Tidak Ada Jaringan Internet, Guru di Kabupaten Tasikmalaya Ajar Siswa Secara Luring

Rabu, 15 Juli 2020 10:29 D. Farhan Kamil Daerah

Tidak Ada Jaringan Internet, Guru di Kabupaten Tasikmalaya Ajar Siswa Secara Luring

 

Koropak.co.id - Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya, dr. H. Mohamad Zen mengatakan, pelaksanaan kebijakan pendidikan pada tahun ajaran 2020/2021, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berpedoman kepada surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Agama, Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri.

SKB tersebut tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi Covid-19.

"Sesuai surat edaran Bupati Tasikmalaya nomor 400/968 - Disdikbud/2020, pelaksanaan tahun pelajaran 2020/2021 untuk PAUD/RA, SD/MI/sederajat, SMP/MTs/sederajat serta SKB/PKBM, dengan cara belajar dari rumah (BDR) atau pendidikan jarak jauh (PJJ) yang teknisnya diatur oleh Disdikbud dan Kemenag Kabupaten Tasikmalaya," kata Zen seusai mewakili Bupati Tasikmalaya dalam acara pertemuan koordinasi Satpol PP kabupaten dan kota se-wilayah IV Jawa Barat, di Pendopo Baru Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (14/7/2020).

 

Baca : Kualitas Pembelajaran Tanggung Jawab Guru

 

Hal yang sama diutarakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, Dadan Wardana, teknis penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kabupaten Tasikmalaya, pemerintah daerah tetap memperhatikan SKB empat menteri.

"Jadi untuk wilayah di luar zona hijau, masih ada larangan pembelajaran secara tatap muka. Kami di Kabupaten Tasikmalaya tentu memperhatikan arahan itu," terang Dadan.

Menurutnya, metode BDR ini dilaksanakan dalam kaitan dengan keselamatan dan kesehatan siswa, guru dan kepala sekolah. Hal itu menjadi faktor utama pertimbangan pemerintah, sehingga BDR harus dilakukan di tengah situasi pandemi Covid-19 yang belum selesai.

 

Baca : Siaran TVRI Rumeuk, Sebagian Anak Tidak Dapat Belajar di TV

 

Kemudian kata Dadan, pada fase Adaptasi Kebiasan Baru ini, pada prinsipnya siswa dalam melaksanakan pembelajarannya harus bermakna tanpa harus menuntaskan capaian kurikulum yang telah ditetapkan. Siswa dituntut mempelajari kecakapan hidup berkaitan dengan protokol kesehatan.

"Kami telah membuat beberapa panduan yang diedarkan ke masing-masing jenjang sekolah, kaitan dengan pelaksanaan pembelajaran daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan)," ujarnya.

Teknis BDR dengan metode daring lanjut Dadan, Dinas membuat grup WhatsApp, guru dan orang tua siswa. Sementara untuk teknis BDR dengan metode Luring, pihak Dinas memberikan arahan kepada guru agar melakukan visit ke wilayah dimana ia mengajar.

Melihat kondisi wilayah Kabupaten Tasikmalaya lanjut Dadan, ada beberapa sekolah yang harus melaksanakan pembelajaran dengan metode luring. Karena letak medan geografis Kabupaten Tasikmalaya cukup jauh dan ada beberapa pelosok yang belum tercover jaringan.

 

Baca : Selama Penerapan AKB,  di Kabupaten Tasikmalaya KBM Harus Tetap Berjalan

 

Pada metode luring ini, dilakukan pengelompokan pembelajaran siswa dengan jumlah tidak lebih dari 10 anak didik. Kemudian guru mendatangi lokasi belajar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Dengan Luring ini, tentu ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi dan akomodasi guru. Maka untuk menutupinya dapat menggunakan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, saya kira BOS bisa digunakan secara wajar untuk hal tersebut, dengan prinsip keterjaminan terlayaninya hak anak dalam mendapatkan pendidikan," kata Dadan.*

 

Baca : Ini Hampir di Seluruh Wilayah di Kota Tasikmalaya Berjaringan 4G


Berita Terkait