Menyoal Hari Libur Keagamaan Digeser di Harpitnas

Rabu, 13 Oktober 2021 16:16 Aisya Kartika Nasional

Menyoal Hari Libur Keagamaan Digeser di Harpitnas

 

Koropak.co.id - Keputusan pemerintah yang membuat keputusan menggeser libur hari besar keagamaan menuai menuai beragam pro dan kontra.

Alasan pemerintah tidak diterima sebagian kalangan. Hari libur yang jatuh pada 'Harpitnas' atau hari kejepit nasional dianggap tidak masuk akal.

Kebijakan pemerintah tersebut dikatakan merupakan suatu bentuk upaya atas pencegahan penyebaran Covid-19. Keputusan itu merupakan hasil dari pertimbangan dan analisa pemerintah atas dampak libur panjang sebelum-sebelumnya.

Sejauh ini, pemerintah telah melakukan revisi jadwal libur nasional serta cuti bersama sebanyak dua kali, yang mana revisi kedua dilakukan pada pertengahan tahun 2021 ini.

Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, keputusan merevisi libur dan cuti bersama ini diambil atas dasar pertimbangan kasus Covid-19 yang kian melonjak.

Dalam jumpa pers hari Jumat 18 Juni 2021 lalu, Muhadjir menerangkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah pelaksanaan rapat lintas kementerian.

Dari hasil rapat tersebut, pemerintah memutuskan untuk mengubah dua hari libur nasional dan meniadakan satu hari cuti bersama. Poin keputusan yang dapat diperoleh ialah :

1. Libur tahun baru Islam 1443 Hijriah pada Selasa 10 Agustus 2021 diundur menjadi Rabu 11 Agustus 2021.

2. Libur Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di tanggal 19 Oktober 2021 diundur menjadi Rabu 20 Oktober 2021.

 

Baca : Begini Alasan Digesernya Hari Libur Maulid Nabi

3. Libur Cuti Bersama dalam Perayaan Hari Natal 2021 pada 24 Desember 2021 ditiadakan.

Merespon keputusan itu, Ketua MUI Bdang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis menyampaikan, dengan menggeser hari libur keagamaan demi membatasi mobilitas warga itu merupakan hal yang tidak relevan.

Cholil juga menegaskan bahwa seharusnya hari libur mengikuti hari besar keagamaan dan bukan malah sebaliknya.

Pihak Kementerian Agama turut memberi tanggapan. Kemenag menekankan bahwa pergeseran tersebut semata-mata untuk melindungi masyarakat dari paparan covid-19.

Stafsus Menteri Agama, Ishfah Abidal Aziz atau pria yang akrab disebut dengan Gus Alek ini menekankan bahwa pemerintah sebenarnya tidak menggeser perayaan keagamaan, melainkan hanya menggeser hari liburnya saja.

"Perayaan keagamaan tetap dirayakan di tanggal yang sama," sebutnya.

Pada dasarnya tindakan pemerintah dalam menggeser hari libur keagamaan ialah bentuk upaya pemerintah dalam menekan tingkat lonjakan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Dikhawatirkan, jika hari libur hanya terdapat jeda satu hari dari tanggal merah sebelumnya, orang-orang akan memaksakan libur di hari kerja yang terjepit itu, yang pada akhirnya dapat pergi keluar kota untuk berlibur dan menyebabkan padatnya kerumunan tempat wisata.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini