Aktif Berkegiatan Sosial, Komunitas Punk Tidak Selalu Negatif!

Sabtu, 08 Februari 2020 14:33 Dede Hadiyana Daerah

Aktif Berkegiatan Sosial, Komunitas Punk Tidak Selalu Negatif!


Koropak.co.id - Di pandangan masyarakat, fenomena penyebaran anak punk di Indonesia khususnya di Tasikmalaya, lebih cenderung mengemis seperti anak jalanan. Lain halnya dengan mereka yang berada di luar negeri yang menjadikan punk sebagai ajang ekspresi diri yang anti terhadap kemapanan.

Dinamika perkembangan punk sebagai gerakan counterculture yang berkembang di Tasikmalaya di tahun 1996, bermula dari acara Gigs di Saparua, Bandung. Pada tahun yang sama, lahir beberapa band dengan ragam genre underground, grunge dan punk yang berkumpul di Jalan Dr. Soekardjo.

Gigs pertama bernama Spirit of Independent, bertempat GOR Dadaha tahun 1998, dan eks bioskop Garuda untuk menampilkan musik mereka secara kolektif. Sejak saat itu pula semakin banyak band punk lahir, termasuk band Red Label yang salah satunya digawangi Abe.

Dikatakan Abe, wacana Bisakah Anak Punk Berubah dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digagas Forum Peduli Tasikmalaya di Plaza Asia Tasikmalaya pada 9 Januari 2020, dimaksudkan bukan anak punk secara menyeluruh, tapi musisi jalanan yang berpenampilan punk.

FGD yang disambung dengan Rakor Penanganan Anak Punk yang digelar di Aula Makodim 0612/Tasikmalaya, Jumat (7/2/2020) kemarin, ucap Abe, harus menegaskan bahwa punk seperti apa yang mereka maksud.

"Punk merupakan kaum marginal yang masih mencari jati dirinya. Adapula yang sekedar ikut-ikutan maupun terpengaruhi pertemanan. Namun selama punk tidak berbuat kriminalitas, berarti tidak ada masalah. Kalau pun ada punk yang melakukan kriminalitas, itu hanya oknum, kesalahan individu dan harus ditindak sesuai hukum yang berlaku," katanya.

 

Koropak.co.id - Aktif Berkegiatan Sosial, Komunitas Punk Tidak Selalu Negatif! (2)

 

Baca : Pembinaan Agar Anak Punk Miliki Keterampilan dan Hidup Mandiri

 

Masalah pandangan orang lain terhadap punk, ucap Abe, masih selalu crowded, ribet, tidak sesantai saat punk bergaul dan berkumpul. Punk, tidak selamanya identik dengan narkoba, kekerasan, anti kemapanan dan hal negatif lainnya.

"Banyak juga punk yang jauh lebih bermartabat, jauh lebih baik, banyak berkarya dan berhasil. Oleh sebab itu, arti punk bagi saya, punk adalah jalan hidup. Di jalur punk, saya bisa jadi diri sendiri tanpa pakem harus begini begitu. Di punk saya temukan karakter sendiri. Mungkin jika tidak mengenal punk mungkin saya lembek, saya tidak bisa survive di kehidupan yang keras ini," katanya.

 

Atribut punk yang merupakan style,
direproduksi dan dikonsumsi publik luas.
Siapa pun boleh menggunakannya
untuk alasan berbeda.
Baik sebagai identitas,
gaya berpenampilan,
maupun sebagai nilai yang
terdapat dalam idealisme
"do it yourself".

 

Keajegan atribut punk, ucap Abe, merupakan style, direproduksi dan dikonsumsi publik luas. Siapa pun boleh menggunakannya untuk alasan berbeda. Baik sebagai identitas, gaya berpenampilan, maupun sebagai nilai yang terdapat dalam idealisme "do it yourself".

Ditambahkan Abe, jangan selalu identikan punk dengan kesan negatif. Terbukti, komunitas punk masih sering berkumpul dalam acara bakti sosial "Saamparan Samak" dan "Ngabagi Keur Babagi". Dua kegiatan tersebut merupakan wujud bakti sosial komunitas punk yang menyisihkan sedikit rejekinya, untuk dikumpulkan dengan patungan dari anggota yang lain.

"Hasil udunan itu dibelikan nasi bungkus dan dibagikan kepada orang-orang yang masih bekerja tengah malam di jalanan. Ini bukti bahwa tidak semua punk itu negatif, banyak positifnya. Jangan sampai seluruh anak punk disamaratakan!," ucapnya.*

 

Baca pula : Pembinaan, Kembalikan Anak Punk Ke Fitrahnya

 


Berita Terkait