Ketika Masjid, Gereja, dan Pura Berdiri Kokoh di Pelataran Balai Desa

Senin, 22 November 2021 19:05 Redaksi Nasional

Ketika Masjid, Gereja, dan Pura Berdiri Kokoh di Pelataran Balai Desa

 

Koropak.co.id - Kabar ini sangat menarik. Memperlihatkan harmoni dan toleransi.

Tanpa banyak berkata-kata tentang teori, warga di desa ini membuktikan bahwa visi kebhinekaan bisa diamalkan. Pancasila menjadi rujukan mereka membangun kehidupan yang harmonis penuh kedamaian.

Lihatlah ini. Masjid, gereja, dan pura berdiri berdampingan. Ketiga tempat ibadah itu ada di pelataran balai desa. Letaknya ada di sebuah desa yang ada di kaki Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

"Ini menjadi bukti bahwa di Ngargoyoso sangat harmonis sekali kehidupan masyarakatnya walau berbeda keyakinan yang dianut," kata Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Karanganyar, Ahmad Hudaya, dikutip Koropak dari laman InfoPublik.id, pada Senin 22 November 2021.

Di Ngargoyoso, potret toleransi itu tak hanya diwujudkan dalam simbol bangunan. Di desa ini komunikasi antar umat beragama juga berjalan dengan baik. Jika ada perayaan agama, masing-masing penganut agama saling membantu.

Di desa ini, antar pemeluknya hidup rukun dan damai. Sejak Februari 2019 lalu, desa ini dicanangkan sebagai desa sadar kerukunan.

Desa Ngargoyoso, termasuk salah satu desa yang mendapat binaan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Imparsial dan Pusat Studi Agama dan Perdamaian (PSAP) Surakarta.

Agar kerukunan semakin terwujud, lembaga ini membuat suatu wadah lintas agama untuk berbagai kalangan.

Untuk kalangan muda dibentuk Komunitas Rotan, ibu-ibu membuat Sekar Ayu, dan bapak-bapak membuat janur Lawu.

Puncaknya, pada April 2021 lalu, mereka menyelenggarakan Festival Toleransi Ngargoyoso dengan tema "Mengangkat Kearifan Lokal, Merawat Keberagaman."

 

Baca : Hormati Perbedaan, Ciptakan Persaudaraan

 

Menurut Ketua Panitia, Suwandi, pembentukan komunitas lintas iman sebagai upaya konkret meningkatkan kesadaran hidup berdampingan dengan toleransi.

“Kami menggunakan kearifan lokal sebagai modal sosial membangun kerukunan,” kata Suwandi.

Camat Ngargoyoso, Dwi Cahyono menyambut gembira potret rukun dan damai di wilayahnya itu.

Kata dia, kerukunan antar umat beragama perlu dijunjung tinggi agar terwujud perdamaian.

"Sebab, perselisihan antarumat beragama bisa berdampak lebih berbahaya dibandingkan dengan Covid-19," ujar dia.

Menurut Direktur Imparsial, Gufron Mabruri, menyebut Ngargoyoso merupakan miniatur Indonesia karena adanya keragaman di salah satu kecamatan di Karanganyar ini.

Melalui Festival Toleransi Ngargoyoso ini ia berharap bisa memperkuat semangat nilai toleransi, kerukunan, dan perdamaian di Ngargoyoso.

“Tantangan kita di era digital adalah hoaks, ujaran kebencian, radikalisme," ujar dia.

Tentang tiga rumah ibadah yang tadi di sebutkan, ternyata ketiganya dibangun menggunakan kas desa. Dan itu sudah berdiri sejak belasan tahun silam. Pelopornya adalah Kepala Desa Ngargoyoso, Sri Hartono.

Pembangunan tempat ibadah secara berdampingan itu untuk menunjukkan kepada masyarakat desa dan luar desa bahwa masyarakat di sana hidup guyub rukun. Tak pernah ada gesekan masalah keyakinan. Toleransi mereka bangun dengan baik.

Potret desa ini layak diangkat untuk memperingati hari toleransi sedunia, yang biasa diperingati setiap tanggal 16 November. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa toleransi dan tenggang rasa di kalangan masyarakat dunia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Berita Terkait