Memprihatinkan! Anak Jalanan Didominasi Anak Usia di Bawah Umur

Jum'at, 14 Februari 2020 19:45 Clara Aditia Daerah

Memprihatinkan! Anak Jalanan Didominasi Anak Usia di Bawah Umur


Koropak.co.id - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto menuturkan berdasarkan pendataan di lapangan, anak punk berusia di bawah umur lebih banyak dari dewasa.

"Ini menjadi sesuatu yang memprihatinkan. Dari kalkulasi, saat kita turun bersama Pak Dandim, terdata dari 27 anak punk yang ada di jalanan, 22 anak berusia di bawah 18 tahun. Jelas ini harus menjadi perhatian serius," kata Ato saat dijumpai Koropak, Jumat (14/2/2020).

Persoalan selanjutnya, kata Ato, adalah hak sipil anak yang belum tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, seperti akte, NIK, apalagi KIA.

"Oleh sebab itu, adanya program Penanganan Anak Punk, menjadi sebuah lonjakan ide, sebuah solusi pembinaan anak punk dari hulu ke hilir. Diharapkan, dengan program tersebut, menjadikan sebuah modul di Indonesia tentang penyelamatan anak jalanan," katanya.

 

Program Penanganan Anak Punk,
menjadi sebuah lonjakan ide,
sebuah solusi pembinaan anak punk
dari hulu ke hilir.
Diharapkan, dengan program ini,
menjadikan sebuah modul di Indonesia
tentang penyelamatan anak jalanan.

 

Ato menyampaikan terimakasih atas adanya program Penanganan Anak Punk yang dianggap merupakan sebuah konsep bagus untuk menyelamatkan anak-anak di masa datang. Tinggal mendapat dukungan dari semua pihak.

"Program tersebut menjadi solusi untuk menekan kekerasan anak, serta seks bebas. Dua kasus tersebut masih menjadi masalah utama yang saat ini kami hadapi. Di KPAID sendiri, sampai hari ini kami menangani 47 kasus berlatar belakang anak punk dengan melibatkan 52 anak, baik laki-laki maupun perempuan," tuturnya.

 

 

Koropak.co.id - Memprihatinkan! Anak Jalanan Didominasi Anak Usia di Bawah Umur (2)

 

Baca : Di Jalanan, Anak Punk Mampu Isi Kekosongan Hidup Mereka

 

Pada intinya, ucap Ato, dalam melaksanakan program Penanganan Anak Punk, tim satgas tidak boleh lelah, capek, dan menyerah. Mesti dihadapi dengan penuh kesabaran. Minimalnya dengan program tersebut, bisa mendeteksi dini untuk mencegah bertambahnya anak yang menjadi korban seks bebas dan kekerasan anak.

"Menyoal tato, di mata masyarakat tentu menjadi stigma negatif. Makanya butuh psikolog bagaimana menguatkan anak punk bahwa kami tidak mempersoalkan tato. Terpenting, sejauh mana ia mau berubah, hijrah, berperilaku hidup normal, dari yang tadinya tidak memberikan manfaat jadi lebih bermanfaat," katanya.

Memang, kata Ato, tato akan menjadi masalah bagi mereka untuk kembali ke kehidupan bermasyarakat, karena masyarakat terkesan risih dengan anak punk bertato. Namun, yang perlu dilakukan adalah bagaimana menyampaikan kepada masyarakat bahwa orang baik tidak harus dibuktikan dengan tampilan.*

 

Baca : Anarchy dan Equality, Cerminan Punk Sesungguhnya

Lihat : Kaji Dulu, Punk Seperti Apa yang Jadi Target Pembinaan

 

 

 

 

 


Berita Terkait