5 Fakta Baru Kasus Dugaan Pencabulan Tiga Anak di Sulsel

Rabu, 13 Oktober 2021 11:28 Eris Kuswara Nasional

5 Fakta Baru Kasus Dugaan Pencabulan Tiga Anak di Sulsel

 

Koropak.co.id - Kendati belum membuka kembali penyelidikan, namun Tim asistensi Bareskrim Polri berhasil menemukan 5 fakta terbaru terkait kasus dugaan pencabulan terhadap tiga anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan publik.

1. Penyidik terima surat pengaduan dari RS pada 9 Oktober 2019

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan fakta pertama yang terungkap adalah penyidik menerima surat pengaduan dari saudari RS pada 9 Oktober 2019.

Kemudian untuk isi surat pengaduannya sendiri menjelaskan bahwa yang bersangkutan melaporkan dugaaan tindak pidana yaitu perbuatan cabul.

"Jadi itu bukan perbuatan tindak pidana perkosaan, seperti halnya yang viral dan menjadi perbincangan publik. Inilah yang perlu kita ketahui bersama," katanya sebagaimana dihimpun Koropak, Rabu (13/10/2021).

2. Hasil visum di Puskesmas Malili

Tercatat pada 9 Oktober 2019, tim meminta hasil visum et repertum-nya dan pada 15 Oktober 2019, penyidik menerima laporan hasilnya dari Puskesmas Malili yang ditandatangani oleh Dokter Nurul.

"Tim pun melakukan interview terhadap Dokter Nurul pada 11 Oktober 2021 dan hasilnya, Dokter Nurul menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaannya itu tidak ada kelainan pada organ kelamin dan dubur korban," ujarnya.

3. Penyidik Meminta Visum ke RS Bhayangkara Makassar

Pada 24 Oktober 2019, penyidik meminta visum et repertum ke RS Bhayangkara Makassar dan hasilnya keluar pada 15 November 2019 yang diteken oleh Dokter Deni Mathius.

"Hasilnya juga tidak ada kelainan pada alat kelamin dan dubur korban serta tidak diketemukan pula perlukaan pada tubuh lainnya," ucapnya.

 

Baca : Tak Puas Cabuli Bocah, Seekor Ayam Jadi Sasaran Nafsu Wahyu

4. Pemeriksaan medis ketiga korban di RS Vale Sorowako

Selanjutnya pada 31 Oktober 2019, tim penyidik atau supervisi mendapatkan informasi bahwa di tanggal tersebut saudari RS telah melakukan pemeriksaan medis terhadap ketiga anaknya di RS Vale Sorowako.

Informasi itu didalami tim supervisi dan asistensi dengan melakukan interview terhadap Dokter Imelda, spesialis anak di RS Vale Sorowako yang melakukan pemeriksaan.

"Tim melakukan interview pada 11 Oktober 2021 dan didapati keterangan bahwa terjadinya peradangan di sekitar vagina dan dubur. Sehingga ketika dilihat ada peradangan pada vagina dan dubur, diberikanlah antibiotik dan parasetamol obat Nyeri," tuturnya.

Selain itu, dokter itu juga turut menyarankan tim kepolisian beserta orang tua korban untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis kandungan, guna mendapati titik terang dari perkara ini.

5. Melakukan Interview dengan Petugas P2TP2A Pemda Luwu Timur

Untuk menemukan titik terang dari kasus ini, tim pun melakukan interview kepada Yuleha dan Hirawati, petugas P2TP2A Pemda Luwu Timur yang telah melakukan asesmen dan konseling pada RS dan ketiga anaknya.

Diketahui, kegiatan itu dilaksanakan pada 8,9 dan 15 Oktober 2019 dengan hasil kesimpulan tidak ada tanda-tanda trauma pada ketiga korban terhadap ayahnya.

"Untuk mengetahui ada tidaknya tindak pidana perbuatan cabul seperti yang terdapat dalam surat pengaduan dari RS dan juga menindaklanjuti saran dari dokter Imelda, maka tim supervisi pun meminta para korban untuk melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis kandungan. Di mana pemeriksaan itu tentunya didampingi oleh ibu korban dan juga pengacara dari LBH Makassar," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, ibu korban menyepakati bahwa pemeriksaan akan dilakulan di RS Vale Sorowako. Akan tetapi pada 12 Oktober 2021, kesepakatan itu dibatalkan ibu korban dan juga pengacaranya dengan alasan anaknya yang takut trauma.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini