Mengenal Lebih Dekat Masjid Agung Tasikmalaya

Sabtu, 27 November 2021 16:22 Eris Kuswara Daerah

Mengenal Lebih Dekat Masjid Agung Tasikmalaya

 

Koropak.co.id - Salah satu julukan untuk Kota Tasikmalaya adalah Kota Santri. Dan, keberadaan Masjid Agung Tasikmalaya menjadi bagian tak terpisahkan dari ikon kota ini.

Masjid Agung Tasikmalaya merupakan masjid megah, mewah nan luas. Berada tepat ditengah-tengah jantung kota. Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 meter persegi dengan luas bangunan 2.456 meter persegi tersebut menjadi saksi dari perjalanan sejarah Tasikmalaya.

Dihimpun dari berbagai sumber, Masjid Agung Tasikmalaya pertama kali dibangun pada tahun 1886 dan diresmikan pada tahun 1888. Sejak awal dibangun itu, luas tanahnya 6.000 meter persegi.

Kala itu, pengelolaan masjid ini pertama kalinya diserahkan kepada Raden Haji Abubakar yang juga pada masa itu masih merupakan keturunan dari pemerintahan Sumedang Larang.

Masjid Agung Tasikmalaya sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama terjadi pada tahun 1923 atau tepatnya pada masa kepemimpinan Bupati Raden Adipati Wiratanuningrat. Saat itu, masjid tersebut mengalami renovasi dan diperluas.

Masjid yang terletak ditengah-tengah persimpangan antara Jalan HZ Mustofa, Jalan dr. Soekarjo, Jalan Yudanegara dan Jalan Otto Iskandar Dinata itu mengalami renovasi keduanya pada tahun 1939 pada masa Bupati RTA Wiradiputra. Setelah itu, masjid juga mengalami renovasi ketiga kalinya yang dilakukan berkisar pada tahun 1970-an atau pada saat kepemimpinan Bupati Husein Wangsaatmadja.

Namun pada waktu itu, bentuk masjid masih seperti aslinya dan belum berubah seperti saat ini. Kemudian sekitar tahun 1982 sampai dengan tahun 1987 renovasi kembali dilakukan. Renovasi di tahun tersebut, mulai mengubah bentuk awal masjid.
Bentuk awal Masjid Agung Tasikmalaya sangat mirip dengan Masjid Demak. Lalu kemudian, berubah konsep menjadi mirip seperti masjid Madinah di Makkah. Perubahan pada masa itu dilakukan Bupati dari Tasikmalaya, Hudli.

Renovasi terakhir terjadi di era reformasi. Tepatnya tahun 2002, konsep masjid seperti yang terlihat saat ini. Pemerintahan pada waktu itu berada dibawah kepemimpinan Bupati Suryana WH, dan total pengeluaran dana pada renovasi masjid sebesar Rp7,9 Miliar. Pada saat itu, peresmian kembali Masjid Agung Kota Tasikmalaya dilakukan oleh Wakil Presiden Hamzah Haz.

 

Baca : Ketahui 6 Masjid Tertua di Indonesia, Ada yang Berdiri Sejak 1288

Di samping mengandung nilai estetika, detail dari arsitektur masjid ini juga menekankan pada makna filosofis Islam. Lima buah atap yang ada di masjid tersebut mencerminkan kewajiban bagi kita untuk salat lima waktu dan lima perkara pada rukun Islam.

Sedangkan empat menaranya bermakna empat ilmu yakni ilmu bahasa Arab, syariat, sejarah dan filsafat. Selain itu, tiga bagian menara masjid juga mencerminkan tingkat kesempurnaan seorang muslim, yakni iman, Islam, dan ihsan. Menara dengan ketinggian 33 meter itu menyimbolkan jumlah zikir kepada Sang Pencipta dalam bentuk tasbih, tahmid, dan takbir.

Mempunyai fungsi sosial untuk masyarakat sekitar, membuat rumah ibadah ini di pusat Kota Tasikmalaya ini dilengkapi dengan taman yang rindang dan asri sehingga menjadikan masjid tersebut lebih teduh. Di salah satu bagian taman juga terdapat pendopo tempat meletakkan sebuah beduk.

Beduk tersebut tercatat sempat meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai beduk terbesar di Indonesia. Pada tahun 2006, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Tasikmalaya meraih penghargaan juara umum se-Jawa Barat karena dinilai berhasil memberdayakan umatnya melalui berbagai kegiatan sosial dan ekonomi, salah satunya adalah dengan mendirikan koperasi.*

DKM Masjid Agung Tasikmalaya memang dikenal sangat aktif memanfaatkan masjid sebagai pusat pendidikan dan syiar Islam. Bukan melulu ritual ibadah saja, sejumlah kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat juga dilakukan DKM.

Selain menjadi salah satu ikon untuk Kota Tasikmalaya, Masjid Agung Tasikmalaya juga menjadi pusat diadakannya berbagai kegiatan besar keagamaan Islam. Selain itu, beragam kegiatan syiar, ekonomi dan berbagai aktivitas dakwah dilaksanakan di masjid ini.

Letaknya yang sangat strategis di pinggir jalan protokol pusat kota, ditambah dengan aksen warna kuning emas pada atap dan empat menara yang mirip dengan menara Masjidil Haram membuat masjid ini menjadi pusat perhatian banyak orang.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait