Penyimpangan Seksual Semakin Marak, Ini Jawabannya

Jum'at, 17 September 2021 20:11 Eris Kuswara Nasional

Penyimpangan Seksual Semakin Marak, Ini Jawabannya

 

Koropak.co.id - Psikolog Endra Nawawi S. Psi. M. Psi. angkat bicara terkait maraknya kasus kejahatan dan penyimpangan seksual yang terjadi akhir-akhir ini.

Ia menyebutkan bahwa dalam dunia psikologi tidak ada istilah kejahatan seksual melainkan penyimpangan seksual.

"Jika mengambil dari sudut pandang kriminologi, tentu itu termasuk tindakan kejahatan. Dalam ilmu psikologi juga, ada yang disebut disorientasi dan ada juga yang disebut disfungsi atau gangguan terhadap fungsinya contohnya seperti Impotensi atau ereksi," katanya saat berbincang dengan Koropak, melalui sambungan telepon, Jumat (17/9/2021).

Endra menjelaskan, untuk orang yang masuk ke dalam penyimpangan seksual disebut disorientasi, contoh kasusnya pedofilia dan sodomi terhadap anak dan lainnya.

Selain itu, psikologi juga memiliki dua sudut pandang yang berbeda yakni bisa dilihat dari terminologi keilmuan dan terminologi krimonologi atau yang harus dilihat dari setiap kasusnya.

"Misalkan saja kasus yang terbaru tentang kebebasan Saipul jamil, itu banyak terminologinya mulai dari terminologi disorientasi penyimpangannya, pedofilianya dan sodominya terhadap anak."

"Sementara untuk kasus dokter pria yang di Semarang itu, masuknya ke disorientasi fantasi. Sebab, jika dilihat dari terminologi kriminologinya, itu bukan masuk ke penyimpangan seksual yang sifatnya activity seksual."

Dikatakan, secara prinsip yang sering dia bahas dalam dunia psikologi itu ada dua model gangguan yakni disfungsi dan disorientasi.

Sementara itu, untuk prinsip yang sering dipermasalahkan saat ini adalah disorientasi karena sering berhubungan dengan perilaku kriminalnya yang melanggar norma dan aturan yang berlaku.

 

Baca : Saipul Jamil Datang, Nusa Rara Cabut

"Tentunya jika sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan, sudah dipastikan itu sebagai perilaku menyimpang. Intinya yang sedang marak saat ini adalah disorientasi yang berhubungan dengan fantasi berbeda-beda," tambahnya.

Endra menuturkan, kejadian penyimpangan ini tentunya bisa terjadi karena diawali dengan pendidikan yang salah sejak anak usia dini. Banyak kasus terjadi lantaran pola asuh yang tidak tepat.

Penyebab berikutnya, bisa jadi karena kesalahan di media. Maksud dia, saat ini orang begitu bebas dalam mengakses berbagai informasi. Akibatnya, daya seksual dan fantasinya itu malah disalurkan dengan cara yang salah.

"Cara membedakan orang yang menyimpang itu sulit karena tidak ada secara spesifik. Sehingga saat ini orang-orang normal dan yang menyimpang itu seolah-olah sama. Namun orang itu bisa dikatakan menyimpang jika dia sudah melakukan tindakan nyata," tuturnya.

Endra berpesan bahwa yang terpenting adalah pendidikan sejak anak usia dini. Maka, jika sudah ditemukan indikasi ke arah penyimpangan, diharapkan secepatnya melaporkan kejadian itu minimal kepada orang terdekat seperti orangtua. Kemudian juga bisa ke polisi melalui PPA atau KPAI.

"Jika ingin meminimalisir kasusnya, intinya kita bisa dimulai dengan pendidikannya dari keluarga terlebih dahulu. Jika dibiarkan, lama kelamaan yang tadinya menjadi korban justru dia bisa menjadi pelaku akibat tidak tertangani dan tidak diarahkan," tutupnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini