VOC Dirikan Gereja Hingga Pemakaman Eropa di Nusantara

Jum'at, 03 Desember 2021 18:29 Eris Kuswara Nasional

VOC Dirikan Gereja Hingga Pemakaman Eropa di Nusantara

 

Koropak.co.id - Selain membangun balai kota hingga rumah-rumah untuk pejabat tinggi dan pegawai Eropa serta Heerenstraat, di pemukiman kompeni Belanda itu juga Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC) turut mendirikan gereja hingga pemakaman Eropa.

Tercatat pada tahun 1678, Kerajaan Mataram dan VOC membuat perjanjian bahwa wilayah Semarang diserahkan kepada VOC sebagai pembayaran utang dikarenakan saat itu kompeni berhasil membantu Mataram dalam menumpas pemberontakan Trunojoyo.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya 'Kota Di Djawa Tempoe Doeloe' menuliskan, setelah jatuh di tangan VOC, mereka pun kemudian mendirikan sebuah pos VOC di tepi kali Semarang yang tumbuh besar menjadi kota makmur.

"Karena keindahan warisan arsitekturnya yang menyerupai Belanda itulah membuat Kota Lama Semarang tersebut dijuluki sebagai Belanda Kecil," tulis Olivier.

Olivier menjelaskan, yang menarik dan menjadi ikon disana adalah berdirinya sebuah gereja Kristen Protestan yang dikenal dengan nama Gereja Blenduk (Kubah) yang diresmikan pada tahun 1794.

Diketahui, gereja tersebut juga sudah berkali-kali mengalami renovasi. Bahkan pada tahun 1894, dua menara besar dan menara kecil diatas kubah pun ditambahkan pada gereja yang kini bernama Gereja GPIB Immanuel.

Sementara itu, hingga abad ke-19 dari zaman VOC, angka mortalitas di kalangan Eropa mengalami lonjakan tinggi yang diakibatkan oleh kepadatan kota, lingkungan buruk dan wabah penyakit.

Selain itu, setiap pemukiman Belanda pastinya dilengkapi dengan lahan pemakaman yang dalam bahasa Belanda disebut dengan 'kerkhof' dan jalan dari pusat kota menuju ke pemakaman itu disebut 'kerkhofstraat'.

 

 

Baca : Tiba di Nusantara, VOC Dirikan Pemukiman Eropa Hingga Balai Kota

Seiring berjalannya waktu, kota di pemukiman itu diperluas, kuburan dipindahkan hingga tepian kerkhofstraat pun dipenuhi dengan bangunan. Setelah Indonesia Merdeka, Kerkhofstraat di Semarang pun berganti nama menjadi Jalan Gelatik.

Meskipun begitu, hingga saat ini di beberapa kota lain seperti di Magelang dan Cimahi juga masih dapat ditemui 'Jalan Kerkhof'. Pada zaman Hindia Belanda atau tepatnya pada abad ke-19, factorij digunakan untuk menyebut sebuah kantor daerah Nederlandsche Handelsmaatschappij (NHM) atau perusahaan Perdagangan Belanda.

Pendirian NHM sendiri dilakukan pada tahun 1824 di Belanda. Pendiriannya juga dianggap sebagai upaya dalam menghidupkan kembali kegiatan VOC dengan mendorong perdagangan Hindia Belanda yang terhenti saat terjadinya peperangan era Napoleon I (1799-1813).

NHM juga seringkali disebut sebagai Kompeni Kecil dan perusahaan swasta ini diketahui membuka kantor di banyak kota pelabuhan di Kepulauan Nusantara, salah satunya di Cirebon.

Pada tahun 1830-1870 di Hindia Belanda itu diberlakukan sistem tanam paksa dengan memaksa para rakyat pribumi untuk menanam tanaman tertentu sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial.

Namun setelah tahun 1870, aktivitas NHM dipindahkan ke bidang perbankan dan pada tahun 1960-an, bagian Indonesia dari NHM pun dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno.

Bangunannya pun saat itu dirobohkan dan diganti dengan gedung baru yang saat ini menjadi kantor Bank Mandiri. Menariknya lagi, di Bandung ternyata ada sebuah jalan lama bernama 'Jalan Belakang Factory' yang erat kaitannya dengan lokasinya di belakang kantor NHM yang kini menjadi Bank Mandiri.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait