Varian Baru Virus Corona Eek Sudah Masuk Indonesia

Rabu, 07 April 2021 09:08 Eris Kuswara Nasional

Varian Baru Virus Corona Eek Sudah Masuk Indonesia

 

 

Koropak.co.id - Setelah sebelumnya menghebohkan negara Jepang, dikabarkan ternyata varian baru virus Corona yang bermutasi menjadi E484K atau varian Eek sudah masuk Indonesia sejak Februari 2021 lalu. Diketahui, temuan ini didapatkan dalam pemeriksaan sampel dari salah satu rumah sakit di Jakarta Barat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi menyebutkan bahwa pasien dengan varian Eek di Indonesia sudah sembuh. Begitu juga dengan hasil tracingnya dinyatakan bahwa tidak ada satu pun yang dinyatakan positif Corona dari kontak erat dengan pasien varian Eek tersebut.

"Iya, untuk satu spesimen dari DKI Jakarta di bulan Februari 2021 dan saat ini dia sudah sembuh dia. Selain itu, kita juga sudah men-tracing kasus kontaknya dan tidak ada yang positif sampai saat ini," kata dr Nadia sebagaimana dihimpun Koropak, Rabu (7/4/2021).

 

Baca : WHO Rilis Hasil Investigasi Asal Usul Virus Corona di China

 

Diketahui sebelumnya, Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Subandrio menyebutkan bahwa sampel pasien varian Eek diambil per 2 Februari 2021 dan sampel tersebut dirujuk ke Eijkman dari salah satu rumah sakit di Jakarta Barat. Setelah melalui sejumlah proses dalam tahap whole genome sequencing, temuan varian Eek tersebut baru bisa dilaporkan pada Maret 2021.

"Sampelnya itu diambil per tanggal 2 Februari 2021, akan tetapi untuk sequensnya baru selesai tanggal 18 Maret 2021," tutur Prof Amin.

Sementara itu, berdasarkan penelitian di Afrika Selatan, menyebutkan bahwa ada kemungkinan varian Eek tersebut membentuk kombinasi dengan mutasi lainnya. Oleh karena itulah, dikhawatirkan vaksin yang ada saat ini bisa tidak mempan dalam mengatasi infeksi oleh mutasi E484K.

Namun, dr Nadia sendiri menegaskan bahwa mutasi E484K atau varian Eek tidak berbahaya dan menurutnya mutasi E484K adalah single mutant

dan bukan multiple mutasi seperti varian di B117. Tercatat, dari lebih 900 sampel yang di-sequence dan diinput ke bank data GISAID, baru ada satu mutasi E484K yang ditemukan di Indonesia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini