Terimpit Ekonomi Remaja Putri di Tasikmalaya Mengaku Jual Diri

Rabu, 11 Maret 2020 21:57 D. Farhan Kamil Daerah

Terimpit Ekonomi Remaja Putri di Tasikmalaya Mengaku Jual Diri


Koropak.co.id - Gara-gara terimpit ekonomi, seorang remaja putri nekad menjajakan diri kepada para lelaki demi maraup kesenangan dan kebebasan. Ia yang diketahui berinisial RP berusia 16 tahun, sebut saja Putri terpaksa menjual kehormatannya kepada setiap lelaki untuk mendulang uang tanpa harus bersusah payah.

Pengakuan polosnya meluncur dari mulut Putri, di hadapan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tasikmalaya, sesaat setelah ia bersama empat teman laki-lakinya terjaring operasi patroli di kawasan Taman Komplek Perkantoran Pemkab Tasikmalaya.

Ia yang masih berusia di bawah umur itu, duduk ditemani empat laki-laki usia pelajar SMA, sembari menunggu jemputan pria hidung belang yang telah memesannya lewat aplikasi online.

Kepala Bidang (Kabid) Tantribum Dinas Satpol PP Kabupaten Tasikmalaya Didin membenarkan bahwa anggotanya berhasil menjaring anak-anak dibawah umur yang mengarah kepada perilaku menyimpang.

"Kita mendapat laporan dari warga sekitar, bahwa anak-anak tersebut sering terlihat berkumpul di Kompleks Perkantoran/ Gedung Bupati (Gebu) dan perilakunya cukup meresahkan masyarakat, maka kita jaring dan kebetulan saat itu mereka terjaring," kata Didin, Rabu (11/3/2020).

 

Koropak.co.id - Terimpit Ekonomi Remaja Putri di Tasikmalaya Mengaku Jual Diri

 

Baca : Lagi Bisnis Prostitusi Online di Kota Santri Terbongkar Polisi

 

Kepala Seksi (Kasi) Penyidikan dan Penindakan Dinas Satpol PP Kabupaten Tasikmalaya Muhammad Nizam Mulyana S.IP, M.SI mengatakan, lima remaja, salah satunya perempuan di bawah umur langsung diamankan petugas ke markas Satpol PP, untuk dimintai keterangan.

Dalam keterangannya kata Nizam, RP mengakui jika dirinya sering nongkrong di areal belakang masjid besar kompleks perkantoran. Saat itu ia sedang menunggu jemputan pria hidung belang yang telah memesan servis birahi dari RP melalui jaringan online.

"Pengakuannya ya seperti itu. Mereka kerap berempat dan sering nongkrong di tempat tersebut sembari menunggu pemesan," ujarnya.

RP mengaku terpaksa melakukan penyimpangan dengan menjajakan diri kepada pria yang siap membayar jasanya, karena desakan ekonomi hingga putus sekolah. Sementara orang tuanya bekerja sebagai buruh serabutan.

"Untuk kelima remaja tersebut, selain diberikan pembinaan, mereka membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan serupa dan akhirnya kita serahkan mereka kepada orang tua atau keluarga masing-masing," ucapnya.*

 

Baca pula : Polres dan Pol PP Sisir Potensi Kemaksiatan di Kota Santri


Berita Terkait