Seiring Pemulihan Aktivitas Ekonomi, BI Perkirakan Inflasi Tahun 2021 Naik

Rabu, 06 Januari 2021 23:08 Eris Kuswara Daerah

Seiring Pemulihan Aktivitas Ekonomi, BI Perkirakan Inflasi Tahun 2021 Naik

 

Koropak.co.id - Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Tasikmalaya, Darjana menjelaskan, sepanjang Desember 2020 Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tasikmalaya mengalami penurunan inflasi sebesar 0,26 persen atau sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan November 2020, yakni sebesar 0,27 persen. Penurunan inflasi tersebut merupakan yang terendah di Jawa Barat.

"Inflasi secara keseluruhan pada tahun 2020 adalah sebesar 1,61 persen, lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar 1,72 persen. Sementara untuk rata-rata 3 tahun terakhir yakni sebesar 2,63 persen. Catatan itu menggambarkan dampak penurunan konsumsi masyarakat secara umum, akibat adanya pandemi Covid-19," kata Darjana dalam siaran pers yang diterima Koropak, Rabu (6/1/2021).

Disebutkan, sama halnya dengan kondisi nasional, tercatat pada Desember 2020 penyebab utama tekanan inflasi di Kota Tasikmalaya berasal dari kelompok bahan makanan yang mengalami kenaikan permintaan pada akhir tahun. Sementara pasokannya terbatas akibat adanya curah hujan yang tinggi.

Hingga saat ini kata dia, telur ayam ras masih menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Tasikmalaya. Hal ini sesuai dengan pola historisnya yang dalam kurun 5 tahun terakhir ini, mengalami kenaikan harga di akhir tahun dikarenakan adanya peningkatan permintaan untuk memenuhi program Bantuan Sosial (Bansos) dan konsumsi rumah tangga.

"Sementara untuk produktivitas ternak menurun saat musim hujan. Pada akhir Desember 2020, untuk harga telur ayam ras berada pada kisaran Rp 25.000 per kilogram atau mengalami inflasi sebesar 10,77 persen," terangnya.

Ia menuturkan, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cabai rawit, tomat, daging ayam ras, dan wortel. Namun di sisi lain, terjadi pula penurunan harga pada komoditas daun bawang dan bawang merah. Hal itu karena adanya dukungan pasokan dari Jawa Timur yang mulai stabil.

 

Baca : Bank Indonesia Dorong Kerjasama Antar Pemerintah Daerah Kendalikan Inflasi

 

Sementara itu, di luar bahan makanan penurunan harga terjadi pada perhiasan emas. Secara tahunan, tercatat penyumbang kenaikan harga tertinggi sepanjang tahun 2020 adalah, perhiasan emas yang mengalami inflasi sebesar 28,87 persen.

"Tren kenaikan harga emas dunia sendiri terjadi akibat ketidakpastiannya pasar keuangan global yang melonjak pada Agustus 2020. Kemudian untuk penyumbang utama inflasi selanjutnya adalah rokok kretek dan rokok filter sebagai dampak dari penetapan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen atau kenaikan harga ecerannya sebesar 35 persen pada awal tahun 2020," ujarnya.

Di sisi lain, untuk harga beras, jeruk, buncis, bawang merah, dan bawang putih hingga saat ini terpantau menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Inflasi pada tahun 2021 ini lanjut dia, diperkirakan akan lebih tinggi, didorong dengan kenaikan konsumsi masyarakat seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi.

 

Baca : Bank Indonesia Optimis Pemulihan Ekonomi Nasional di Tahun 2021 Bisa Terwujud

 

Selain itu, untuk komoditas administered prices, pemerintah juga telah menetapkan kenaikan tarif iuran BPJS Kesehatan, bea materai, dan cukai rokok sebesar 12,5 persen.

Diperkirakan risiko kenaikan harga juga berasal dari minyak kelapa sawit, sebagai implikasi dari kenaikan permintaan sejalan dengan pemulihan aktivitas ekonomi global.

"Memasuki awal Januari 2021, kenaikan harga terjadi pada perhiasan emas, kedelai, dan cabai rawit. Secara historis, pada umumnya tekanan inflasi yang terjadi pada bulan Januari itu berasal dari beras, tomat, cabai rawit, cabai merah, serta daging dan telur ayam ras," tuturnya.*

 

Baca : BI Tasikmalaya Ajak Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi Priangan Timur


Berita Terkait