Ashmansyah: WUB Bukan Untuk Anak Punk, WUB Untuk Warga Miskin

Senin, 17 Februari 2020 14:34 Erni Nur'aeni Daerah

Ashmansyah: WUB Bukan Untuk Anak Punk, WUB Untuk Warga Miskin

 

Koropak.co.id - Seniman Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah menilai program Penanganan Anak Punk yang digagas Dandim 0612/Tasikmalaya Letkol Inf Imam Wicaksana dan didukung para stakeholder di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, menjadi tamparan bagi pemerintah daerah mengingat penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) salah satunya anak jalanan berpenampilan punk, adalah kewajiban pemerintah yang didukung stakeholder, bukan sebaliknya.

"Pemerintah harus hadir dan bertanggungjawab menyelesaikan permasalahan ini. Sebab, pemerintah merupakan wadah aspirasi masyarakat, sehingga ketika masyarakat berharap punk ada penyelesaian, ya pemerintah harus mampu menyelesaikan. Dalam penanganan anak punk, yang harus dipikirkan adalah bagaimana mereka dikelola dengan baik bukan dihakimi," kata Ashmansyah yang akrab disapa Acong.

Dijumpai Koropak, Senin (17/2/2020), Acong menjelaskan bahwa sebelum melaksanakan program penanganan punk, harus dikaji dulu punk di era saat ini, yang dijadikan target sasaran pembinaan, apakah punk yang benar-benar punk seperti di era 1990-an, atau anak jalanan yang berpenampilan punk.

 

Sebelum melaksanakan program
harus dikaji dulu punk di era saat ini,
yang dijadikan target sasaran pembinaan,
apakah punk yang benar-benar punk
seperti di era 1990-an?, atau
anak jalanan yang berpenampilan punk?

 

 

Baca : Ganti Judul Program Jadi Penanganan Anak Jalanan

 

"Tidak bisa dong disamaratakan. Karena dalam sejarah, punk merupakan sebuah aliran musik, juga sebuah ideologi gerakan sosial, gerakan masyarakat sebagai bentuk protes kepada pemerintah di tanah kelahiran punk di Inggris di era 1980an," katanya.

Kala itu, masyarakat protes atas ketidakadilan rezim pemerintah. Rasa percaya publik bagi pemerintah hilang. Makanya, mereka menuangkan aksi protes mereka dalam style, serta lagu yang berisikan lirik-lirik yang mengkritik ketidakadilan pemerintah.

Sejak tahun 2000an, banyak punk di Tasikmalaya, namun bagi Acong bukanlah sebuah kekhawatiran dengan penampilan mereka yang identik rambuk mohawk, tato, pakaian penuh aksesoris rantai, sehingga terkesan mereka adalah kriminal.

"Bagi orang normatif, jelas mereka cemas, karena mereka melihatnya sebagai segerombolan individu kriminal, tapi bagi saya, mereka adalah fenomena remaja yang mencari identitas. Toh pada kenyataannya, ada tidak tindakan kriminal yang mereka lakukan? Biarpun ada, itu hanya dilakukan satu atau dua oknum. Justru yang merusak, meresahkan dan meresahkan adalah begal dan koruptor," katanya.

 

Baca : Anarchy dan Equality Cerminan Punk Sesungguhnya

 

Koropak.co.id - Ashmansyah WUB Bukan Untuk Anak Punk, WUB Untuk Warga Miskin (2)

 

 

Baca : Tjong Djoen Mien : Tantangan Besar, Hasil Luar Biasa

 

Punk, kata Acong, adalah sekelompok orang dengan ideologi, pikiran, dan style yang berbeda. Penanganannya pun harus dilakukan dengan pendekatan, harus bisa masuk ke dunia mereka. Sebetulnya, di era 1990an, punk bisa hidup mandiri. Mereka membuat kaos distro dan dijual sendiri.

"Bahkan bagi punk yang suka musik, mereka membuat karya, recording sendiri, dan dijual sendiri yang memberikan keuntungan bagi mereka. Itu merupakan wujud perlawanan ekonomi yang mereka lakukan. Mereka tidak mau beli baju di perusahaan besar, mereka tidak mau rekaman di label besar, mereka berani melawannya secara mandiri," tutur Acong.

Jadi, ucap Acong, punk sesungguhnya tidak bisa disamakan dengan anak jalanan berpenampilan punk. Apalagi, Pemkot Tasikmalaya menawarkan program Wirausaha Baru (WUB) bagi punk yang telah dibina.

"Saya pesimis itu akan terwujud. Apakah punk butuh itu? Apakah masyarakat umum tidak butuh program kewirausahaan dari pemerintah? WUB justru untuk masyarakat miskin. Makanya, harus ada pendekatan lain yang dinilai lebih efektif dan lebih disukai anak punk. Kalau tidak, mereka malah berontak," katanya.


WUB, Apakah punk butuh itu?
Apakah masyarakat umum tidak butuh
program kewirausahaan dari pemerintah?
WUB justru untuk masyarakat miskin.
Makanya, harus ada pendekatan lain
yang dinilai lebih efektif dan
lebih disukai anak punk.
Kalau tidak, mereka malah berontak.

 

Baca : Anak Punk Mesti Diberikan Fasilitas Guna Menunjang Kreativitas

Justru, kata Acong, kalau anak punk difasilitasi dan diarahkan, mereka bisa berkarya. Banyak contoh punk di kota besar lahir yang berhasil. Sangat disarankan agar di Kota Tasikmalaya dibangun rumah singgah sehingga anak punk bisa hidup, berkumpul bersama temannya. Beinteraksi, diskusi, dan berkreasi membuat sesuatu hal yang positif dan bernilai ekonomi.

"Sekarang, jika mereka ditangkapin, mau di ke manakan? Emang Tasikmalaya punya rumah singgah? Jadi menurut saya, adanya rumah singgah, lengkap dengan penanggungjawab dan pembina di dalamnya yang siap mengarahkan kreativitas anak punk, akan lebih berarti bagi mereka," tutur Acong.*

 

Baca : Pemerintah Harus Waspada, WUB Akan Berbenturan Dengan Bank Emok

 

 


Berita Terkait