I Nyoman Masriadi, Seniman Bali dengan Berbagai Karya Fenomenalnya

Sabtu, 04 Desember 2021 18:38 Eris Kuswara Nasional

I Nyoman Masriadi, Seniman Bali dengan Berbagai Karya Fenomenalnya

 

Koropak.co.id - I Nyoman Masriadi merupakan seniman yang lahir tahun 1973, di Gianyar Bali dan mengenyam pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Karirnya dalam bidang seni rupa cukup mentereng dan terbilang fenomenal. Sesuatu yang fenomenal dalam kariernya adalah cerita yang terisi penuh akan kekayaan pengalaman dengan menggabungkan pemikiran yang jenius dan kreatif, kepekaan terhadap budaya dan sikap-sikap penolakannya terhadap penyesuaian diri.

Lukisan-lukisan hasil karya Nyoman Masriadi ini sering menggambarkan tokoh-tokoh manusia super yang penuh dengan narasinya.

Meskipun berakar pada sejarah budaya Indonesia, akan tetapi karya yang diciptakannya menawarkan komentar sosial yang cerdas dan sering menggigit tentang kehidupan kontemporer dan budaya populer secara global.

Melalui keahliannya dalam mengontrol cahaya, bayangan, dan volume, Masriadi menganugerahi karakter-karakter monumental dari karya-karyanya tersebut dengan kehadiran pahatan yang hampir menyerupai unsur tiga dimensi. Terkadang juga karakter yang diciptakannya ini muncul dalam peran tipikal pahlawan buku komik, koboi, tentara dan atlet.

Akan tetapi yang seringnya, mereka hanyalah pria dan wanita bertubuh kuat yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas soliter yang menunjukkan kekuatan atau momen-momen kerentanan pribadi.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, hasil karya Masriadi sendiri mulai dipamerkan pada pameran bersama dalam 'Hitam Putih + Plus – an Exhibition of Kelompok Prasidha,' di ISI, Yogyakarta pada tahun 1994.

Kemudian pada tahun 1998, karya Masriadi pun pertama kalinya dipamerkan di luar negeri pada pameran bertajuk 'Masa Kini,' di Artoteek Den Haag and Centrum Beeldende Kunst, Belanda.

Tak hanya itu saja, Masriadi juga turut menggelar pameran tunggalnya yang pertama kali dilakukan pada tahun 2008 bertajuk 'Black is My Last Weapon' yang berlangsung di Singapore Art Museum, Singapura.

 

 

Baca : Melihat Istri Wali Kota Tasikmalaya Melukis Abstrak

Sementara itu, pameran tunggal Masriadi yang lainnya adalah 'Recent Paintings' di Paul Kasmin Gallery, New York, Amerika (2011) dan Gajah Gallery, Singapura (2011) serta 'Nyoman Masriadi,' di Paul Kasmin Gallery, New York, Amerika (2016).

Nama I Nyoman Masriadi menjadi lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga dunia setelah karyanya yang bertajuk 'The Man From Bantul' terjual seharga satu juta dolar di Balai Lelang Sotheby Hong Kong pada tahun 2011.

Selain itu, Masriadi juga telah mendapat berbagai penghargaan baik di dalam maupun luar negeri.

Berbagai penghargaan yang diraihnya itu meliputi 'Best Water Colour Painting' yang diberikan oleh ISI, Yogyakarta (1994), 'Best Painting' di Dies Natalis ISI, Yogyakarta (1997) dan 'Inaugural Award Recipient recognized for significant contributions to the field of Asian contemporary art' yang diberikan oleh Asia Society, Hongkong (2013).

Dalam pameran bersama bertajuk 'What’s In Your Pockets?', kurator Nurdin Ichsan menilai bahwa karya Masriadi merupakan caranya tersendiri untuk menggambarkan kehidupan masyarakat urban.

"Saya melihat Masradi sebagai seniman yang menyukai kecenderungan figuratif. Dia juga terkadang terkesan sinis dan parodi ketika menggunakan karyanya dalam menyampaikan pendapatnya," kata Nurdin.

Pada awalnya, karya Masriadi sendiri juga dinilai cenderung datar. Namun hal tersebut berubah setelah Masriadi menampilkan dimensi-dimensi ilusif dalam lukisannya. Sehingga dengan begitu, Masriadi pun dapat menampilkan aspek ruang, jarak, dan kedalaman yang pada akhirnya menghasilkan ekspresi yang sunyi dan tenang.

Masriadi juga terkenal dengan sosok dalam lukisannya yang memperlihatkan pria bertubuh kekar itu juga merupakan representasi dari kegemaran masa kanak-kanaknya akan buku komik tentang para superhero yang mempunyai kekuatan fantastis ditambah tubuh kuat ekstra berototnya. Hingga berlanjut ke masa dewasanya sebagai tambahan untuk membuat imajinasi, termasuk kegilaannya dalam bermain video games.

"Berkesenian itu tidak hanya sekedar bakat, akan tetapi juga pergaulan yang bisa didapatkan dari sekolah seni. Dengan pergaulan itu, kita bisa masuk ke dalam lingkaran berkesenian.

Sehingga, mulai dari situlah karya dan nama kita akan dipertaruhkan, apakah nantinya terpandang atau tidak. Teman-teman di lingkaran berkesenian ini juga pastinya akan sangat membantu apapun yang kita perbuat," kata Masriadi sebagaimana dihimpun dari CNN Indonesia, Rabu 1 Desember 2021.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait