Pandemi Covid-19 Memaksa Driver Ojol Tetap Survive

Sabtu, 04 April 2020 15:35 Erni Nur'aeni Daerah

Pandemi Covid-19 Memaksa Driver Ojol Tetap Survive

 

Koropak.co.id - Tidak dapat disangkal, munculnya suatu Kebijakan pemerintah kerap menciptakan dampak beragam di masyarakat. Seperti dengan adanya penerapan social distancing atau aturan untuk berdiam diri di rumah saja, tidak berkerumun dan menghindari kerumunan orang.

Kebijakan populer untuk mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19) ini, tentunya sebagai upaya pemerintah menghindari mudarat lebih besar dalam kehidupan masyarakat. Tetapi, bagi sebagian orang yang tidak berpenghasilan tetap atau masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, aturan tersebut dirasakan sangat memberatkan.

Sebagaimana dirasakan oleh para pengemudi ojek online (ojol). Bagi mereka, sehari saja tidak beroperasi, mereka kehilangan penghasilan. Maka di kalangan mereka ada istilah, "teu ngorder, dapur teu ngebul". Sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari tak dapat ditunda.

Bagi driver ojol, penghasilan mereka sangat bergantung pada pesanan angkutan dari para konsumen per harinya. Dengan aturan social distancing, pendapatan mereka pun merosot tajam.

Berbincang bersama Koropak, Sabtu (4/4/2020) Ketua Umum Forum Tranportasi Masal (Fortal) Tasikmalaya, Normansyah menuturkan, dengan diliburkannya sekolah saja sudah sangat berdampak, karena para driver ini biasanya mendapatkan orderan antar atau jemput siswa sekolah.

 

Baca : Duta Laptop Bagikan Bantuan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

 

Sementara, dari jasa order makanan dan antar barang, selama ini tidak menjadi andalan, karena keuntungan yang didapat tidak sebesar antar atau jemput penumpang. Tetapi dengan banyaknya restoran yang tutup, ini juga sangat berdampak terhadap jumlah order makanan.

"Biasanya banyak penumpang anak sekolah, kini sepi karena diliburkan. Begitupun penumpang yang biasanya menggunakan jasa kita untuk bepergian, saat ini jarang yang order," katanya.

Lebih jauh Normansyah menyebutkan, aturan tentang pencegahan pandemi Covid-19, seyogyanya dibarengi kebijakan lain untuk membantu meringankan beban kebutuhan kehidupan sehari-hari mereka. Mulai dari sembakonya, hingga upah harian agar mereka dapat tetap hidup.

"Kalau misalnya pemerintah mau ngasih kita misalnya Rp 100.000 per orang per hari, kita siap di rumah. karena kalau kita diam, siapa yang akan memberi anak istri kita makan? Tentunya ini harus dipikirkan solusinya. Meskipun memang kita juga ada sedikit ketakutan tentang sebaran corona, tapi ya mau gimana lagi, kita juga kan harus hidup, dapur kudu ngebul," ujarnya.

Para ojol, kata Normansyah, selama ini berupaya berjaga-jaga melindungi diri dengan memakai masker dan menyiapkan hand sanitizer di tengah-tengah menjemput rezeki menunggu order.

 

Baca : Restrukturisasi Kredit Ringankan Beban UMKM Terdampak Covid-19

Baca : OJK, Ini Kriteria Dapat Keringanan Kredit Terkait Dampak Corona

 

Sementara itu salah seorang driver ojol, Deni mengatakan, dirinya terpaksa tetap bekerja penuh waktu meskipun hasilnya tidak seperti sebelumnya.

"Biarkan kami yang di luar, kalian tetap di rumah saja. Pesan melalui kami, dan kami siap antar. Itu kalimat yang menjadi hiburan yang membuat kami senang. Dengan penghasilan yang kini sangat mengandalkan antar pesan makanan, itu sudah bisa membuat perekonomian keluarga tercukupi," katanya.

Terlepas dari polemik tersebut, bagi para ojol sendiri pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan kebijakan keringanan kredit bagi para ojol. Mereka bisa mendapatkan restrukturisasi atau keringanan atas beban kreditnya, baik kredit ke perbankan atau cicilan kendaraan ke leasing.

Syaratnya mudah, mereka bisa datang langsung atau menghubungi pihak perbankan untuk dilakukan pengajuan. Nantinya pihak perbankan akan segera melalukan assesmen. Jika disetujui, debitur tersebut akan diajak berdiskusi untuk menetukan bentuk keringanan yang bisa didapatkan.*

 

Lihat : Corona Bukan Untuk Ditakuti, Mari Bersama Lawan Corona!

Lihat : Walikota Tasikmalaya, Mari Bersama Putus Mata Rantai Sebaran Covid-19


Berita Terkait