Imbas Corona, Rapat Pansus Raperda Perlindungan Usaha Mikro Ditunda

Rabu, 18 Maret 2020 10:07 Clara Aditia Parlemen

Imbas Corona, Rapat Pansus Raperda Perlindungan Usaha Mikro Ditunda

 

Koropak.co.id - Pembahasan lanjutan Raperda tentang Perlindungan dan Pengembangan Usaha Mikro ditunda selama 14 hari hingga 29 Maret 2020. Penundaan tersebut seiring dengan kondisi darurat virus Corona yang mengharuskan masyarakat beraktivitas di rumah selama 14 hari sesuai masa inkubasi virus Corona.

Berbincang bersama Koropak, Rabu (18/3/2020), Ketua Pansus Pembahas Raperda tentang Perlindungan dan Pengembangan Usaha Mikro, Ir. Tjahja Wandawa menuturkan penundaan tersebut menyelaraskan situasi kondisi saat ini seiring dengan adanya instruksi Gubernur Jawa Barat agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan lebih memilih beraktivitias di rumah akibat ancaman virus Corona.

"Jadi selama 14 hari ke depan tidak ada kegiatan pansus," katanya.

Pembahasan Raperda tentang Perlindungan dan Pengembangan Usaha Mikro sendiri telah tuntas dan kini memasuki tahapan public hearing.

"Dalam kegiatan kajian antar daerah, kami melihat di Kulon Progo penerapan Perda Perlindungan Usaha Mikro sangat luar biasa. Semangat ideologi nasionalisme dituangkan jadi ideologi khas Kulon Progo seiring dengan digalakannya program Cinta Produk Kulon Progo," katanya.

Di sana, ucap Tjahja, air mineral menggunakan produksi Kulon Progo, PNS beli beras dari Kulon Progo, menggunakan seragam batik dengan batik khas Kulon Progo.

"Kita ingin di Kota Tasikmalaya juga seperti itu. Makanya spiritnya akan kita serap dan dituangkan dalam Raperda Perlindungan dan Pengembangan Usaha Mikro ini. Kita galakan Cinta Produk Kota Tasikmalaya Tasikmalaya," katanya.

 

Koropak.co.id - Imbas Corona, Rapat Pansus Raperda Perlindungan Usaha Mikro Ditunda (2)

 

Baca : Pansus Raperda Pengembangan Usaha Mikro Akan Lakukan Studi Komparasi

 

Sejauh ini, ucap Tjahja, perkembangan usaha mikro di Kulon Progo melesat seiring dengan program Cinta Produk Kulon Progo. Bahkan karena pesanan membeludak, para pelaku usaha mikro di sana cukup kewalahan. Ditambah lagi produk usaha mikro sudah masuk ke modern market. Bahkan, satu modern market dikelola satu koperasi yang membawa bermacam produk usaha mikro.

"Bahkan, di sana ditawarkan, koperasi mana yang mau pegang gerai A, dan seterusnya. Itu jelas sebuah pertumbuhan iklim bisnis usaha mikro yang sangat luar biasa. Kita ingin di Kota Tasikmalaya seperti itu. Kita akan coba 1 gerai 1 koperasi," katanya.

Tapi, kata Tjahja, terlebih dahulu harus membenahi usaha mikronya, mulai dari packaging, sertifikat halal, PIRT, BPOM itu merupakan syarat mutlak masuk modern market, dan itu merupakan tugas Indag untuk membina mereka sehingga produksi usaha mikro layak masuk ke modern market.*

 

Baca pula : Jangan Sampai Pansus Tidak Lakukan Sosialisasi Ke Fraksi