Dugaan Korupsi Lahan Makam Covid-19 di Cimahi; Seperti Jeruk Makan Jeruk

Rabu, 20 Oktober 2021 07:35 Redaksi Daerah

Dugaan Korupsi Lahan Makam Covid-19 di Cimahi; Seperti Jeruk Makan Jeruk

 

Koropak.co.id - Kasus dugaan korupsi yang terkait dengan penanganan Covid-19 terjadi di Cimahi. Kali ini, modusnya seperti jeruk makan jeruk.

Lahan pemakaman yang diduga miliknya Pemkot Cimahi dan dijual kembali ke Pemkot Cimahi. Belinya pakai duit APBD. Kalau begitu mah, yah negara rugi.

Dugaan korupsi dengan kasus tersebut menjerat seorang oknum pegawai negeri sipil (PNS) di Pemkot Cimahi, seorang mantan pejabat Pemkot Cimahi yang sudah pensiun dan seorang pemilik lahan.

Informasi yang dihimpun Koropak, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Cimahi sudah menetapkan AK, seorang oknum PNS Cimahi sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan lahan pemakaman untuk korban Covid-19.

Selain Ak, masih ada dua lagi, yakni YT dan AJ. Ketiganya terjerat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Ketiganya berada dalam kasus pengadaan lahan pemakaman yang terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lebaksaat Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara. Lahan itu, dijual kepada Pemkot Cimahi. Padahal sebetulnya, lahan itu adalah punya Pemkot juga.

Punya Pemkot dan dijual ke Pemkot oleh oknum. Bagaimana bisa?

 

Baca : PPKM Covid-19, Kota Cimahi Memasuki Zona Kuning

 

Dugaannya begini. Si oknum PNS ini mengetahui celah permainan. Ada kekurangan dari sistem administrasi yang ada dalam Pemkot Cimahi. Semacam catat mencatat dan inventarisasi.

Jalan rencana makin mulus. Karena hadir dua orang mitra kolaborasi, seorang mantan pejabat yang sudah pensiun dan seorang lagi sebagai pemilik lahan. Malahan, si pemilik lahan ini yang menikmati duit sekitar setengah miliar.

Singkatnya. Pemkot Cimahi itu punya aset lahan, bersumber dari hasil dari penyerahan kewajiban pengembang perumahan, luasnya 800 meter persegi.

Nah, celah permainan si ASN di sini. Lahan yang merupakan peneyrahan pengembang itu ternyata belum disertifikatkan atas nama pihak Pemkot Cimahi.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Cimahi Feby Gumilang mengungkapkan, tersangka yang ditetapkan berinisial AK.

AK diduga berperan dalam jual beli lahan milik Pemkot tersebut. Milik Pemkot dan dijual kembali kepada Pemkot.

"Setelah dilakukan penyelidikan sejak awal tahun 2021, penyidik Kejari Cimahi menemukan adanya kejanggalan dari proses pengadaan tanah yang diperuntukan untuk makam warga yang terpapar Covid-19 itu," katanya kepada awak media, Jumat 15 Oktober 2021.

 

Baca : Ketahui Seputar Covid-19 di Cimahi dengan Kunjungi Laman Ini

 

Febi mengungkapkan, sebelum awal tahun 2021, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi pada tahun anggaran 2020, mencari lahan tanah pemakaman untuk masyarakat Cimahi yang merupakan korban Covid-19.

Anggaran yang disiapkan pemerintah sebesar Rp 569.520.000. Dan pada saat itu tanah yang dibutuhkan seluas 791 meter persegi.

Dalam proses pengadaan lahan tersebut, pihaknya mulai mengendus ada kejanggalan. Pada awal tahun 2021 mulai melakukan penyelidikan.

Beberapa tanda kejanggalan saat itu, di antaranya adalah lahan seluas 791 meter persegi diklaim oleh YT dengan dasar akta jual beli.

Nah, AJ sendiri rupanya mantan pejabat juga. Ia sudah purna tugas, pernah bertugas sebagai Sekretaris pada DPKP Kota Cimahi dan AK sendiri saat itu menjabat Kepala Sub Bagian (Kasubag) Umum dan Kepegawaian DPKP Kota Cimahi.

Jadi, dugaan kesalahan dari kolaborasi AK dan AJ adalah mereka tidak melakukan pencatatan ressmi.

"Secara Yuridis, tidak melakukan inventarisasi dan identifikasi," katanya.

AJ sudah pensiun, sementara AK masih menjabat. Muncullah mitra koalisi lagi, terduga berinisial YT, tugas dia adalah sebagai pemilik lahan.

"AK dan AJ yang terlibat dalam pengadaan tanah, yang diperjual belikan tersebut masih milik Pemkot," tambahnya. "Setelah pengadaan tanah dilakukan dan uang yang bersumber dari APBD Cimahi, lalu dibayarkan kepada YT."

Berdasarkan penyelidikan pihaknya, terungkaplah fakta bahwa tanah yang dibeli itu ternyata masih milik Pemkot Cimahi.

Berasal dari penyerahan kewajiban pengembang perumahan yakni seluas 800 meter persegi yang belum disertifikatkan oleh pihak Pemkot Cimahi.

Kejari sudah menghitung kerugian negara. Uang pembelian lahan tersebut sebesar Rp 569.520.000 dan telah dinikmati oleh YT.
Lantas, apakah AJ dan AK ikut menikmati juga duit itu? Kejari masih mendalami penyelidikannya.

Sekarang, YT, AK dan AJ sudah menjadi tersangka. Pihak Kejari Cimahi akan melakukan penahanan terhadap ketiganya, di Rutan Kebon Waru jalan Jakarta Bandung, selama 20 hari ke depan.

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Berita Terkait