Mosi Atas Wacana Program Bisakah Anak Punk Berubah

Jum'at, 07 Februari 2020 20:06 Dede Hadiyana Daerah

Mosi Atas Wacana Program Bisakah Anak Punk Berubah

 

Koropak.co.id - Sebuah wacana hasil Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Forum Peduli Tasikmalaya pada 9 Januari 2020 yang mengangkat tema "Bisakah Anak Punk Berubah?" menuai protes dari sejumlah musisi punk di Tasikmalaya.

Bahkan, secara jelas dan lugas, beberapa band punk di Tasikmalaya melayangkan mosi, menggunakan hak jawabnya, meneriakan keberatannya karena tidak diundang dalam kegiatan FGD yang bertajuk Penanganan Anak Punk di Kota Tasikmalaya.

Vokalis Band Punk Discause Epoy menuturkan sebetulnya yang dimaksud anak punk ini siapa, yang seperti apa, perubahan seperti apa yang diminta, mengapa harus berubah, dan seperti apa perubahannya.

"Punk itu tidak mungkin berubah, dari dulu sampai sekarang ya seperti itu. Justru yang berubah adalah manusianya. Makanya kita tanya, punk yang seperti apa yang akan mereka rubah. Sayang kita tidak diundang di acara FGD tersebut," katanya saat dijumpai Koropak, Jumat (7/2/2020).

Epoy menegaskan pendiriannya tersebut bukanlah untuk melawan ataupun merespons, namun terganggu dengan adanya wacana tersebut. Bahkan melihat judulnya saja sangat terganggu.

 

Koropak.co.id - Mosi Atas Narasi Program Bisakah Akah Punk Berubah (2)

 

Adanya stigma miring di masyarakat bahwa anak punk dicap sebagai kalangan berpenampilan aneh, dianggap berperilaku menyimpang, dicurigai sebagai biang keonaran, bahkan tidak memiliki masa depan dibantah Drummer Band Punk Discause Edwin.

"Punk itu baik, punk itu tidak jahat. Statement masyarakat tentang punk mungkin sedikit aneh dari sisi penampilannya mulai dari rambut mohawk, menggunakan sepatu booth, dan berpakaian dekil akibat sering tidur dijalanan. Terkadang mereka berfikir bahwa anak punk tidak memiliki masa depan dan tidak akan bisa berubah untuk hidup dengan cara yang lebih baik lagi karena masyarakat sendiri hanya melihat dari sisi penampilannya saja," ucapnya.

Justru, ucap Edwin, dalam FGD yang mengusung tema Bisakah Anak Punk Berubah, patut dipertanyakan anak punk yang seperti apa, kemudian apa yang harus dirubah. Anak punk itu terdapat banyak ragamnya. Punk memang tidak mudah didefinisikan dengan lengkap.

"Meski demikian, punk merupakan komunitas terbesar di dunia. Komunitas punk lahir di berbagai kota, termasuk di Tasikmalaya. Lahirnya komunitas punk didorong kondisi di mana pemerintah belum mampu menyejahterakan rakyat, dan terciptanya kebobrokan elit," katanya.

 

Tema Bisakah Anak Punk Berubah,
patut dipertanyakan
anak punk yang seperti apa,
kemudian apa yang harus dirubah.
Anak punk itu terdapat banyak ragamnya.
Punk memang tidak mudah didefinisikan
dengan lengkap.

 

Baca : Anak Punk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya Akan Dibina

 

Ditambahkan Edwin, Stacey Thompson mengatakan punk dipengaruhi empat hal, yaitu musik, fashion, tongkrongan dan pergerakan pemikiran. Revolt into style, dalam rambut mohawk, feathercut, sepatu boots, spike, jaket kulit, jeans ketat dan baju lusuh adalah pemberontakan, menggambarkan adanya jarak antara idealisme dan realita hidup," katanya.

"Kita menyepakati bahwa anak punk yang dimaksud dalam FGD, bukan anak punk secara menyeluruh tapi musisi jalanan berpenampilan punk, yang mengais receh dengan mengamen. Berbeda dengan pengamen lainnya, lagu yang dibawakan biasanya berisi kritikan terhadap kondisi sosial politik," katanya.

Ditambahkan Edwin, tidak semua pengamen itu punk dan tidak semua punk itu pengamen. Tapi keduanya memiliki satu kesamaan yakni kehadirannya sebagai representasi terhadap berbagai situasi dalam masyarakat.*

 

Baca pula : Persiapan Pembinaan Anak Punk Sudah Mencapai 80 Persen 


Berita Terkait