Lihatlah Kang Momon, Sudut Pandangmu Pada Juru Parkir Bakal Berubah

Jum'at, 17 September 2021 16:22 Eris Kuswara Daerah

Lihatlah Kang Momon, Sudut Pandangmu Pada Juru Parkir Bakal Berubah

 

Koropak.co.id - Harus diakui, tak semua orang suka dengan juru parkir. Sebagian mereka ada yang berpenampilan seperti preman, kerjanya hanya memegang kendaraan sebagai bentuk formalitas, kadang meniup peluit alakadarnya dan kemudian meminta uang.

Tunggu dulu. Lihatlah pribadi yang satu ini, Kang Momon (50) namanya. Tugasnya memang sebagai juru parkir, di sebuah toko modern, tidak begitu jauh dari Bale Kota Tasikmalaya.

Jangan lihat keterbatasan fisiknya. Tapi pertimbangkanlah keseriusannya melayani customer, para pemilik motor dan mobil yang singgah di minimarket tempat dia berjaga akan dilayani dengan sangat baik.

Kang Momon akan selalu mengumbar senyum. Ia sigap membantu motor dan mobil yang hendak parkir, menyebrang atau sekedar masuk lintasan. Ia juga piawai mengatur motor berjejer rapi agar mudah ke luar-masuk.

Peluit yang dia pakai bukan asesoris belaka. Ia pergunakan sebagaimana fungsinya. Tiupannya terdengar nyaring dan tegas. Sangat membantu pengemudi yang keluar-masuk minimarket tersebut.

Satu hal lagi yang menarik, Kang Momon memperlakukan customer sama, baik yang memberi duit ataupun tidak. Baginya, perkara rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tidak akan tertukar.

"Kalo ada yang ngasih diterima, kalo nggak ada juga gapapa," katanya, saat berbincang bersama Koropak disela-sela dia bertugas, Kamis (16/9/2021).

Keterbatasan fisik yang dialaminya sejak lahir itu tak menyurutkan semangatnya bekerja. Meski tidak memiliki dua tangan sempurna, namun dia masih penuh percaya diri. Menjalankan aktivitas sehari-hari layaknya orang pada umumnya.

 

Baca : Cerita Mang Oyon Jualan Es Cincau Sejak Harga Selawe Hingga Noceng

"Saya dari dulu tidak ingin bersekolah di SLB. Meski beberapa kali mengalami penolakan di sekolah normal, alhamdulillah saya diterima juga. Karena waktu itu saya juga bilang ke gurunya kalo ga bisa nulis paling tidak saya bisa membaca. Pastinya ga akan percaya juga waktu sekolah itu saya nulis menggunakan kaki," jelasnya.

Bersekolah di tempat yang normal tentu bukan perkara mudah. Pada awalnya dia sering mendapatkan tekanan, mulai yang menghina hingga membully. "Saya sama dia sama-sama manusia, terus saya dan dia juga sama-sama makan nasi jadi enggak ada yang salah kan," tegasnya.

Seiring berjalannya waktu, dikarenakan pergaulannya yang sering bersama dengan orang normal, dia bersyukur karena sudah tidak ada lagi yang membully-nya. Bahkan jika ada yang melakukan perundungan padanya, semakin banyak teman yang membela.

Kini, dia bersyukur karena masih memiliki pekerjaan di tengah pandemi Covid-19. Ia bekerja mulai pukul 07.00-11.00 WIB. Lalu istirahat, dilanjutkan lagi mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB.

"Awalnya sih bekerja sendiri, tapi semenjak pandemi banyak orang yang ikut jadi tukang parkir. Hasil yang saya dapatkan ini, saya setoran ke Karang Taruna Rancabango sebesar Rp 10 ribu dan sisanya diambil. Alhamdulillah kita masih bisa berbagi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari."

"Kini jadwal parkirnya itu dibagi-bagi tidak seperti dulu yang bisa sampai malam," tuturnya.

Soal besaran pendapatan tentu tidak menentu, jika sedang ramai dia bisa membawa uang hingga Rp 80 ribu ke rumahnya. Namun jika sepi, jauh dari angka yang tadi disebutkan juga sering.

Bapak satu anak ini lantas memberi motivasi kepada generasi muda di manapun berada. Bagi kalian semua yang membaca tulisan ini.

"Bekerja dalam bidang apa pun harus disyukuri dan rezeki itu harus dijemput. Karena rezeki enggak akan datang dengan sendirinya."

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait