Bang Jack : Rumah Singgah Bukan Solusi Penanganan Anak Jalanan

Sabtu, 22 Februari 2020 16:42 Erni Nur'aeni Daerah

Bang Jack : Rumah Singgah Bukan Solusi Penanganan Anak Jalanan

 

Koropak.co.id - Adanya rumah singgah, dinilai Ketua Pesantren Laskar Langit Yayasan PesantreneurshiPAY, Yadi Fiyana yang akrab disapa Bang Jack, bukan menjadi solusi untuk menangani anak punk. Rumah singgah hanya akan membuat anak jalanan tidak nyaman.

Penanganan yang lebih tepat, justru harus bisa menyentuh akar masalahnya, yakni menghapuskan ideologi kehidupan di jalanan agar mereka tidak kembali turun ke jalan, agar mereka mau hijrah ke arah hidup yang lebih baik.

"Rumah singgah justru melanggar HAM alias hak asasi mamahnya. Artinya dengan dimasukan ke rumah singgah, akan menjadi hambatan bagi ibunya mendapatkan bakti dari anaknya. Akan lebih baik membuat sebuah kuisioner kenapa mereka bisa sampai turun ke jalan," kata Bang Jack kepada Koropak, Sabtu (22/2/2020).

 

Rumah singgah
justru melanggar HAM
alias hak asasi mamahnya.
Artinya dengan dimasukan
ke rumah singgah,
akan menjadi hambatan bagi ibunya
mendapatkan bakti dari anaknya.
Akan lebih baik
membuat sebuah kuisioner
kenapa mereka bisa sampai
turun ke jalan?

 

Rata-rata, kata Bang Jack, permasalahannya sepele, disuruh ngaji malah kabur, disuruh sekolah malah kabur, tidak dibelikan gawai kabur, namun yang paling banyak adalah kurangnya kasih sayang dari orangtua, atau korban broken home.

"Jelas, kehidupan di jalanan memberikan paradigma buruk, sebab kebebasan yang didapat di jalanan akan membuatnya nyaman dan betah dibandingkan dengan di rumahnya yang dia rasa terlalu banyak aturan," ujarnya.

 

 

Baca : Memprihatinkan, Anak Jalanan Didominasi Anak Usia Dibawah Umur

Baca : Di Jalanan, Anak Punk Mampu Isi Kekosongan Hidup Mereka

 

 

Koropak.co.id - Bang Jack  Rumah Singgah Bukan Solusi Penanganan Anak Jalanan (1)

 

Baca : Delapan Anak Punk dan Sejumlah Gepeng Dirazia Satpol PP Kota Tasikmalaya

Permasalahan ketika anak jalanan dimasukan ke rumah singgah, mereka akan lebih betah di tinggal rumah singgah daripada di rumahnya. Padahal orangtuanya mempunyai hak dan kewajiban terhadap anaknya. Begitupun sebaliknya.

"Jika si anak dibikin nyaman di luar rumah, maka permasalahan anak jalanan tidak akan selesai. Sehingga semuanya harus sepakat dari mulai pemerintah sampai pihak lain untuk menyelesaikan masalah dari akarnya," ujarnya.

Bang Jack juga tidak setuju jika anak jalanan harus dipesantrenkan. Anak jalanan yang terbiasa hidup di luar akan menolak pola yang diberikan pesantren, sehingga kegiatan untuk memutus mata rantai generasi anak jalanan di pesantren akan percuma.

 

Tidak setuju jika
anak jalanan dipesantrenkan
Pola hidup di jalanan
yang bebas tanpa aturan
Akan menolak pola asuh pesantren
Hal itu akan menghambat upaya
Untuk memutus mata rantai
Generasi anak jalanan

 

Ditambahkan Bang Jack, karena anak-anak butuh sosok orang tua, baik orangtua kandung maupun orangtua asuh, sehingga setelah dirangkul dengan baik, mereka akan mudah dibekali hal positif seperti menghafal Al-Quran. Namun bagi anak jalanan, perlu ada tahapan untuk sterilisasi ideologi mereka terlebih dahulu.

"Persepsi masyarakat terhadap pesantren ada dua, jika tidak sebagai bengkel, ya jadi tempat pembuangan anak nakal. Disebut sebagai pembuangan bukanlah tanpa alasan. Biasanya anak dipesantrenkan ketika moral anak tersebut sudah rusak. Paradigma tersebut sangatlah perlu dirubah," katanya.*

 

Baca : Rangkul Anak Gang Guna Memutus Mata Rantai Anak Jalanan


Berita Terkait