Cerita VOC Membangun Heerenstraat untuk Petinggi Kompeni

Kamis, 02 Desember 2021 20:34 Eris Kuswara Nasional

Cerita VOC Membangun Heerenstraat untuk Petinggi Kompeni

 

Koropak.co.id - Selain membangun pemukiman Eropa, di bumi nusantara kongsi dagang Belanda atau yang lebih dikenal Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC) membangun Heerenstraat (jalan bagi tuan besar) di beberapa wilayah seperti di Surabaya, Rembang dan Pasuruan.

Heerenstraat sendiri merupakan jalan utama berhias rumah-rumah pejabat tinggi VOC dan jalan tersebut juga bukanlah jalan tanah biasa, melainkan sebuah jalan berlapis batu.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya "Kota Di Djawa Tempoe Doeloe" menuliskan, pada tahun 1617, VOC membangun sebuah loge atau benteng di Surabaya, namun mereka tinggalkan saat perang dengan Mataram yang terjadi pada tahun 1628.

"Akan tetapi pada tahun 1646, Mataram mengizinkan VOC untuk membuka pos perdagangannya kembali. Berselang beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada 1678, kongsi dagang Belanda itu pun membangun sebuah benteng tepat di lokasi yang saat ini dikenal dengan nama Jembatan Merah Plaza," tulis Olivier.

Diketahui, perluasan pemukiman VOC sendiri mulai berlangsung setelah pembangunan benteng pada tahun 1678. Sementara itu, pada tahun 1743, VOC secara resmi menguasai Surabaya dan penguasaan tersebut tertuang dalam perjanjiannya dengan Mataram.

Di sebelah selatan benteng itu pun dibangun kawasan dengan bangunan dan perumahan untuk pegawai Eropa serta sebuah jalan utama Heerenstraat yang menjadi domisili bagi para petinggi VOC kala itu.

Selain itu, rumah di sepanjang jalan tersebut juga dibangun menghadap ke kali ditengah jalan layaknya seperti di Belanda.

Namun pada akhir abad ke-18 kali yang ada disana ditutup, sehingga jalan pun akhirnya menjadi lebar. Setelah Indonesia merdeka, Heerenstraat pun pada akhirnya berganti nama menjadi Jalan Rajawali.

 

 

Baca : Tiba di Nusantara, VOC Dirikan Pemukiman Eropa Hingga Balai Kota

Tercatat sejak VOC bermarkas di Rembang pada tahun 1678, mereka membangun sebuah benteng di lokasi yang saat ini merupakan kantor DPRD. Namun pada tahun 1741, benteng tersebut dihancurkan menyusul adanya pemberontakan Sino-Mataram kepada VOC.

Meskipun begitu, benteng tersebut kemudian dibangun kembali dengan pemukiman disekitarnya untuk bangunan kompeni serta perumahan untuk pegawai Eropa dan juga Heerenstraat sebagai jalan utama bagi para tuan besar yang juga merupakan tempat domisili para petinggi kompeni.

Heerenstraat sendiri merupakan bagian dari Groote Postweg atau jalan raya trans Jawa yang dibangun pada tahun 1809 dibawah kepemimpinan pemerintahan Marsekal Daendels. Akibatnya, orang Rembang pun menyebutnya dengan Jalan Daendels meski telah berubah nama.

Pada abad ke-19, tembok benteng tersebut dibongkar dan bangunan dalam benteng itu pun menjadi rumah residen. Selain itu, setelah kemerdekaan Indonesia, Heerenstraat berganti nama menjadi Jalan Diponegoro.

Sementara itu di Pasuruan, VOC mendirikan sebuah pos perdagangan untuk gula dan nila pada tahun 1707. Selain itu, di dekat pedalaman kota pelabuhan itu turut dibangun sebuah benteng dan di sebelah selatannya sebuah kawasan pegawai Eropa.

Sama halnya seperti di Surabaya dan Rembang, di Pasuruan juga turut dibangna Heerenstraat untuk para petinggi kompeni. Akan tetapi kini Heerenstraat tersebut terbagi menjadi dua yakni menjadi Jalan Balai Kota dan Jalan Pahlawan Pasuruan.

Tercatat hingga akhir zaman Belanda, semua rumah petinggi dan bangunan penting lainnya didirikan di sepanjang Heerenstraat meliputi rumah dinas residen, berbagai hotel, sekolah dan gereja.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini