Cak Nun, Budayawan Asal Jombang yang Progresif

Kamis, 02 Desember 2021 14:55 Eris Kuswara Nasional

Cak Nun, Budayawan Asal Jombang yang Progresif

 

Koropak.co.id - Budayawan sekaligus sastrawan yang akrab disapa Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib dikenal dengan pemikirannya yang progresif. Pandangan dan karya-karya sastranya telah tersebar dan dikenal secara luas oleh masyarakat.

Melalui karya-karyanya itu, pemiliki nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib memiliki penyampaian yang berbeda untuk menyampaikan keresahan hatinya mengenai masalah sosial dan keagamaan.

Tulisannya yang diciptakannya juga banyak menginspirasi penggemarnya. Latar belakangnya sebagai seorang budayawan dan pendakwah itu menjadikan keberadaan Cak Nun sebagai tokoh penting dalam berbagai acara.

Dalam berbagai acara, terutama acara-acara keagamaan dan kebudayaan, Cak Nun pun sering memberikan pandangan keagamaan, sosial, dan kebudayaan melalui dialog-dialog yang dilakukannya.

Dikarenakan latar belakang yang dimilikinya adalah sebagai seorang pendakwah yang mana Cak Nun juga sempat mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, menjadikannya lebih dikenal sebagai tokoh keagamaan.

Sebagai seorang yang aktif dalam menyampaikan kajian-kajian keagamaan dan kebudayaan, pria kelahiran Menturo Sumobito Jombang Jawa Timur pada 27 Mei 1953 itu dikenal sebagai seorang sastrawan.

Tulisan sastrawinya banyak terdapat dalam karya-karya Cak Nun. Kalimatnya sering dijadikan konten dalam berbagai media.

Dilansir dari gramedia.com, pengalaman hidup yang dilalui Cak Nun juga membuatnya memilih untuk mengandalkan hidupnya sendiri hingga pada akhirnya dia terkenal sebagai seorang tokoh intelektual muslim di Indonesia.

Diketahui, Cak Nun dikenal melalui kritik-kritikan yang dibuatnya dalam berbagai bentuk, seperti pada puisi, esai, cerpen, film, drama, lagu, musik, seminar, hingga tayangan video.

Salah satu bentuk karyanya diciptakan sebagai bentuk kegelisahan Cak Nun dengan adanya pelarangan jilbab oleh pemerintah Orde Baru yang sensitif dikarenakan adanya penampakan ekspresi keislaman.

 

Baca : Bambang Aryana dan Hj Momoh Patimah Raih Anugerah Budaya Kota Tasikmalaya

Sehingga pada tahun 1982, pemerintah Orde Baru pun melarang pemakaiannya di sekolah negeri. Dari keresahannya tersebut, Cak Nun pun menuangkannya dalam sebuah karya berupa puisi yang berjudul 'Lautan Jilbab'.

Sementara itu, kegemaran Cak Nun di bidang teater juga mengantarkan dirinya mengenal sosok Neneng Suryaningsih yang merupakan seorang penari asal Lampung hingga dirinya dan Neneng kemudian menikah.

Pada tahun 1979, keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sabrang Mowo Damar Panuluh dan merupakan personil dari grup band Letto.

Sayangnya usia pernikahannya dengan Neneng tidak bertahan lama hingga keduanya memutuskan untuk bercerai.

Setelah keduanya berpisah, pada tahun 1995 Cak Nun menikah kembali dengan seorang seniman film, panggung, dan penyanyi yang bernama Novia Kolopaking.

 

 

Pernikahannya dengan Novia pun dikaruniai empat orang anak yaitu Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha dan Ainayya Al-Fatihah yang meninggal saat masih dalam kandungan.

Kiprahnya dalam dunia penulisan ternyata sudah dimulai sejak akhir tahun 1969 saat dirinya masih berusia 16 tahun. Dimana saat itu Cak Nun meninggalkan pendidikan pesantrennya dan melanjutkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta.

