Dewan Kemakmuran Masjid Besar Ciawi Punya Pemimpin Baru

Senin, 13 Juli 2020 21:15 D. Farhan Kamil Daerah

Dewan Kemakmuran Masjid Besar Ciawi Punya Pemimpin Baru

 

Koropak.co.id - Kehadiran Ketua Umum baru Dewan Kemakmuran Masjid Besar (DKMB) Syu'latul Iman Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, diharapkan semakin memperkuat persatuan dan kesatuan umat serta kamajuan umat Islam yang harmoni dalam tata kehidupan madani yang Islami.

Sosok KH Away Munawar Sirozul Munir, SE sebagai ketua umum DKMB terpilih secara aklamasi, dinilai bakal mampu menggerakkan sendi-sendi kehidupan masjid sesuai esensinya.

"Alhamdulillah pada Sabtu (11/7/2020) lalu, dengan disaksikan oleh Muspika Ciawi, Bakorwil Jabar dan sekitar 300 ulama di wilayah Kecamatan Ciawi, proses pemilihan Ketua Umum DKMB berjalan lancar melalui musyawarah luar biasa yang digelar di DKMB Syu'latul Iman Ciawi. Ini menjadi awal baik untuk kebangkitan syiar Islam dan kemakmuran masjid khususnya di wilayah Kecamatan Ciawi ini," kata Ketua PD DMI Kabupaten Tasikmalaya, KH. Dede Saeful Anwar, Senin (14/7/2020).

Menurut KH Dede, dipilihnya ketua baru DKMB tentu memiliki tujuan yang sama yakni ingin memusatkan masjid sebagai landasan untuk takwa. Artinya, di masjidlah umat berbicata tentang ibadah, kaifiyah/metodologi ibadah atau rubu'l ibadah.

Dari masjid pula, bagaimana umat berbicara tentang muamalah/ ekonomi. bagaimana rahnu/gadai dilakukan, mudorobah/profit sharing, syirkah kerjasama dan lain sebagainya.

 

Koropak.co.id - Dewan Kemakmuran Masjid Besar Ciawi Punya Pemimpin Baru

 

Kemudian tentang munakahah. "Bagaimana nikah yang sah dan halal bagi umat Nabi Muhammad SAW yang mewajibkan hadirnya wali/wakil dan saksi. Tentu ini berbeda dengan cara nikah Nabi Adam dengan Siti Hawa," tutur KH Dede.

Selanjutnya kata dia, di masjid ini umat berbicara tentang jinayat atau perdata dan pidana. Tentang dilarangnya menggasab apalagi sirqo/mencuri.

Dan yang terpenting dalam kondisi saat ini terang KH Dede adalah, bagaimana memungsikan masjid benar-benar sebagai tempat pemersatu umat/wihdatul ummah. Karena esksistensi umat Islam di Ciawi khususnya, sangat heterogen. Ada NU, Muhamadiyah, Persis, Muslimah, Salimah, Toriqoh Naqsabandiah, Sadziliah dan lain sebagainya.

"Semua harus dirangkul dan diakomodir. Masjid harus difungsikan untuk menyatukan umat yang heterogen. Umat Islam yang anwaan mukhtalifatan/berwarna-warna dan berbeda-beda menjadi sunni (bersatu) dengan cara mencitptakan manajemen program kegiatan masjid yang profesional," ujarnya.*