut, tim akan melakukan penilaian atas perubahan sikap dari anak punk, tingkat kedisiplinan, hingga pengetahuannya. Jika masih sama atau tidak ada perubahan maka dengan terpaksa anak tersebut akan ditandai dan dipisahkan dari anak lainnya, serta dinyatakan bahwa anak tersebut tidak siap untuk melanjutkan ke pembinaan tahap berikutnya.*

 

Baca pula : Mosi Atas Wacana Program Bisakah Akah Punk Berubah



Berita Terkait