Selanjutnya pada tahun 1975, karya-karyanya pun telah dibukukan dalam berbagai jenis karya sastra seperti puisi, cerpen, naskah drama, esai, quotes, transkrip, hingga wawancara.

Selain itu, karya-karya Cak Nun juga banyak terbit dan tersebar di majalah Tempo, Basis, Horison, Tifa Sastra, Mimbar, Pandji Masjarakat, Budaja Djaja, Dewan Sastera (Malaysia) dan Zaman.

Tak hanya di majalah, karyanya juga turut terbit sebagai rubrik kolom dan tersebar di surat kabar seperti di Republika, Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Masa Kini, Berita Yudha, Haluan, Suara Karya, Suara Pembaruan, dan Surabaya Post.

 

Baca : Wali Kota Yusuf Ajak Seniman Terus Berkreasi

Sementara itu, konsistensinya dalam berkiprah di dunia sastra dimulainya sejak dirinya masih muda yang dimana saat itu dia bergabung dengan kelompok diskusi dan studi sastra pada tahun 1970 yang dipimpin oleh Umbu Landu Paranggi, Persada Studi Klub (PSK) di bawah Mingguan Pelopor Yogyakarta.

Pada tahun 1975, Cak Nun pernah mengikuti sebuah Festival Puisi di Jakarta dan diundang dalam Festival Puisi Asean pada tahun 1978.

Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina pada tahun 1980, International Writing Program di Lowa University Amerika Serikat pada tahun 1984.

Kiprah lainnya, dia menjadi pengisi dalam kegiatan Festival Penyair Internasional di Rotterdam Belanda pada tahun 1984, Festival Horizonte >III di Berlin, Jerman pada tahun 1985, dan berbagai pertemuan sastra dan kebudayaan sejenis lainnya.

Selain dalam bidang penulisan, Cak Nun juga berperan aktif dalam kehidupan multi kesenian di Yogyakarta. Cak Nun sendiri pernah berkecimpung di dunia teater bersama Halim HD yang kini menjadi networker kesenian melalui Sanggarbambu, dan aktif dalam Teater Dinasti.

Tak hanya itu saja, Cak Nun juga turut mementaskan teaternya kembali dengan judul Lautan Jilbab pada tahun 1990 yang mana dipentaskan secara massal di Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar.

Dia juga menggelar pentas lainnya yang berjudul Kiai Sableng dan Baginda Faruq pada tahun 1993, Perahu Retak pada tahun 1992 mengenai Indonesia pada zaman Orde Baru yang digambarkan melalui situasi konflik Pra-Kerajaan Mataram. Dalam naskah teaternya ini dijadikan buku dan diterbitkan oleh Graha Pustaka.

Tak berhenti di ranah tulis menulis dan teater, Cak Nun turut mengembangkan bakatnya ke ranah musik dengan berkolaborasi bersama kelompok musik Gamelan Kyai Kanjeng dan menghasilkan album perdananya bertajuk Kado Muhammad yang rilis pada tahun 1995 dengan lagu andalan Tombo Ati.

Cak Nun juga turut membuat sebuah wadah untuk menampung permintaan dialog dan diskusi dari masyarakat yang diberi nama Pengajian Padhang Mbulan yang diadakan setiap bulan di kampung halamannya.

Berperan aktif dalam segala hal, baik menjadi seorang pembicara dan narasumber di berbagai acara, membuat Cak Nun banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Dari kegiatannya tersebut, Cak Nun juga selalu ditemani oleh kelompok music Gamelan Kyai Kanjeng. Tak hanya itu saja, Cak Nun juga turut menyampaikan kajian islami di acara lainnya.

Salah satunya adalah kajian Maiyah. Ini merupakan forum yang sudah berlangsung cukup lama yang dibina langsung oleh Cak Nun dan diikuti banyak jemaah di seluruh Indonesia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait