Hey, Apa Dosa Yana Sampai Dihujat se-Indonesia?

Senin, 22 November 2021 09:16 Redaksi Opini

Hey, Apa Dosa Yana Sampai Dihujat se-Indonesia?

 

Hilang mendiang Vanessa Angel, muncul Yana. Beberapa pekan sebelumnya nama mendiang Vanessa dan suaminya menjadi bahan pembicaraan, kini berganti orang. Dia adalah Yana. Ya, Yana Supriatna.

Warga Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu pasti kaget bukan kepalang. Saya tak bisa membayangkan bagaimana otaknya harus mencerna kenyataan yang tak pernah dibayangkan; terkenal dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Yana "digoreng" banyak orang yang terpengaruh pemberitaan. Ia diserang netizen. Ada yang berkomentar serius, dan tak sedikit yang menjadikannya bahan guyonan. Apa salah dia? Apakah karena dikabarkan hilang misterius di Jalan Bandung-Cirebon, tepatnya di kawasan Cadas Pangeran, pada Selasa 16 November 2021 malam, lantas dia jadi tersangka?

Saya terkekeh dengan semua kehebohan ini. Bukan merasa lucu dengan berbagai video, meme, dan artikel yang mencari panggung atas nama Yana. Mereka semua, bagi saya, sama sekali tidak lucu.

Kisah Yana berawal dari laporan keluarga kepada aparat. Yana dilaporkan hilang. Itu diperkuat dengan sepeda motornya yang teronggok di pinggir jalan. Sampai sini tidak ada yang luar biasa. Sebagai warga, wajar bila keluarga meminta bantuan negara untuk mencari Yana.

Namun, masalah menjadi besar atau lebih tepatnya dibesar-besarkan media massa. Pemberitaannya sampai dibumbui hal-hal mistis. Di sinilah masalah mulai besar. Padahal, keluarga yang melaporkan kehilangan Yana adalah hal yang sangat biasa. Sekali lagi, wajar bila keluarga meminta bantuan aparat untuk mencari Yana. Mengapa pula Yana harus dihakimi, bahkan dikorek latar belakang kehidupan pribadinya, hingga urusan asmara dengan istri muda?

Pergi sejenak dari rutinitas dan penatnya kehidupan adalah hal wajar. Kita semua pernah dan sering melakukannya dengan beragam cara. Masih mending Yana menyimpan motor di daerah Cadas Pangeran. Di luar sana, tidak sedikit yang melepas penatnya masalah hidup dengan memarkirkan kendaraan beberapa hari di hotel, di tempat karaoke, atau panti pijat. Yana masih mending. Bila cara yang dipilihnya seperti itu, ya itu hak dia.

Lalu, keluarga yang melapor, salahnya di mana? Lagi-lagi sekali lagi, itu adalah hal yang sangat wajar. Meminta perlindungan pada negara adalah keyakinan keluarga Yana kalau negara itu masih ada.

Lantas, dari mana cerita Yana jadi masalah besar? Seperti diulas di atas, masalah menjadi besar atau lebih tepatnya dibesar-besarkan media massa. Laporan kehilangan Yana jadi bahan berita.

Wartawan dapat info dari aparat, lalu memberitakannya. Nah lho, jadi siapa yang salah; wartawan atau aparat? Kalau merunut pada kronologi, aparat yang menjadi biang kerok masalah Yana menjadi heboh. Ini semua tidak akan terjadi jika saja mereka tidak "centil".

Syahdan, datanglah berbondong-bondong netizen yang maha benar. Semakin riuhlah keadaan. Mang Yana kian disudutkan. Dituding macam-macam. Disebut nge-prank. Jadi bahan tertawaan.

Selamat panen pahala buat Mang Yana yang digibah jutaan orang. Mang Yana mah bisa jadi hanya sekali berbuat dosa, tapi mereka yang merasa diri tanpa cela, berulang kali menanam dosa karena tanpa henti menejelek-jelekkan mamang. Wilujeng, Mang.

 

Baca : Catatan Redaksi


Berita Terkait