Saamparan Samak Tepis Stigma Negatif Tentang Punk

Rabu, 12 Februari 2020 16:09 Lufti Zaidan Daerah

Saamparan Samak Tepis Stigma Negatif Tentang Punk

 

Koropak.co.id - Saamparan Samak menjadi jawaban atas stigma negatif masyarakat terhadap anak punk. Saamparan Samak yang digelar pada akhir Januari 2020 kemarin, diisi dengan bakti sosial berbagi nasi bagi warga pra sejahtera yang dibagikan di larut malam.

Drummer Disscause, Edwin menuturkan Saamparan Samak "Ngabagi Keur Babagi" merupakan gerakan dari Komunitas punk Tasikmalaya yang secara berkala mengadakan small gigs, yakni mini konser yang dilakukan mandiri dengan menggunakan konsep udunan.

"Jika punk internasional memiliki gerakan Food Not Bombs, membagikan makanan gratis untuk orang miskin dan warga yang tidak mampu membeli makanan, punk di Tasikmalaya memiliki gerakan Saamparan Samak," katanya.

 

Punk internasional memiliki
gerakan Food Not Bombs,
membagikan makanan gratis
untuk orang miskin dan
warga yang tidak mampu,
punk di Tasikmalaya memiliki
gerakan "Saamparan Samak".

 

Sumbangsih yang diberikan anggota komunitas, kata Edwin, dikumpulkan dan diolah menjadi makanan untuk dibagikan di tengah malam. Melalui Saamparan Samak, Komunitas Punk Tasikmalaya membuktikan bahwa di Kota Tasikmalaya masih banyak warga miskin yang tak tersentuh perhatian pemerintah, dan membutuhkan uluran tangan.

"Kita ingin membuktikan masih banyak orang di luar sana serba kekurangan. Oleh sebab itu, wujud sumbangsih yang kita berikan adalah nasi, karena bagi kita, nasi adalah fondasi awal untuk menghadapi kehidupan yang keras. Nasi adalah hak dan kebutuhan setiap orang," katanya.

 

Koropak.co.id - Saamparan Samak Tepis Stigma Negatif Tentang Punk (1)

 

Baca : Aktif Berkegiatan Sosial, Komunitas Punk Tidak Selalu Negatif

 

Sementara itu, Vokalis Disscause Band, Epoy menuturkan berdasarkan sejarah di punk internasional, gerakan kepedulian sosial dari Komunitas Punk merupakan bagian protes menolak penyerapan anggaran perang, dan gerakan anti nuklir yang berkembang di Massachusetts pada tahun 1980-an.

"Mereka menentang peperangan, terlebih isu perang nuklir, kemiskinan dan kelaparan dengan menyediakan makanan gratis untuk tatanan dunia yang lebih baik di masa depan," katanya.

Makanan, ucap Epoy, adalah hak semua orang. Maka, harus cukup makanan untuk semua orang. Isu kekurangan makanan pokok adalah bohong. Di saat lapar atau kedinginan, orang tak mampu memiliki hak mendapatkan makanan dengan cara meminta, mengamen atau cara lainnya.

"Untuk mendapatkan kehangatan, mereka menempati bangunan-bangunan kosong. Di mata punk, kapitalisme telah menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi," katanya.*

 

Baca pula : Masalah Anak Punk Tak Serta Muncul Tanpa Ada Desain Terstruktur

 


Berita Terkait