Kritik Atas Implementasi Program Penanganan Anak Punk di Tasikmalaya

Kamis, 20 Februari 2020 08:50 Clara Aditia Daerah

Kritik Atas Implementasi Program Penanganan Anak Punk di Tasikmalaya

 

Koropak.co.id - Program Penanganan Anak Punk berawal dari ide Forum Peduli Tasikmalaya untuk menyelamatkan anak-anak yang terpinggirkan, merangkul mereka yang termajinalkan. Ditindaklanjuti Kodim 0612/Tasikmalaya, ide tersebut mendapat dukungan dari para stakeholder di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

Program tersebut, menyasar masing-masing 20 anak punk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang akan dibina dengan dua tahapan, yakni netralisir anak punk melalui brain wash, kemudian memberikan mereka bimbingan beragam ilmu kehidupan, mulai dari wawasan religi hingga keterampilan.

Dandim 0612/Tasikmalaya, Letkol Inf Imam Wicaksana menuturkan program pembinaan tersebut diharapkan dapat mendorong anak punk untuk berpikir jernih, segera moving, jangan terlalu lama terjebak di dunia punk yang justru mengajarkan mereka hidup bebas hidup di jalan tanpa aturan.

"Pelaksanaan program dimulai Rabu (19/2/2020) kemarin, melalui penjaringan yang dilakukan Satpol PP dan Dinsos Kota Tasikmalaya. Silabus sudah kita susun, tinggal menajamkan koordinasi dengan dinas terkait. Fokus utama membina masing-masing 20 anak punk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya," tuturnya.

Namun, perjalanan program tersebut tidaklah semulus jalan tol. Penggunaan titel anak punk menimbulkan rasa keberatan dari para senior komunitas punk di Tasikmalaya. Bahkan mereka membuat mosi keberatan atas naskah "Bisakah Anak Punk Berubah?" yang menjadi tema misi pembinaan anak punk tersebut.

Keberatan tersebut bukanlah tanpa alasan, mengingat tim satgas Penanganan Anak Punk memukul rata titel "Punk" tanpa membedakan mana yang benar-benar punk, mana yang merupakan anak jalanan berpenampilan punk.

 

Bukanlah tanpa alasan,
mengingat program sosial ini
memukul rata titel "Punk" tanpa
membedakan mana punk sejati,
mana yang hanyalah segerombolan
anak jalanan berbalut style punk.

 

Sejauh ini, disimpulkan anak punk yang dimaksud tim satgas Penanganan Anak Punk adalah anak jalanan yang nongkrong di perempatan jalan, berpenampilan punk, dan menimbulkan keresahan. Bagi komunitas punk sendiri, anak punk yang dimaksud bukanlah individu yang benar-benar berjiwa punk, melainkan anak jalanan yang berkeliaran dan mencari kehidupan di jalan, hanya saja kebetulan mereka berpenampilan menyerupai anak punk, berambut mohawk, jaket penum emblem, sepatu boot, dan aksesori lainnya.

 
Baca : Program Penanganan Dimulai, Delapan Anak Punk Terjaring Razia

  Koropak.co.id - Kritik Atas Implementasi Program Penanganan Anak P

 


Baca : Implementasi Program Penanganan Anak Punk, Razia Mulai Digencarkan


Salah seorang musisi asal Tasikmalaya, Aang "The Great" Falhan Basya secara tegas mengaku keberataan dengan penggunaan titel "Punk" dalam program tersebut.

Aang menyarankan lebih baik ubah nama program jadi "Penanganan Anak Jalanan", mengingat pemerintah sangat tidak memahami punk yang sebetulnya. Justru punk yang mereka maksud adalah anak jalanan yang berbalut style punk. Terlebih dari penjaringan yang dilakukan Rabu (19/2/2020) kemarin terbukti yang terjaring adalah anak jalanan yang berbalut style punk, bukanlah punk sungguhan yang memiliki idealis punk.

"Sejatinya saya sangat mendukung usaha pemerintah mengentaskan anak jalanan. Tapi tolong saya sangat tidak setuju kalau mereka disebut anak punk. Dengan penyamarataan antara anak jalanan dan punk, membuat komunitas punk yang eksis sejak lama menjadi korban. Saya sarankan ganti judul program tersebut jadi program Penanganan Anak Jalanan," katanya.


Dengan penyamarataan
antara anak jalanan dan punk,
membuat komunitas punk yang
eksis sejak lama menjadi korban.
Teramat disarankan ganti judul program
jadi program Penanganan Anak Jalanan


Sementara itu, Seniman Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah menyarankan anak punk harus bisa difasilitasi dan diarahkan agar bisa berkarya. Sangat disarankan agar di Kota Tasikmalaya dibangun rumah singgah sehingga anak punk bisa hidup, berkumpul bersama temannya. Beirnteraksi, diskusi, dan berkreasi membuat sebuah karya yang positif dan bernilai ekonomi.

"Adanya rumah singgah, lengkap dengan penanggungjawab dan pembina di dalamnya yang siap mengarahkan kreativitas anak punk, akan lebih berarti bagi mereka," tutur Acong.

Hal senada diutarakan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, Bode Riswandi. Menurutnya, pemerintah mempunyai kewajiban dalam memfasilitasi anak punk sesuai dengan minat dan bakatnya. Pemerintah harus mampu mengajak anak punk membuat karya.

"Jika fasilitas yang diberikan oleh pemerintah sesuai dengan keinginan mereka, maka bukan hal yang mustahil jika anak punk dapat berkarya. Hemat kami, 'anak punk' yang hidup di jalan dan melakukan perbuatan yang meresahkan, dilakukan oleh oknum-oknum saja," katanya.

Bode berharap anak punk di Tasikmalaya mampu menciptakan karya yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Pemerintah pun diharapkan melakukan pendekatan kepada anak punk dan mampu menjuruskan ke arah yang positif dan produktif sehingga anak punk dapat tumbuh menjadi seorang pribadi yang kreatif dan produktif.

Terlepas dari wacana program Penanganan Anak Punk dan lika-liku yang dihadapi di awal perjalanannya, tinggal menunggu bagaimana program tersebut diimplementasikan. Bisakah Anak Punk Berubah? Berhasil atau tidak, sangat menarik untuk ditunggu.*

 

Lihat : Kaji Dulu, Punk Seperti Apa yang Jadi Target Pembinaan

 


Berita Terkait