Ambiguitas Pemkab Tasikmalaya, Antara Nilai Kearifan Lokal dan Teknologi Digital

Jum'at, 20 November 2020 10:03 Admin Opini

Ambiguitas Pemkab Tasikmalaya, Antara Nilai Kearifan Lokal dan Teknologi Digital


DALAM era yang serba komputerisasi dan digitalisasi hingga merangseK ke zona-zona pribadi, sedikit besar telah berpengaruh pada semua tatanan kehidupan di masyarakat. Kekuatan yang begitu hebat ini telah melahirkan mahluk spesies baru yang disebut kekeringan makna akan tata nilai. Padahal pada hakekatnya, Tasikmalaya secara demografi tergolong daerah agraris. Artinya, secara ekonomi masyarakat Tasikmalaya sejatinya bertumpu pada pertanian.

Menelisik persoalan di atas, sudah selayaknya keberpihakan pengemban kebijakan yang akan datang, melirik pada kekuatan daerah agraris. Sudah waktunya ketahanan budaya yang telah lama tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, di kedepankan, dalam hal ini budaya secara global bukan budaya dalam arti sempit.

Berbicara tentang budaya, tentu saja segala bentuk perilaku masyarakat yang di dalamnya ada budaya pendidikan, pertanian, perekonomian, peternakan, budaya gotong royong dan masih banyak lagi. Inilah energi positif di masyarakat yang selama ini dikesampingkan, karena tidak mampu membendung pergeseran tata nilai akibat kekuatan digitalisasi yang serba cepat dan instan.

Pada persoalan ini, perlu adanya pemantik dalam hal ini penguasa atau Bupati terpilih pada Pilkada serentak 9 Desember 2020 nanti, untuk mengemblikan lagi jati diri Tasikmalaya dengan bersandar pada kearifan lokal. Kenapa demikian? karena ternyata kearifan-kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat menjadi bantal penyelamat berbangsa dan bernegara dari hantaman-hantaman dan serangan-serangan kekuatan teknologi dan hantu digitalisasi yang selama ini sedikit besarnya telah memporakporandakan nilai-nilai tatanan yang ada di masyarakat.

Patut diakui, bahwa akses pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya sudah sedemikian cepat. Namun hal ini berbanding terbalik dengan pembangunan masyarakat agraris yang tumpuannya pada kekuatan pertanian. Maka ke depan perlu adanya motor penggerak supaya percepatan infrastuktur tadi berimbang dengan pembangunan sufrastruktur.

Kekuatan di atas harus di tangkap oleh stakeholder dalam hal ini Bupati (terpilih nanti), tentu saja dengan dinas-dinas terkait sebagai perpanjangan tangan kekuasaannya. Di antaranya dinas pertanian, dinas pendidikan, termasuk dinas pariwisata dan budaya. Dinas-dinas inilah yang sebenarnya menjadi ujung tombak kemajuan suatu wilayah.

Untuk mewujudkan jati diri Tasikmalaya yang bersandar pada kearifan lokal, kiranyan perlu ada tempat yang strategis sebagai laboratorium atau sebagai tempat percontohan, salah satunya pelestarisan budaya atau adat, di wilayah yang layak di jadikan demplot atau laboratorium kekuatan budaya.

Di samping menjadi tempat pelatihan-pelatihan kelompok-kelompok petani, juga bagi komunitas-komunitas budaya sebagai salah satu tempat eksperimen lembaga-lembaga formal dan instansi-instansi terkait demi pengembangan hasil dari penelitiannya untuk disebarluaskan di masyarakat, termasuk ke organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Intinya, pembinaan ini tentang wilayah keteritorialan, membangun komunikasi antar lembaga baik pemerintah atau swasta yang ada di wilayah Tasikmalaya raya. Mendorong generasi milenial untuk berperan aktif dalam berbagai bidang, utamanya tentang ketahanan pangan yaitu dengan belajar langsung di lapangan sehingga lebih berasa dan menarik dibanding sekedar teori.

Sistim perpaduan atau kolaborasi antara praktisi (petani), akedemisi serta budayawan, dinilai bisa menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkarakter dan menghasilkan sesuatu yang mumpuni. Artinya, kekutan-kekuatan yang ada di masyarakat, dipadupadankan dengan mengacu kepada kemajuan di segala bidang, maka akan tercapai yang di harapkan yaitu ketahanan pangan (bukan saja pertanian).

Untuk mencapainya, tentu harus ada zona atau titik lokus, atau tempat pembelajaran secara outdoor sehingga menghasilkan karya yang terukur. Maka sudah selayaknya mempunyai kawasan dalam sebuah demplot atau laboratorium alam sebagai sumber inspirasi masyarakat secara keseluruhan, dengan kata lain masyarakat akan tertarik kalau sudah ada contoh (pilot project).

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sepatutnya mempunyai strategi seperti ini untuk membawa warganya, menuju adil makmur sejahtera sesuai dengan cita-cita bangsa.

Terakhir, tentunya potensi-potensi yang ada di Kabupaten Tasikmalaya harus digali lebih jauh, baik SDM maupun SDA-nya lebih kongkrit dan mengakar di masyarakat.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !