Triliunan Masalahmu Solusinya Satu; Ibu

Rabu, 13 Oktober 2021 08:59 Redaksi Opini

Triliunan Masalahmu Solusinya Satu; Ibu

 

Kutipan kalimat dari seorang Syaikh pagi ini membuat suasana jadi gerimis. Padahal cuaca Bandung sedang tidak mendung.

Singkat kata-katanya. Cuma 59 detik. Tapi sangat membekas hingga membuatku ingin segera pulang.

Pembukanya adalah doa. Memohon kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, keberkahan dan kemuliaan untuk seorang manusia, bernama : IBU.

"Jika kamu memiliki hajat mendesak. Jika kamu memiliki keinginan yang harus segera tercapai.

Hutang tidak terbayarkan. Sakit yang tak kunjung sembuh. Kesedihan yang berkepanjangan.

Musuh yang selalu mengintai. Atau masalah yang teramat sangat sulit diselesaikan.

DATANG PADA IBUMU. DATANGILAH DIA. PERCAYALAH. IBUMU SOLUSINYA.

Sebuah hadis berbunyi, cara memohon belas kasihan ibumu adalah dengan bersimpuh di kakinya.

Sentuh, peluk dan cium kakinya. Ini nyata.

Dia adalah ibumu. Sumber kasih sayangmu, Cintamu, Ridho Allah, kebutuhanmu dan harapanmu."

Betapa sering mendengar dalil dan ungkapan tentang kemuliaan seorang ibu.

Begitu banyak renungan yang sudah di dengar tentang keagungan seorang ibu. Malahan, kadang ada rasa bosan tatkala ada yang berceramah soal ini.

Bisa jadi, masalah yang tak kunjung selesai menghampiri, karena dosa dan abainya kita kepada ibu. Atau, kita sering terlupa hanya sekadar mendoakannya. Naudzubillah.

Kadang, karena merasa lebih hebat dari ibu, akhirnya mencari solusi lain untuk menyelesaikan masalah ini dan itu. Tanpa menjadikan solusi berupa: ibu.

Atau, karena merasa punya: kemampuan, kecerdasan, kekayaan, pengalaman dan gelar, jadinya merasa lebih tinggi dari ibu. Lalu, tak pernah terpikir bahwa solusi dari semua masalah yang ada adalah dia.

Memang, dia tak punya ilmu setinggi itu. Ia tak bisa dimintai pendapat sebagaimana konsultan professional. Dan atau, dia tak punya duit untuk memberi modal anaknya. Membayarkan utang-utang anaknya.

Dengan segala hal pandangan itu, sungguh, sering sekali tak memikirkan solusi kembali padanya. Bersimpuh padanya. Solusi darinya tak pernah terpikirkan.

Hanya sesekali saja mendatangi ibu. Cukup dengan mencium tangannya. Berbasa-basi alakadarnya. Dan kemudian, meminta doa darinya sambil berlalu, tanpa kesungguhan.

Bukankah tanpa diminta doa ibu mengalir selalu? Benar. Itu benar sekali. Jangankan doa, nyawanya saja mau diberikan pada kita.

Alangkah ruginya jika hari ini, saat ibu masih ada, kita tidak pernah bersimpuh di kakinya.

Kapan terakhir kali :

Mencucikan kakinya dengan air hangat?

Membuatnya tersenyum bahagia karena pemberianmu?

Memotongkan kuku di jari dan kakinya yang sudah semakin keriput itu?

Kapan terakhir kali menghindangkannya teh panas dan menyiapkan makanan kesukaannya?

Selagi ada kesempatan, pulanglah. Datangilah ibu. Bersimpuhlah di kakinya. Itulah solusi dari beragam problematika hidup yang menyesakkan.

Pulanglah walau kau belum berhasil dalam perantauan. Ia tak menginginkan harta berlebih.

Cukup dengan membawa oleh-oleh sepasang sandal itu jauh lebih dari cukup membuatnya bahagia. Setidaknya surga kita tidak kotor saat dia berjalan tertatih ke halaman rumah.

Bukankah kita rindu pulang? Seperti kata Iksan Skuter, "Rindu sayur bayam masakan ibu."

Jika tak memungkinkan pulang, karena satu-dua hal, teleponlah. Video call-lah. Bersimpuh dengan caramu melalui jarak jauh.

Jika dia telah tiada, kirimlah fatihah. Berdoalah sebanyak-banyaknya. Berwakaf dan sedekah atas namanya. Sambunglah silaturahim dengan sanak family dan sahabatnya.

Kita semua sudah tahu, bahwa anak shaleh dan shalehah akan menjadi sumber kebahagiaan ibu di alam barzakh-nya.*

 

Baca juga : Catatan Redaksi

 


Berita Terkait