VOC Bangun Benteng Sebagai Upaya Pertahankan Kekuasaan di Bumi Nusantara

Sabtu, 04 Desember 2021 12:41 Eris Kuswara Nasional

VOC Bangun Benteng Sebagai Upaya Pertahankan Kekuasaan di Bumi Nusantara

 

Koropak.co.id - Sebagai upaya mempertahankan kekuasaannya di bumi Nusantara, kongsi dagang Belanda atau Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendirikan benteng di berbagai wilayah yang dikuasainya seperti di Tegal, Solo, Yogyakarta, Malang dan Kediri.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya "Kota Di Djawa Tempoe Doeloe" menuliskan, Tegal merupakan salah satu kota pelabuhan di Pantura dan merupakan wilayah pemasok beras, merica dan kayu, VOC membangun pos perdagangan berbenteng atau yang dikenal saat itu dengan nama Benteng Tegal pada awal tahun 1700-an.

"Pada awalnya benteng tersebut dikelilingi parit pertahanan dan bastion pada sudutnya. Namun pada akhir abad ke-19, fungsi militer itu sudah ketinggalan zaman sehingga bekas benteng pun dijadikan sebagai penjara," tulis Olivier.

Olivier menjelaskan bahwa saat itu, kehidupan para tahanan di penjara sedikit berbeda dengan tahanan saat ini. Tercatat pada awal abad ke-20, banyak sekali maling yang divonis, sehingga kapasitas penjara yang terlalu kecil membuat tidak semua tahanan bermalam di penjara.

Akibatnya sebagai tahanan diizinkan bermalam di rumahnya sendiri dengan syarat mereka harus melapor ke penjara saat jam makan. Hingga kini gedung tersebut masih berfungsi sebagai penjara dengan nama resmi Lembaga Permasyarakatan Kelas II B Tegal.

Sementara itu, sejak persekutuan VOC dengan Mataram pada tahun 1680, semua keraton memiliki bangunan benteng VOC yang berfungsi untuk melindungi dan mengawasi penguasa para susuhunan dan sultan.

Pada tahun 1745, ibu kota Mataram pun akhirnya pindah dari Kartasura menjadi ke Solo. VOC pun lantas membangun sebuah benteng yang berjarak satu tembakan meriam atau sekitar 400 meter dari keraton.

Pada awalnya benteng tersebut diberi nama 'De Grootmoedigheid (Kemurahan Hati)', akan tetapi tahun 1756 benteng itu ditahbiskan dengan nama baru 'Vastenburg (Benteng Lestari)'. Seiring berjalannya waktu, tembok dan gedung putih benteng masih tersisa.

Masih di Solo tepatnya di Jalan Sungai Barito, VOC mendiri markas yang dijuluki dengan sebutan dalam bahasa Prancis 'Loge'. Akan tetapi lidah pribumi menyebutkan markas itu dengan sebutan Loji atau yang seringkali diidentikan dengan benteng.

Kawasan perumahan untuk pegawai VOC di Solo dibangun di belakang benteng dan itu merupakan kawasan Belanda yang paling lama di solo. Selain itu, kawasan perumahan yang dikenal dengan nama 'Lojiwetan' itu memiliki letak di sebelah wetan (timur) benteng.

Sejak Yogyakarta berdiri pada tahun 1755, VOC membangun sebuah benteng di pusat kota dengan posisi yang strategis pintu yang menghadap ke jalan utama yang menuju ke keraton yaitu lanjutan Malioboro.

 

 

Baca : Cerita VOC Membangun Heerenstraat untuk Petinggi Kompeni

Tercatat sejak tahun 1765, benteng itu bernama 'Rustenberg (Benteng Tenang)'. Namun selepas Perang Jawa (1825-1830), benteng tersebut pun akhirnya menyandang nama baru yakni 'Vredeburg (Benteng Damai)'.

Benteng itu sendiri diketahui berfungsi sebagai gedung militer hingga tahun 1992. Setelah itu, benteng itu pun menjadi Benteng Budaya dan dibuka untuk umum sebagai museum.

Selain itu di Jalan Suryotomo atau yang menjadi Kawasan Belanda paling lama di Yogyakarta, VOC mendirikan benteng dan kawasan lama yang berada di belakang benteng itu disebut dengan Loji Kecil. Julukan itu sendiri dipakai untuk membedakan dengan benteng yang merupakan Loji Besar.

Kawasan Loji Kecil itu sendiri dilingkupi dua jalan utama dengan orientasi utara-selatan yakni Loji Kecil Kulon dan Loji Kecil Wetan atau yang kini menjadi bagian dari Jalan Suryotomo.

Di Malang, VOC membangun sebuah jalan yang terkenal sebagai pusat penjahit, tukang tambal sol sepatu dan jenis perniagaan lainnya yang dikenal dengan nama Klojen Lor yakni Kawasan Klojen Utara. Namun kini jalan tersebut dikenal dengan nama Jalan Patimura.

Pada tahun 1767, kompeni berhasil menaklukkan Malang yang saat itu memiliki jumlah penduduk sekitar 1.000 jiwa. Demi menjamin keamanan jalur perdagangannya, mereka pun pada akhirnya membangun sebuah benteng di lokasi strategis di tepi Sungai Brantas yang kini menjadi tapak Rumaha Sakit Dr Saiful Anwar.

Klojen sendiri juga merupakan kawasan Belanda yang pertama di Malang. Saat itu kedatangan orang Belanda mulai menghidupkan ekonomi yang menarik pribumi untuk menetap di sekitarnya.

Sama halnya dengan Pasar Klojen yang beroperasi hingga kini, di dekat Pasar Klojen itu terdapat bekas pemakaman Belanda atau yang kini menjadi kompleks ruko namun tidak laku dikarenakan konon berhantu.

Di Jalan Slamet Kediri terdapat sebuah benteng yang dikenal dengan nama Benteng Kediri. Ternyata benteng tersebut bukan merupakan benteng VOC karena dibangun pada zaman kolonial Belanda pada tahun 1834.

Benteng ini sendiri merupakan salah satu dari banyak benteng yang didirikan dalam rangka pembangunan Garis Pertahanan van den Bosch pada tahun 1830-an sebagai upaya dalam mengantisipasi terjadi pemberontakan.

Lokasi dari benteng ini juga dinilai strategis karena berdiri di tepi barat Sungai Brantas. Hasilnya, benteng ini pun bisa mengawasi kesibukan angkutan sungai dari Kediri ke hilir serta penyebrangan sungai.

Namun pada akhir abad ke-19, fungsi benteng itu sudah ketinggalan zaman, sehingga pada tahun 1890 gedung direnovasi menjadi kantor keresidenan. Kini, kompleks tersebut berfungsi sebagai kantor Polwil Kediri.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini