Situasi Genting, Akses Kesehatan Masyarakat Salopa Tasikmalaya Lumpuh  

Kamis, 12 November 2020 17:57 D. Farhan Kamil Daerah

Situasi Genting, Akses Kesehatan Masyarakat Salopa Tasikmalaya Lumpuh   

 

Koropak.co.id - Warga beberapa desa di Kecamatan Salopa Kabupaten Tasikmalaya mulai kebingungan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Pasalnya mulai Kamis (12/11/2020) pelayanan Puskesmas Salopa ditutup dan sementara dialihkan ke beberapa puskesmas, antara lain Puskesmas Jatiwaras, Gunungtanjung, Pancatengah dan Cikatomas.

Pemberhentian layanan kesehatan di Puskesmas Salopa ini, menyusul lima orang tenaga medis puskesmas tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil swab PCR yang dilakukan tim Satgas (satuan tugas) Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk (DKPP) Kabupaten Tasikmalaya pekan lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koropak dari berbagai sumber, untuk sekedar memeriksa kesehatan, warga kesulitan untuk mendapat akses pelayanan dari mantri kesehatan setempat, yang kini mulai menutup praktik.

Hal itu diduga akibat kekhawatiran terpapar virus corona yang kian merebak di wilayah Salopa dan belum dapat dikendalikan pasca ditemukannya klaster covid-19 di pesantren di Desa Mandalaguna yang hingga kini belum dilakukan karantina lokal.

Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Camat Salopa sekaligus Ketua Satgas Covid-19 kecamatan, HM. Fuad Abdul Aziz, ST, MP membenarkan, terhitung mulai hari ini, pelayanan Puskesmas Salopa untuk sementara ditutup dan pelayanan dialihkan ke beberapa puskesmas lain seperti Jatiwaras dan Cikatomas.

 

Baca : Dua ASN dan Tiga Santri di Kabupaten Tasikmalaya Positif Covid-19

 

Jauh sebelum penutupan layanan puskesmas ini terang Fuad, tim Satgas kecamatan dan puskesmas serta unsur muspika setempat termasuk Sagas DKPP telah melakukan serentetan koordinasi untuk mengendalikan situsi di Salopa yang kian mengkhawatirkan pasca kemunculan klaster pesantren.

Namun karena situasi masyarakat khususnya di lingkungan klaster pesantren tersebut masih memiliki pandangan lain terhadap Covid-19, maka kondisi tersebut membuat kekhawatiran bagi para tenaga medis yang secara kebetulan sebagian dari mereka telah terkonfirmasi positif Covid-19 setelah kontak erat dengan klaster pesantren. Para tenaga medis ini memilih mengamankan diri dengan pertimbangan keselamatan keluarga.

"Kami disini sudah koordinasi dengan muspika serta seluruh kepala desa, meminta tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya segera turun dan mengendalikan situasi agar tidak terjadi penyebaran pandemi Covid-19 lebih masif, dengan cara pengendalian klaster pesantren," ujarnya.

Sementara untuk selama penutupan puskesmas ini, pihaknya sudah meminta kepala Puskesmas Salopa, memasang spanduk dan mengarahkan warga berobat ke puskesmas-puskesmas sesuai arahan DKPP.

 

Baca : Sebaran Nama Warga Positif Covid-19 Mengguncang Kabupaten Tasikmalaya

 

Hal senada diutarakan Ketua Satgas Puskesmas Salopa sekaligus Ketua surveillance, Ervin Felani. Pelayanan Puskesmas dihentikan setelah ditemukan banyak kasus positif Covid-19 yang terjadi di Salopa pasca kemunculan klaster pesantren.

"Kami sudah beberapa kali koordinasi dengan Satgas Kecamatan, namun hingga kini belum mampu mengendalikan klaster pesantren yang masih berinteraksi dari dan ke lingkungan masyarakat walaupun tanpa gejala. Bagi kami kondisi seperti ini memunculkan kekhawatiran luar biasa dan akhirnya kami waspada untuk menjaga diri dan keluarga di tengah masyarakat yang belum secara utuh menyadari bahaya Covid-19 meskipun kami telah berusaha untuk terus mengingatkan masyarakat," tuturnya.

Ditambahkan, langkah paling akurat untuk mengendalikan situasi Salopa saat ini, tidak lain adalah Tim Gugus Tugas Kabupaten Tasikmalaya maupun Provinsi Jawa Barat turun langsung ke lapangan.

Saat Koropak mencoba konfirmasi melalui saluran telepon, Kepala DKPP Kabupaten Tasikmalaya sekaligus Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya, dr Heru Suharto, enggan mengangkat telpon.

 

Baca : Puluhan Santri di Kabupaten Tasikmalaya Terkonfirmasi Positif Covid-19


Salah seorang tokoh masyarakat Salopa warga Desa Mandalaguna, Jajang NM mengaku sangat khawatir dengan situasi yang terjadi di Salopa. "Sudah tidak bisa dibedakan mana yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19, mana yang tidak. Meskipun tanpa gejala karena secara kebetulan imun tubuh kuat, sejatinya semua menyadari kasus-kasus yang selama ini terjadi dan telah merenggut nyawa akibat Covid-19 menginfeksi orang yang memiliki penyakit penyerta atau balita," ujarnya.

Di tengah situasi seperti ini lanjut Jajang, justru pemerintah menutup akses kesehatan. Padahal masyarakat sangat membutuhkan. Seyogyanya pemerintah bergerak cepat.

"Kebayang jika hanya untuk memeriksa sakit perut atau sakit gigi saja harus ke puskesmas di kecamatan lain yang butuh ongkos banyak. Situasi ekonomi sedang suram ditambah kelangkaan gas 3 kg yang sekalipun ada harus dibeli dengan harga mahal sampai Rp 30 ribu, kini diperparah dengan sulitnya akses pelayanan kesehatan," tuturnya.*

 

Baca : Pjs Bupati Tasikmalaya: Pemerintah Tak Bisa Kerja Sendiri Tangani Covid-19  


Berita Terkait