Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa Bumi Sulawesi Barat Bertambah 91 Orang

Sabtu, 23 Januari 2021 10:55 Eris Kuswara Nasional

Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa Bumi Sulawesi Barat Bertambah 91 Orang

 

Koropak.co.id - Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (21/1/2021) tercatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 6,2 skala richter yang melanda Sulawesi Barat bertambah menjadi 91 orang.

“Korban meninggal dunia akibat gempa bertambah menjadi 91 orang. Kemudian 3 orang hilang, 253 orang mengalami luka berat, 679 orang luka ringan, dan 240 orang luka sedang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati dalam keterangan rilisnya sebagaimana dihimpun Koropak, Sabtu (23/1/2021).

Sementara itu, kata Raditya, sebanyak 9.910 warga mengungsi dan tersebar di beberapa titik pengungsian, dengan rincian 5 titik pengungsian di Kabupaten Mamuju seperti di Jalu dua titik, Stadion Mamuju, Gerbang Kota Mamuju, Tapalang, dan Kantor Bupati. Kemudian 2 titik di Kabupaten Majene seperti di SPN Malunda dan Desa Sulet Malunda.

"Pascagempa, upaya penanganan darurat masih terus berlangsung. Bahkan Gubernur Sulawesi Barat juga telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari yang terhitung mulai dari 15 hingga 28 Januari 2021 mendatang. Melihat dampak bencana ini, kami pin mengimbau agar masyarakat tetap selalu waspada dan siaga," ucapnya.

 

Baca : BMKG Imbau Warga Waspadai Cuaca Ekstrem di Puncak Musim Hujan

 

Ia menuturkan, terutama terkait dengan bencana hidrometeorologi dan potensi bahaya lainnya. Yaitu gempa bumi yang dapat terjadi setiap saat, seperti yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat. Selain itu, ancaman bahaya lain yang perlu diwaspadai adalah pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi penularannya di tengah-tengah masyarakat.

"Selain itu, BNPB juga mengingatkan untuk melakukan persiapan keluarga dalam menghadapi sejumlah potensi bahaya tersebut. Masyarakat bisa mendiskusikan terlebih dahulu dengan keluarga mengenai bagaimana cara mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko di sekitar. Salah satu caranya masyarakat bisa dengan memanfaatkan aplikasi, seperti InaRISK, Info BMKG, Magma Indonesia untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko tersebut," ujarnya.

Dikatakan, setelah itu, anggota keluarga pun dapat mendiskusikan upaya konkret yang dapat dilakukan di sekitar tempat tinggal. Karena, setiap keluarga juga tentunya memiliki tingkat risiko yang berbeda, seperti parameter anggota keluarga, topografi di sekitar rumah, kekuatan bangunan, atau tata ruang rumah.*

 

Baca pula : Gempa 3,7 Skala Richter Guncang Mamuju Tengah Sulawesi Barat