Ganti Judul Program Jadi Penanganan Anak Jalanan

Rabu, 12 Februari 2020 18:00 Clara Aditia Daerah

Ganti Judul Program Jadi Penanganan Anak Jalanan


Koropak.co.id - Salah seorang musisi asal Tasikmalaya, Aang "The Great" Falhan Basya mengkritik soal program Penanganan Anak Punk yang digagas TNI bersama stakeholder di lingkup Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

Secara tegas, Aang mengaku keberataan dengan penggunaan titel "Punk" dalam program pemerintah yang mengusung tema misi "Bisakah Anak Punk Berubah". Bagi Aang yang sudah mengenal punk sejak tahun 1990an, punk yang dimaksud pemerintah dalam program tersebut bukanlah punk dalam arti sebenarnya, karena menurut pemerintah, punk hanyalah segerombolan anak jalanan yang memiliki tampilan punk, namun tidak memiliki prinsip dan tujuan yang pasti.

"Saya sangat mendukung usaha pemerintah mengentaskan anak jalanan. Tapi tolong saya sangat tidak setuju kalau mereka disebut anak punk. Dengan penyamarataan antara anak jalanan dan punk, membuat komunitas punk yang eksis sejak lama, menjadi korban," katanya.

 

Lebih baik ubah nama program jadi
"Penanganan Anak Jalanan",
mengingat pemerintah sangat tidak
memahami punk yang sebetulnya
mereka maksud adalah anak jalanan
yang berbalut style punk

 

Aang menyarankan lebih baik ubah nama program jadi "Penanganan Anak Jalanan", mengingat pemerintah sangat tidak memahami punk yang sebetulnya mereka maksud adalah anak jalanan yang berbalut style punk.

"Sangat keberatan dengan nama punk di program itu. Saya sebagai musisi sangat menolak keras program tersebut dikasih judul punk, karena yang mereka sasar, bukanlah anak punk, melainkan anak jalanan yang berbalut fashion punk," katanya.

 

Koropak.co.id - Ganti Judul Program Jadi Penanganan Anak Jalanan (2)

 

Baca : Masalah Anak Punk Tak Serta Muncul Tanpa Ada Desain Terstruktur

 

Seharusnya, sebelum melaksanakan program, pemerintah memahami definisi punk sebenarnya agar bisa mengklasifikasikan mana anak punk, mana anak gelandangan yang berpenampilan anak punk.

"Kalau semua dipukul rata, saya sangat tidak setuju. Aparat terkait harus tahu dulu punk yang sesungguhnya. Harus mengenal mana anak punk, mana anak jalanan yang sekedar berpenampilan punk, namun hidup di jalan tanpa berbuat apa-apa, tak punya karya, tanpa ada kreativitas sedikitpun, cuma cari makan, yang pada akhirnya masuknya kategori gelandangan," katanya.*

 


Berita Terkait