Penjahat Kelamin Semakin Kreatif, Begini Pandangan Psikolog

Senin, 20 September 2021 11:32 Eris Kuswara Nasional

Penjahat Kelamin Semakin Kreatif, Begini Pandangan Psikolog

 

Koropak.co.id - "Amenangi zaman edan. Ewuhaya ing pambudi." Artinya, "Kita berada pada zaman edan. Serba susah dalam bertindak." Demikian sedikit kutipan syair "Zaman edan," buah karya pujangga Kasunanan Surakarta, Raden Ngabehi Rangga Warsita.

Tentang orang-orang yang mengisi zaman ini, yang semakin aneh dengan beragam tabiatnya, memang tak bisa dibantah. Beragam cara orang memenuhi berbagai kebutuhan dan kepuasan, termasuk bilogis.

Tidak sedikit orang melakukan cara aneh untuk memenuhi hasrat birahi. Mereka adalah para penjahat kelamin yang tidak lagi mementingkan moral dan norma masyarakat umum.

Para penjahat kelamin semakin. Berbagai cara mereka gunakan. Seperti kasus seorang oknum dokter, pria, di Semarang, beberapa waktu lalu. Si dokter ini diketahui mencampurkan spermanya ke makanan wanita yang disukainya. Padahal wanita yang disukainya itu punya suami.

Dikutip dari berbagai sumber, pelaku berinisial DP tersebut juga kebetulan tinggal satu kontrakan bersama korban. Sehingga, setiap kali korban mandi, DP langsung melancarkan aksi piciknya ke luar kamar dan masturbasi.

 

Baca : Mengapa Catcalling Termasuk Sebagai Pelecehan?

Setelah itu, sperma miliknya pun langsung dicampurkan ke dalam makanan yang akan dimakan korban. Diduga sebelum masturbasi, pelaku juga terlebih dahulu mengintip korban yang sedang mandi melalui lubang kecil di dinding. Tak berselang lama, aksi bejatnya itu berhasil terbongkar karena korban mencurigai makanannya.

Diduga korban curiga karena makanannya yang berada di dalam tudung saji kerap berubah-ubah. Sehingga, korban pun memutuskan untuk merekam secara diam-diam menggunakan ponselnya dan terungkaplah aksi bejat DP.

Saat ini, DP sudah diamankan Polisi setempat. Berdasarkan hasil keterangan, ternyata DP sudah beberapa kali melakukan perbuatan bejatnya. Akibat perbuatannya itu, DP pun diancam Pasal 281 Ayat (1) KUHP Tentang Kejahatan Terhadap Kesopanan.

Selain kasus dokter pria di Semarang, contoh kasus kejahatan seksual lainnya yang semakin ‘kreatif’ adalah kejahatan begal payudara. Ada-ada saja.

Pelakunya begal ini kerap menggunakan sepeda motor untuk melancarkan aksinya. Mirip begal memang. Berbuat jahat lalu pergi. Bedanya dengan begal umum, pelaku memegang buah dada para wanita yang disasarnya.

Kasus lainnya yang selalu ramai di media adalah fetish. Perilaku ini dilancarkan melalui internet dan media sosial. Contohnya perilaku fetish kain jarik, mukena, dan lainnya.

Jika para penjahat kelamin semakin kreatif berbuat, maka sudah sepatutnya kita makin waspada. Yang terpenting adalah jangan mudah percaya dengan orang lain. Sebab, bagi para penjahat, kepercayaan dan kelengahan tersebut bisa menjadi jalan berbuat jahat.

 

Baca : Waspada! Pedofil Ada Disekitar Kita

Psikolog, Endra Nawawi S. Psi. M. Psi. menanggapi fenomena ini. Dalam dunia psikologi, kata dia, kasus-kasus tersebut masuk dalam kategori disorientasi yang berhubungan dengan fantasi berbeda-beda. Kejadian ini bisa terjadi, karena diawali dengan pendidikan yang salah sejak anak usia dini baik itu untuk korban apalagi pelaku.

"Selain itu juga karena kesalahan di media, jadi saat ini orang begitu bebas dalam mengakses berbagai informasi. Sehingga mengakibatkan daya seksual dan fantasinya disalurkan dengan cara yang salah," kata Endra saat berbincang dengan Koropak melalui sambungan telepon, Jumat (17/9/2021).

Endra berkata, tidak ada secara spesifik bahwa orang yang disorientasi ini memiliki kelainan atau perilaku menyimpang. Jadi terkadang orang-orang normal dan yang menyimpang itu seolah-olah sama.

Jadi, membedakan mereka yang punya orientasi menyimpang hanya satu, mengetahui setelah mereka melakukan tindakan nyata. "Terkadang seseorang yang berperilaku feminim juga belum tentu menyimpang."

"Makanya disini yang terpentingnya adalah pendidikan sejak anak usia dini. Jika sudah ditemukan indikasi ke arah penyimpangan, maka secepatnya melaporkan minimal kepada orang terdekat seperti keluarga. Atau bisa juga ke polisi melalui PPA atau KPAI," tambahnya.

Ia menjelaskan, jika ingin meminimalisir kasus penyimpangan seksual itu bisa dimulai pendidikannya dari keluarga terlebih dahulu. Sebab jika dibiarkan, lama kelamaan disamping kesalahan media, terkadang korban juga bisa menjadi pelaku.

"Alasannya itu karena dia tidak tertangani dan tidak diarahkan sehingga membuatnya menjadi pelaku," jelasnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait