Misteri Kampung Mati di Ponorogo yang Viral di Media Sosial

Sabtu, 06 Maret 2021 20:31 Eris Kuswara Nasional

Misteri Kampung Mati di Ponorogo yang Viral di Media Sosial

 

Koropak.co.id - Jika sebelumnya sempat viral kampung mati di Majalengka, kini kampung mati di Ponorogo juga ikut viral. Berbeda dengan kampung mati di Majalengka, kampung mati di Ponorogo ini diketahui memiliki jumlah hunian yang lebih sedikit. Selain itu, latar belakang ceritanya pun berbeda dan uniknya dari kampung mati di Ponorogo ini meskipun sudah tidak berpenghuni, namun masih ada mushala yang hingga saat ini masih digunakan.

Meskipun begitu, mushala tersebut hanya digunakan untuk ibadah salat dzuhur dan ashar saja. Diketahui, kampung mati di Kabupaten Ponorogo ini pertama kalinya viral di media sosial dan langsung menjadi perbincangan banyak orang. Disebutkan lokasi dri kampung mati tersebut berada di Dusun Krajan I, Dukuh Sumbulan, Desa Plalang, Kecamatan Jenangan, Ponorogo Jawa Timur.

Pada awalnya kampung yang dikenal dengan nama Sumbulan tersebut dihuni oleh 30 Kepala Keluarga (KK). Namun, sejak lima tahun terakhir, kampung tersebut sama sekali tidak berpenghuni dan semua warganya pindah hingga disebut kampung mati.

Salah Satu Mantan Warga Kampung Sumbulan, Sumarno mengatakan, mayoritas penyebab warga Kampung Sumbulan pindah dikarenakan akses jalan yang sulit. Dia juga menceritakan bahwa dahulu pada tahun 1980 di kampung tersebut berdiri sebuah pondok pesantren yang didirikan oleh seorang anak ulama dari Demak, Nyai Murtadho.

"Sejak saat itulah banyak warga yang datang dan belajar agama di pondok pesantren tersebut dan kebanyakan berasal dari luar daerah Ponorogo. Setelah Nyai Murtadho dan keluarganya meninggal, pondok pesantren semakin sepi. Sehingga sejak saat itulah, satu per satu warga di Kampung Sumbulan pindah dari wilayah yang memiliki luas sekitar tiga hektar itu," kata Sumarno sebagaimana dihimpun Koropak, Sabtu (6/3/2021).

 

Baca : Desa Sidamukti, Desa Mati di Majalengka yang Mendadak Viral di Media Sosial

Sementara itu, Kepala Desa Plalangan, Ipin Herdianto menuturkan, di kampung tersebut terdapat sebuah mushala tua yang hingga saat ini masih dipakai. Tercatat, sejak lima tahun terakhir, kampung itu sudah tidak lagi berpenghuni. Padahal, di kampung tersebut setidaknya ada empat bangunan rumah permanen yang masih layak huni.

"Sebelum kampung itu kosong, ada dua kepala rumah tangga yang tinggal. Tapi seperti warga lainnya, mereka memilih pindah. Selain itu, kampung tersebut juga sempat ramai dikunjungi oleh orang untuk menimba ilmu di Desa Plalang. Namun, lama kelamaan mereka juga memilih pindah mengikuti keluarga ke kampung lain.
Warga meninggalkan kampung itu bukan karena persoalan mistis, namun saya juga meyakini bahwa semua tempat pasti memiliki cerita mistis masing-masing," tutur Ipin.

Meskipun kampung itu kosong, kata Ipin, masih ada mushala yang masih dimanfaatkan warga untuk menjalankan ibadah shalat dzuhur dan ashar. Diketahui mereka yang datang untuk beribadah adalah petani yang memiliki sawah di dekat lingkungan tersebut. Sementara itu, hingga saat ini, tidak ada satu pun warga yang ingin kembali ke kampung tersebut dikarenakan mereka sudah memiliki rumah sendiri. Namun mereka juga sesekali datang ke kampung mati dikarenakan masih memiliki aset.

"Kepemilikan tanah di kampung tersebut sebagian besarnya dikuasai oleh beberapa ahli waris. Selain itu, warga yang datang juga hanya untuk menggelar acara peringatan hari wafatnya pendahulu yang meninggal di kampung tersebut. Kampung mati itu juga sempat ditawar oleh pengembang untuk dijadikan kompleks perumahan. Namun, pemilik tanah menolak tawaran tersebut dan mereka hanya akan menjual tanahnya jika untuk membangun pesantren," katanya.*

 

Baca pula : Hiu Tutul Terdampar, Jadi Tontonan Gratis Warga

 


Berita Terkait