Acep Zoni Saeful Mubarok: Sya'ban dan Uzlah Corona

Sabtu, 04 April 2020 21:29 Admin Opini

Acep Zoni Saeful Mubarok: Sya'ban dan Uzlah Corona

 


Tidak terasa hiruk pikuk corona
hampir saja melupakan segalanya.
Kegelisahan, kecemasan, kepanikan
dan ketakutan hampir melanda
seluruh manusia di dunia.


CORONA adalah sebuah virus yang menyerang manusia. Keganasannya menyeruak ke suluruh dunia, sehingga WHO menyebutnya sebagai pandemi.

Apabila berkaca pada agama, pandemi covid-19 ini merupakan sebuah ujian yang sudah seharusnya disikapi dengan kesabaran dan ketaatan. Sabar dalam arti menerima dengan terus berikhtiar dan taat dengan menjalankan perintah Allah SWT, rasul-Nya dan ulil amri (QS. 4: 21).

Diantara cara pencegahan corona yang efektif menurut ulil amri adalah, dengan isolasi diri, karantina diri, menjauhkan diri dari kerumunan, menjaga jarak serta stay at home. Hanya dengan cara ini yang efektif untuk menangkal penyebaran virus yang gentanyangan mencari mangsanya.

Saatnya manusia rehat dari hiruk pikuk dunia, mencoba berhenti sejenak dari kepenatan dan kelelahan dunaiawi, mencoba menukik dari langit kesibukan, untuk rehat di dahan pepohonan yang indah nan hijau. Stay at home ini mirip uzlah kalau di dunia tasawuf.

Seorang sufi berupaya menghindarkan diri dari hiruk pikuk dunia untuk membersihkan dan menjernihkan diri dari penyakit-penyakit duniawi yang senantiasa menggerogoti kebeningan jiwa. Sufi berusaha selalu mendekat pada Allah SWT dengan mengisolasi diri, karantina, dan menjauh dari banyak orang, dengan memperbanyak zikir, bertafakur, bertaubat dan muhasabah diri.

Saatnya kitapun belajar menjadi diri mereka, walaupun tidak seberat suluk yang dilakukannya. Kesempatan yang baik bagi kita untuk uzlah dari hiruk pikuk dunia, kerja berat, interaksi sosial yang berlebihan, untuk sekedar rehatkan diri, bercengkrama dengan keluarga, meningkatkan keimanan dan amal-amal baik yang lebih produktif.

Terlebih lagi saat ini merupakan bulan yang disebut dengan bulanku (syahri) seperti yang disampaikan Rasulullah SAW. Beliau memperbanyak puasa sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim).

Saat ini puasa merupakan kebutuhan bersama, karena sikap dan sifat seorang shaimin akan mampu menjembatani problematika yang dihadapi di tengah pandemi ini. Dengan berpuasa seorang akan bertambah ketaatannya, semakin produktif dalam menebar kebaikan, mengurangi makan serta akan semakin tumbuh rasa kepedulian sosialnya. Wallahu a’lam bish-Shawab.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !


Berita Terkait