Tunggul Kuras

Rabu, 15 September 2021 15:12 Redaksi Opini

Tunggul Kuras

 

Menjelang haul nenek tahun ini, saya tiba-tiba teringat nasihatnya: anjeun kudu boga tunggul kuras.

Dulu, saat beliau menitipkan pesan yang singkat itu, saya tidak terlalu paham. Entah apa maksudnya. Hanya bisa mengangguk dan pergi meninggalkannya setelah diberi beberapa lembar uang untuk membeli sepatu bola.

Setelah dewasa, terutama saat terjebak pada masalah keuangan, nasihat itu kembali hadir dalam ingatan. Ia hadir setelah orang-orang menyalahkan saya yang dituding tidak bisa mengelola uang. Mereka menyalahkan lantaran saya tidak bisa mengatur finansial, sehingga di dalam kas tidak ada uang sepeserpun.

“Anjeun, kudu boga tunggul kuras, Jang. Kudu boga tunggul kuras.”

Pesan nenek itu terasa hidup lagi di saat orang-orang berdasi berbicara tentang literasi finansial. Rupanya, jauh sebelum bising soal ilmu tentang kecerdasan finansial, para karuhun sudah pandai mengelola harta dengan cara yang sangat sederhana. Tidak perlu banyak teori yang dinukil dari pemikir-pemikir barat, tapi cukup dengan ungkapan tunggul kuras.

Prinsipnya, tunggul kuras itu berkaitan dengan mengelola arus kas, mengelola keuntungan modal, membangun aset, dan memprioritaskan kewajiban. Juga tentang membuat keputusan finansial, skala prioritas, perencanaan dana pensiun, pendidikan anak, dan spiritual.

Tunggul kuras bermakna bahwa kita tidak boleh membuat dompet atau tempat menyimpan duit dalam keadaan kosong. Selalu sisipkan uang dalam dompet, walaupun sedikit. Jangan sampai kosong. Walau seperak, harus ada.

Simpanlah duit walau sedikit, untuk berjaga-jaga jika kelak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Indah sekali orang tua kita zaman dahulu. Kecerdasan finansial mereka jauh melampui para pakar ekonomi di zaman berikutnya.

Tunggul kuras bukan hanya menyimpan uang dalam bentuk fisik, selembar atau dua lembar rupiah. Bisa jadi dalam bentuk lain, seperti tanah atau harta berharga lainnya. Bahkan, bisa juga berupa “tabungan” kebaikan kepada semesta; alam beserta isinya.

Pesan terakhir itu yang nenek tekankan: menyimpan kebaikan kepada semesta. Salah satu caranya dengan rajin sedekah. Walau sedikit, saat keluar rumah dan bertemu orang-orang kurang beruntung secara materi, beri mereka uang meski jumlahnya tidak seberapa.

Tunggal kuras yang dipesankan nenek, selain terkait dengan kecerdasan mengelola uang, yang lebih penting adalah di setiap hari jangan sampai tidak berbuat baik. Jangan biarkan hari berlalu tanpa menanamkan kebaikan.

Bukankah rezeki itu bisa datang kepada kita melalui tiga cara, yaitu Allah beri, kamu cari, atau kamu pernah memberi.*

 

Baca juga : Kamu Tidak Sendiri, Masih Ada yang Selalu Mencintaimu