Covid-19 Berbahaya, DBD Mematikan 16 Korban di Kota Tasikmalaya

Sabtu, 27 Juni 2020 22:51 Eris Kuswara Daerah

Covid-19 Berbahaya, DBD Mematikan 16 Korban di Kota Tasikmalaya


Koropak.co.id - Berdasarkan hasil konsultasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, kini Kota Tasikmalaya menjadi daerah dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Jawa Barat. Hal tersebut ditandai dengan tingginya kasus DBD di Kota Tasikmalaya yang mencapai angka 672 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 16 orang.

Meski masuk pada posisi tertinggi kasus DBD di Jawa Barat, namun hingga kini Pemkot Tasikmalaya belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Saat ini masih dalam status pra KLB atau siaga 1. Kami belum menetapkan DBD menjadi KLB karena masih terus berusaha untuk menyelesaikan kasus DBD ini semaksimal mungkin. Salah satunya dengan mengkatrol antisipasi dari masyarakat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Uus Supangat, Sabtu (27/6/2020).

 

(Duh! Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Cukup Tinggi)

 

Menurutnya, Dinas Kesehatan sudah mengambil langkah dalam mengantisipasi DBD dengan mengadakan workshop ke setiap kecamatan, termasuk juga menggelar rapat koordinasi tingkat kota.

Dalam kasus DBD ini terang Uus, berdasarkan hasil kajian dari berbagai ahli, lagi-lagi kesadaran masyarakat menjadi poin penting untuk memproteksi diri dari serangan DBD.

Ditegaskan, fogging bukan merupakan pilihan, justru masyarakat harus bisa menerapakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan melakukan langkah 3M, yakni menguras, menutup tempat penampungan air dan mengubur atau menggunakan kembali barang bekas.

 

Covid-19 Berbahaya, DBD Mematikan 16 Korban di Kota Tasikmalaya

 

(Waspada, Bahaya DBD Mengintai di Tengah Pandemi Covid-19)

 

3 M kata dia, adalah langkah sederhana namun efektif untuk menghindari munculnya jentik nyamuk, dibandingkan dengan fogging. Karena, sumber pengembangbiakan nyamuk dan jentik berada di genangan air. Sementara untuk fogging hanya membunuh nyamuk dewasa.

"Bahkan jika tidak hati-hati, fogging itu justru bisa memicu resistensi yang nantinya mentriger potensi endemis DBD itu sendiri, ketika pelaksanaannya tidak memperhatikan aspek-aspek penting. Selama ini, kami bukannya mempersulit permintaan warga untuk fogging, tetapi kami memilih hasil kajian para ahli, bahwa fogging itu tidak efektif,” ujarnya.

 

(Ditengah Pandemi Covid-19, Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Terus Meningkat)

 

Diakuinya, hingga saat ini sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa ketika lingkungan dan rumahnya sudah di-fogging, maka akan terhindar dari DBD. Padahal, ketika risiko dan aspek kesehatan saat fogging tidak diperhatikan, justru akan memicu hal yang lebih berisiko.

“Langkah yang sederhana seperti menyimpan laparasida atau obat yang biasa digantung pada bak mandi ditambah dengan menerapkan pola 3M justru dinilai lebih efektif dalam memberantas pengembangbiakan nyamuk dibandingkan dengan menyewa jasa fogging," kata Uus.*

 

(Kasus DBD Meningkat, Kota Tasikmalaya Masuk Kategori Pra-KLB)