Ketua Umum SMSI Pusat Paparkan Teori Publisitas di Era Digital

Selasa, 02 Maret 2021 20:52 Eris Kuswara Nasional

Ketua Umum SMSI Pusat Paparkan Teori Publisitas di Era Digital

 

Koropak.co.id - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Medan Area, Prodi Ilmu Komunikasi menggelar kegiatan Seminar Online dengan mengusung tema "Semiloka Rekontruksi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka," Selasa (2/3/2021). Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus selaku narasumber seminar online pun memberikan paparan tentang dasar- dasar jurnalistik di era digital.

"Saat ini, ada beberapa masalah yang dialami media, mulai dari mencari model media, meningkatkan kepercayaan pembaca, membangun iklim bisnis, bersaing dengan media sosial yang banyak menarik minat para pengguna internet untuk segementasi hiburan serta praktik media terus berubah akibat disrubsi digital. Selain itu, media baru juga saat ini telah mengubah dunia jurnalisme dalam empat cara," kata Firdaus sebagaimana rilis yang diterima Koropak, Selasa (2/3/2021).

Diketahui keempat cara tersebut, tutur Firdaus, meliputi sifat konten berita yang berubah akibat dari munculnya teknologi media baru yaitu konten interaktif dan realtime. Kemudian yang kedua adalah cara wartawan dalam melakukan pekerjaannya berbasiskan digital dan multimedia serta multiplatform. Ketiga, struktur ruang redaksi dan industri berita yang sedang mengalami transformasi mendasar dan yang terakhir yaitu media baru yang membentuk kembali bagaimana hubungan antara unsur di dalam organisasi berita yaitu jurnalis dan audiens yang didalammya termasuk narasumber, pesaing, pengiklan, dan pemerintah.

"Era digital juga turut memunculkan karakter baru media digital, seperti teori gatekeeping yang menjelaskan berita diseleksi dan ditentukan tim redaksi sebelum berita ditayangkan dan tidak berlaku dalam media digital. Kemudian hal itu berubah menjadi gatekeeping digital, online dan virtual, karena interaktivitas audiens yang membuat audiens berpartisipasi sebagai penjaga gerbang sekunder di Internet. Selain itu, media digital dan media sosial juga memungkinkan audiens untuk berpartisipasi dalam dialog serta berinteraksi langsung dengan bisnis, institusi, dan pembuat berita," ucapnya.

Ia menambahkan, dalam menulis judul di media digital itu ditentukan oleh Google dengan sistem clickbait, yaitu istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca dengan menggunakan bahasa yang provokatif dan menarik perhatian. Hal itu dikarenakan judul adalah elemen yang paling pertama dibaca netizen di hasil pencarian, sehingga dengan mengoptimasi judul, maka jumlah klik bisa bertambah.

 

Baca : Kolaborasi Bersama Sukseskan Vaksinasi Covid-19 Bagi Awak Media

"Di era digital, jurnalis juga harus bisa menggunakan media sosial sebagai alat pengumpul informasi, memeriksa berita dari media lain, mendapatkan berita terkini, mewawancari narasumber, memvalidasi informasi, dan menyebarkan pemberitaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, trending topics media sosial juga dapat memiliki pengaruh yang signifikan dalam memproduksi informasi dan mempengaruhi agenda publik. Maka media pun menggunakannya, agar tidak tertinggal informasi yang sedang diperbincangan nitizen," ujarnya.

Ia menuturkan, menjadikan media sosial sebagai medium penyebarluasan berita itu sangat penting dikarenakan media sosial dapat memperluas kemampuan dalam berkomunikasi. Penyajian berita pada media sosial tersebut bisa dilakukan dalam format foto, infografis, video pendek berdurasi satu sampai enam menit, videografis dan live streaming. Sementara itu, berita juga terbagi dalam berbagai bentuk mulai dari hard news, berita opini hingga berita investigasi.

"Terkait dengan masa depan jurnalistik, menurut Burgess & Hurcombe, jurnalisme digital adalah praktik-praktik pengumpulan berita, pelaporan, produksi teks dan komunikasi tambahan yang mencerminkan, merespons, dan membentuk logika sosial, budaya dan ekonomi dari lingkungan media digital yang terus berubah. Sehingga, jurnalistik digital tidak hanya memindahkan produk media konvensional ke media digital, melainkan juga harus membuat model bisnis," tuturnya.

Dikatakan, model bisnis Siberindo.co, kata Firdaus menjadi media digital yang memotori SMSI untuk menjadi newsroom terbesar di Indonesia dan merupakan model bisnis media digital yang memproduksi konten-konten yang bisa digunakan oleh anggota SMSI se-Indonesia. Selain itu, tentunya kolaborasi ini berpotensi secara ekonomi dengan tetap memegang teguh prinsip akuntabilitas penulisan informasi.

"Masa depan jurnalistik adalah bagaimana kita bisa mengkombinasi jurnalisme lama dan baru yaitu dengan fungsi pers sebagai penjaga pintu dengan tidak menghilang sepenuhnya, melainkan dengan hanya mengecil dimensinya khususnya tentang apa yang harus disediakan pers. Pers itu harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kompleks dari sekadar penjaga pintu dan mengadopsi format baru dengan gaya bertutur, penyebaran dan pelibatan public dalam berita," tuturnya.*

 

Baca pula : SMSI Dukung Kebijakan Kapolri Utamakan Langkah Damai

 


Berita Terkait