Eti Nurhayati: Pandemi Covid-19, Literasi Digital, dan Era Revolusi Industri 4.0

Jum'at, 12 Juni 2020 16:32 Admin Opini

Eti Nurhayati: Pandemi Covid-19, Literasi Digital, dan Era Revolusi Industri 4.0

 

PANDEMI Covid-19 menggiring penduduk dunia agar melek Literasi Digital. Tak terkecuali Indonesia. Situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan kita melakukan komunikasi secara langsung (tatap muka), mendesak kita untuk dapat berkomunikasi secara online (daring) dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan.

Sesuai Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Covid-19, pembelajaran dilakukan secara daring. Terkait belajar dari rumah, Mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring) dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

"Kami ingin menganjurkan bagi daerah yang sudah melakukan belajar dari rumah, agar dipastikan gurunya juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan guru, itu sangat penting,” pesan Nadiem.

Pembelajaran daring/jarak jauh, difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai virus corona dan wabah Covid-19. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Bukti atau produk aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

Selanjutnya Mendikbud menegaskan “Walaupun banyak sekolah menerapkan belajar dari rumah, bukan berarti gurunya hanya memberikan pekerjaan saja kepada muridnya. Tetapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu muridnya dalam mengerjakan tugasnya. Mohon walaupun bekerja dari rumah, siswa-siswa kita juga dibimbing.”

Dalam pembelajaran dan pembimbingan tersebut, disadari atau tidak, siswa dan guru, dipaksa untuk mampu menggunakan perangkat digital. Hal inilah yang sebenarnya telah diharapkan oleh pemerintah sejak tahun 2015.

Permendikbud no 23 tahun 2015 membahas tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Gerakan Literasi Nasional (GLN) menjadi salah satu programnya. GLN memiliki fokus utama meliputi literasi dasar yang terdiri dari enam aspek, yaitu literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya & kewargaan. Ada tiga turunan progam dari GLN, yaitu Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Masyarakat.

Dengan demikian, melek literasi digital bukanlah hal baru bagi kita. Sudah sekian lama menjadi program pemerintah dan telah dilaksanakan. Namun pemanfaatan literasi digital secara cepat dan menyeluruh terlaksana sekarang ini ketika kita tengah berada di tengah pandemi Covid-19.

Selain itu, seluruh dunia mengakui bahwa kita semua tengah berada di Era Revolusi Industri 4.0 dimana penggunaan teknologi canggih, termasuk internet sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, Literasi Digital menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tatanan kehidupan.

Sebagai pribadi, masyarakat dan sebagai bagian dari dunia pendidikan di Indonesia, kita pun harus mengikuti perkembangan zaman yang mana hampir semua aktivitas dan pemenuhan kebutuhan beralih ke arah digital. Tentu saja tidak mudah, namun harus ada kemauan yang disertai ikhtiar yang nyata. Perlu diingat pula, tidak semuanya kita serap dan gunakan. Kita harus selektif dan selalu waspada akan dampak-dampak negatifnya.

Wallahu’alam bisshawab

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !


Berita Terkait