Burik Tasik

Selasa, 19 Oktober 2021 19:20 Redaksi Opini

Burik Tasik

 

Pagi yang asyik di Tasik, koyak seketika lantaran berita. Sik sik sik.

Saat sedang santai berselancar di media sosial sambil menghisap kretek sisa semalam, tiba-tiba di beranda lewat kabar yang tidak dibutuhkan tapi penasaran bila tidak dibaca.

Kaki yang semula disilangkan di atas kursi kayu, sontak diturunkan menginjak keramik yang cukup dingin. Tak ketinggalan, punggung dibungkukkan agar mata lebih akrab dengan tulisan. Meski umur masih terbilang muda, tapi mata sepertinya sudah lebih dulu memasuki masa tua.

Berita itu tentang ladang ganja di Tasikmalaya.

Apa?

Selama ini, dalam otak sudah terpatri kalau ladang ganja itu identik dengan Aceh. Jika ada berita soal pengungkapan dan pembakaran ladang ganja di sana, itu sudah biasa.

Tapi kali ini berbeda. Tanaman memabukkan itu ada di Tasikmalaya. Seorang warga Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, punya ladang Cannabis Sativa.

Sebelum diungkap dan ditangkap petugas, ia mengaku sudah dua kali panen dan sempat menikmati buah dari usahanya dalam bertani.

Berita seperti itu menjadi satu dari sekian banyak sisi kelam tentang Tasikmalaya. Meski sering digadang-gadang sebagai kota santri, Tasikmalaya tetap saja punya cerita hitam yang mencoreng wajah dan memalukan.

Rangkaian kasus narkoba, miras, dan judi di Tasikmalaya selalu muncul dalam berita. Mau kota atau kabupaten sama saja. Berita soal begini selalu ada.

Belum lama ini, beberapa orang meninggal dunia setelah pesta miras oplosan berbahan alkohol 70 persen.

Di sisi lain, bisnis berahi masih belum bisa dikendalikan. Malah sekarang lebih mudah lagi. Praktik liar berlendir itu bisa diakses melalui aplikasi.

Duduklah di salah satu sudut kota, lalu lakukan pencarian teman terdekat, dan hasilnya bakal berjejer aneka jenis penawaran open BO dengan beragam kelasnya.

Di dalamnya lengkap dengan jarak lokasi hingga tempat eksekusi. Bisa di mana saja. Tinggal sesuaikan dengan duit yang ada. Pun bila butuh pasangan sejenis, di dalamnya tersedia pula.

Wajar bila angka penderita HIV/AIDS di sini termasuk tinggi. Apa itu tidak gila?

Sama seperti gilanya sekelompok remaja yang tergabung dalam geng motor. Ulah mereka kerap membuat takut pengendara lain. Di jalan ugal-ugalan sambil pamer senjata tajam. Kalau sedang apes, mereka ditangkap polisi.

Tapi, penangkapan seperti itu tidak menyurutkan gerombolan geng motor untuk beraksi. Sampai sekarang masih saja ada warga yang mengeluh di media sosial tentang polah menakutkan mereka.

Ada banyak berita buruk yang membuat Tasik tampak burik. Dari narkoba sampai geng motor. Dari praktik asusila sampai koruptor.

Terkadang muncul pertanyaan iseng: pantaskah disebut kota santri?

 

Baca : Catatan Redaksi 


Berita Terkait