Kopi, Rokok dan Pisang Goreng

Minggu, 10 Oktober 2021 21:09 Redaksi Opini

Kopi, Rokok dan Pisang Goreng

 

Selumbari alias kemarin dulu, saya mendengar kisah seorang pemuda pengangguran. Kesukaannya; kopi, rokok dan pisang goreng.

Sial. Sebab pandemi Covid-19, tiga jenis ini tidak dapat terpenuhi lancar. Alasannya klasik, perekonomian sedang tidak baik-baik saja. Terpaksa dia berpuasa kopi-rokok-pisang goreng.

Nahas memang. Sudah sepekan lebih dua hari dia begitu. Akhirnya doa indah terpanjatkan dari lisannya. "Ya Tuhan, kopi Ya Tuhan. Kopi saja Ya Tuhan."

Tuhan Maha Mendengar. Rezeki yang dinanti tiba. Saat sedang berjalan di sudut jalan pemakaman umum, pemuda itu ditawari kopi gratis oleh Pak Lurah.

Si hitam nan pahit itu terhidang. Mengepul mantap menggoda selera. Tapi bersamaan dengan itu, pikiran pemuda kini bertambah, seandainya ada rokoknya sekalian. "Ya Tuhan, rokoknya sekalian."

Pak Lurah peka, sama-sama ahli hisap juga. Tawaran sebatang kretek buat sang pemuda mengalir syahdu, "Silahkah, wahai anak muda. Ini rokoknya sekalian."

Kopi sudah. rokok sudah. Giliran pisang goreng yang belum. Sambil menghabiskan kopi dan rokok, pikiran pemuda ini dibayang-bayangi pisang goreng. Setiap seruputan kopi, ada pisang goreng. Setiap sedotan kretek, ada pisang goreng. "Ya Tuhan, pisang gorengnya sekalian."

Kisah berbeda. Kemarin, saya mendapat pesan WhatsApp dari seorang teman. Kalimatnya unik dan menggelitik, begini: "Datanglah pada motivator, niscaya kamu akan menemukan banyak kekurangan. Dan, datanglah pada ulama, kamu akan merasakan banyak kecukupan."

Dan hari ini, Ahad, 10 Oktober 2021, diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Ada data mencengangkan dirilis lembaga berwenang, bahwasannya, 20 persen penduduk di Indonesia berpotensi gangguan jiwa. Artinya, 1 di antara 5 penduduk Indonesia berisiko mengalami gila.

Masalah kejiwaan ini kompleks. Sumber daya yang dimiliki oleh negara kita masih sangat terbatas. Berbagai sarana pelayanan, Rumah Sakit Jiwa hingga SDM profesional yang menangani urusan ini.

Bayangkan saja. Tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa yang ada di negara kita hanya sebanyak 1.053 orang jumlahnya. Ini beban ekstra dalam penanganan masalah kejiwaan. Diperkirakan satu orang psikiater di Indonesia harus melayani sekitar 250 ribu penduduk.

Kisah pemuda yang suka kopi, status WA teman saya dan hari kesehehatan jiwa sedunia pasti ada kaitannya. Setidaknya untuk saya pribadi, jadi merenung panjang. Ini semua pastinya tentang angan-angan dan juga harapan yang tak berkesudahan.

Angan-angan dan hidup selalu merasa kurang. Inilah yang kerap membuat tidur tidak nyenyak. Yang membuat hidup terasa tidak nikmat. Kerap membuat tersiksa. Ingin ini dan itu. Seandainya dan seandainya.

Padahal besok lusa tak ada yang tahu kehidupan seperti apa. Tak ada yang bisa menjamin, kecuali Dia, bahwa besok matahari masih akan terbit. Bisa jadi lusa ada sakit mendera. Tak menutup kemungkinan besok nyawa sudah berbeda alamnya. Belum sempat kita nikmati hari ini, angan yang panjang dan tak berkesudahan telah nyata membuat membuat batin tersiksa nan merana.

Nikmatilah apa yang ada sekarang. Syukuri segala nikmat yang Dia berikan. Hanya itu cara agar bahagia. Dan hanya dengan itu kita bisa mendapatkan rahmat dan ampunanNya. Juga ditambah lagi banyak kenikmatan yang tak terhingga olehNya.

Tak perlu disiksa angan. Tak perlu menduga-duga. Allah, Tuhan kita, bisa membantu dengan cara di luar logika manusia.

Huft... Cukuplah sabda kanjeng Nabi Muhammad shallahu'alaihi wasallam ini sebagai penutupnya.

" Dan rido-lah dengan apa yang diberikan Allah kepada mu, maka kamu menjadi orang yang paling kaya..."

 

Baca juga : Catatan Redaksi


Berita Terkait