Anarchy dan Equality, Cerminan Punk Sesungguhnya

Sabtu, 15 Februari 2020 08:47 Clara Aditia Daerah

Anarchy dan Equality, Cerminan Punk Sesungguhnya


Koropak.co.id - Menyoal penanganan anak punk, salah seorang musisi yang pernah bergelut dalam dunia punk, Aang "The Great" Falhan Basya menilai perlu ada pembedaan antara anak punk dan anak jalanan yang berpenampilan menyerupai anak punk.

Punk yang sesungguhnya, mengetahui dan memahami prinsip, memiliki orientasi terhadap karya. Punk yang sesungguhnya menjadikan punk sebagai wujud ekspresi protes terhadap kekecewaan mereka atas ketidakadilan pemerintah. Bukan menjadi anak jalanan yang meresahkan masyarakat.

"Merunut pada awal sejarah, ada dua filosofi yang dipegang teguh anak punk, yakni anarchy dan equality. Saat punk booming di Inggris, Anarchy menjadi cara punk mewujudkan aksi protes mereka tatkala mereka tidak bisa menyuarakan aspirasi secara parlementer," katanya.

Anarchy, kata Aang, menunjukan aksi represif mereka, mengkritik dengan musik dan lirik, serta divisualisasikan dengan style fashion punk, bukan dengan dengan kerusuhan dan lain hal.

"Sedangkan Equality merupakan prinsip kebersamaan sesama anak punk. Mereka memegang prinsip untuk senasib sepenanggungan, membangun dari nol. Hingga pada akhirnya ada punk yang berhasil menjadi seorang musisi terkenal, dan keberhasilan di jalur lain," tutur Aang.

 

Baca : Di Jalanan Anak Punk Mampu Isi Kekosongan Hidup Mereka

 

 

Koropak.co.id - Anarchy dan Equality, Cerminan Punk Sesungguhnya (2)

 

Baca : Memprihatinkan, Anak Jalanan Didominasi Anak Usia di Bawah Umur

 

Punk, kata Aang, juga merupakan sub genre dari musik underground. Punk merupakan filosofi anti kemapanan, hidup dalam aturan sendiri.

"Sebetulnya, fenomena anak jalanan berpenampilan punk seperti yang berkembang saat ini sempat dikisahkan dalam film Daun di Atas Bantal karya Christine Hakim, Film yang mengambil latar Yogyakarta tahun 1998," katanya.

 

Sebetulnya, Fenomena anak jalanan
berpenampilan punk
seperti yang berkembang saat ini
sempat dikisahkan dalam
film Daun di Atas Bantal
karya Christine Hakim.

 

Dalam film tersebut, menguak fenomena anak jalanan berpenampilan punk secara real. Menceritakan apa yang terjadi atas keseharian mereka, termasuk kebiasaan buruk mereka yakni mabok lem.

"Anak jalanan berbalut fashion punk di film tersebut, mungkin menjadi punk yang dimaksud pemerintah yang akan ditertibkan. Punk yang sama sekali tidak disentuh musikalitas, dan tanpa pergerakan revolusioner," katanya.*

 

Lihat : Kaji Dulu, Punk Seperti Apa yang Jadi Target Pembinaan

 

 


Berita Terkait